LIPI: Hoax Muncul karena Peserta Pemilu Gagal Bersaing

Jumat, 4 Januari 2019 | 10:57 WIB
YP
WM
Penulis: Yustinus Patris Paat | Editor: WM
Ketua KPU Arief Budiman (tengah) bersama Komisioner Bawaslu Fritz Edward Siregar (tengah), dan sejumlah komisioner KPU tiba di Gedung Mina Bahari untuk melapor ke Bareskrim Polri di Gambir, Jakarta, 3 Januari 2018.
Ketua KPU Arief Budiman (tengah) bersama Komisioner Bawaslu Fritz Edward Siregar (tengah), dan sejumlah komisioner KPU tiba di Gedung Mina Bahari untuk melapor ke Bareskrim Polri di Gambir, Jakarta, 3 Januari 2018. (BeritaSatu Photo/Joanito De Saojoao)

Jakarta - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris menilai, marak munculnya hoax menjelang Pemilu 2019 disebabkan karena peserta Pemilu 2019 dan timnya tidak mampu bersaing secara sehat. Peserta pemilu khususnya kandidat pilpres dan timnya, kata Syamsuddin, belum mampu beradu visi-misi dan program.

"Penyebabnya karena capres atau kandidat tidak mampu bersaing secara sehat dengan cara adu visi dan program. Ini juga bisa jadi memang sebagai strategi untuk menghalalkan segala cara jika gagal bersaing secara sehat," ujar Syamsuddin, di Jakarta, Jumat (4/1).

Syamsuddin menilai, hoax sangat berbahaya terhadap proses pemilu. Menurut dia, hoax bisa merusak kepercayaan publik terhadap proses pemilu. "Dampaknya dapat merusak kepercayaan publik terhadap proses pemilu, dan pada akhirnya mendelegitimasi hasil pemilu," tandas dia.

Dia menganjurkan beberapa hal agar hoax bisa dicegah selama masa kampanye ke depan. Pertama, kata dia, pihak kepolisian harus tegas dalam menegakkan hukum termasuk penyebar hoak.

"Kedua, Bawaslu harus lebih proaktif menindak pelanggar UU pemilu dan terakhir para kandidat fokus untuk adu gagasan, visi-misi dan program solusi bangsa," katanya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon