Masyarakat Baubau Terancam Perubahan Iklim

Jumat, 8 Juni 2012 | 23:08 WIB
FH
WP
Illustrasi Perubahan Iklim
Illustrasi Perubahan Iklim (Antara)
Masyarakat Baubau yang biasanya bisa membaca fenomena alam seperti musim, kini mengaku kesulitan memprediksi fenomena alam

Perubahan iklim mengancam kehidupan Masyarakat Baubau, Sulawesi Tenggara yang mengandalkan penghidupannya pada perikanan dan pertanian.

Masyarakat Baubau yang biasanya bisa membaca fenomena alam seperti musim, kini mengaku kesulitan memprediksi fenomena tersebut.

Demikian diungkapkan oleh Sudjiton, Kepala Bappedal (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan) kota Baubau, dalam pertemuan dengan organisasi sipil terkait dengan isu perubahan iklim, di Jakarta, Jumat (8/6).

“Baubau itu bergantung kepada perikanan dan pertanian, dan keduanya sangat rentan dengan perubahan iklim. Kalau terganggu, begitu pula dengan kesejahteraan masyarakat,” jelas Sudjiton.

“Untuk sosialisasi dampak perubahan iklim, kita sudah lakukan dengan membuat film Si Bolang, penyiaran melalui radio, bentuk kelompok tani dan nelayan, iklan juga di media cetak, lalu mendidik kembali para penyuluh daripada mereka tidak kerja apa-apa. Meski baru sedikit, setidaknya mereka bisa komunikasikan kepada para petani dan nelayan," tambahnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan kegiatan menanggulangi dampak perubahan iklim sudah berjalan selama dua tahun belakangan dan didanai dengan Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD).

“Ada hal yang menarik di masyarakat Baubau bahwa mereka sudah tidak bisa lagi membaca fenomena-fenomena alam. Kalau dulu bisa dilihat musim melalui bulan, sekarang mereka sudah bingung. Makanya kami berusaha tanggap dengan masalah-masalah seperti ini,” katanya menambahkan bahwa mereka menggunakan data-data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) untuk membantu para petani dan nelayan.

Ia pun menambahkan bahwa mereka mempunyai rencana untuk memasukkan penyadaran terkait perubahan iklim melalui sekolah-sekolah, namun hal tersebut masih belum maksimal dijalankan.

“Kita sebenarnya sudah bertemu dengan 20 guru untuk membicarakan perubahan iklim dimasukkan ke dalam kurikulum, tetapi  memang baru tiga kali pertemuan. Kami harapkan ke depannya bisa ditindaklanjuti karena kalau dimasukkan ke dalam pembelajaran, mungkin anak-anak tersebut bisa cerita ke orang tua mereka,” tambahnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon