Pengamat: Pernyataan Prabowo soal Ojol Berangkat dari Keprihatinan

Minggu, 25 November 2018 | 16:41 WIB
YS
FB
Penulis: Yeremia Sukoyo | Editor: FMB
Salah satu mitra ojek online menunjukkan aspirasinya saat melakukan konvoi di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, 27 Maret 2018. Konvoi tersebut merupakan rangkaian aksi penyampaian pendapat para pengemudi mintra ojek online se-Jabodetabek di Istana Negara
Salah satu mitra ojek online menunjukkan aspirasinya saat melakukan konvoi di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, 27 Maret 2018. Konvoi tersebut merupakan rangkaian aksi penyampaian pendapat para pengemudi mintra ojek online se-Jabodetabek di Istana Negara (BeritaSatu Photo/Danung Arifin)

Jakarta - Pernyataan Prabowo Subianto terkait pekerjaan pengemudi ojek online (ojol) hanyalah ungkapan keprihatinan terkait kondisi masyarakat saat ini. Masyarakat seharusnya bisa melihat secara utuh terhadap apa yang disampaikan Prabowo.

"Setelah menyaksikan utuh pidato Prabowo di acara Indonesia Economic Forum, saya juga tidak menemukan ada yang salah dari pernyataan Prabowo terkait pekerjaan driver ojol," kata Direktur Sinergi masyarakat untuk demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin, Minggu (25/11) di Jakarta.

Menurutnya, pengemudi ojek hanyalah salah satu contoh dari sejumlah profesi lain yang dicontohkan oleh Prabowo untuk membandingkan jenis pekerjaan masyarakat yang lebih dia harapkan.

Prabowo misalnya, berkata dirinya lebih menginginkan anak Indonesia menjadi pemilik restoran daripada menjadi waiters. Keinginan tersebut merupakan keinginan dan harapan yang sesungguhnya dicita-citakan masyarakat Indonesia.

Begitu pula saat ia berharap masyarakat bisa memiliki lahan pertanian sendiri daripada menjadi coolie (buruh kasar). Semuanya adalah pernyataan komparatif tentang profesi di masyarakat yang lebih diharapkan.

"Lalu apa yang salah dari suatu keinginan atau harapan untuk menaikkan taraf hidup masyarakat? Dia bicara soal tingkat kesejahteraan masyarakat di forum yang tepat," ungkapnya.

Dengan demikian, menurutnya, tudingan bahwa Prabowo menghina atau merendahkan profesi pengemudi ojol tersebut muncul dari suatu kesalahpahaman. Semua terjadi lantaran informasi yang diterima tidak utuh dan kurang dipahami konteksnya.

"Kalau kita baca naskah visi, misi, dan program Prabowo sebagai capres, dia justru menunjukan keberpihakannya kepada para pengemudi ojol," kata Dewan Pakar Pusat Konsultasi Hukum Pemilu itu.

Dalam dokumen resmi Pilpres, Prabowo menjanjikan akan memberikan kepastian hukum pada ojol sebagai alat tranportasi umum. Bahkan jika pengemudi ojol ingin membentuk suatu organisasi, paguyuban atau serikat pekerja sekalipun, Prabowo berjanji akan memberikan jamiman hak berserikat kepada para driver.

Kemudian, hubungan kemitraan antara pengemudi ojol dengan pihak perusahaan pun dijanjikan oleh Prabowo akan diperkuat dan melalui suatu Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang adil dan berkekuatan hukum.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon