Foto Satelit Buktikan Longsor Anak Krakatau Sebabkan Tsunami

Sabtu, 5 Januari 2019 | 08:16 WIB
YD
YD
Penulis: Yudo Dahono | Editor: YUD
Kepulan asap tebal berisi material vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau membumbung tinggi ke angkasa di perairan Selat Sunda, 23 Desember 2018.
Kepulan asap tebal berisi material vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau membumbung tinggi ke angkasa di perairan Selat Sunda, 23 Desember 2018. (SusiAir)

Jakarta - Tsunami Selat Sunda yang terjadi Sabtu (22/12) lalu memakan 437 korban jiwa sementara 14.075 orang mengalami luka-luka dan 10 orang dinyatakan belum ditemukan.

Penyebab tsunami berdasarkan analisa dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Minera terjadi karena longsoran atau jatuhnya sebagian tubuh dan material Gunung Anak Krakatau.

Analisa tersebut kini diperkuat oleh foto-foto yang dilansir oleh perusahaan Planet Labs. Perusahaan yang mengobservasi kondisi bumi ini melansir foto dari Gunung Anak Krakatau, sebelum dan sesudah terjadinya tsunami, Jumat (4/1).

Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau pada 17 Desember 2018

Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau pada 30 Desember 2018

Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau pada 2 Januari 2019

Seperti dipaparkan oleh American Geophysical Union, foto-foto tersebut memerlihatkan bagaimana Gunung Anak Krakatau berubah saat terjadinya bencana. Pada foto terlihat banyak sedimen terbentuk di sekeliling pulau Gunung Anak Krakatau.

Pada foto pertama yang dilansir Planet Labs, 17 Desember sebelum Anak Krakatau kolaps disusul foto pada 30 Desember di mana terjadi longsoran besar yang memakan sebagian tubuh Anak Krakatau. Kolapsnya puncak Anak Krakatau tersebut memicu longsoran di bawah laut yang menimbulkan tsunami pada 22 Desember.

Foto ketiga bertanggal 2 Januari memerlihatkan bahwa ketinggian Anak Krakatau jauh berkurang dari 338 meter menjadi 110 meter. Berdasarkan data dari PVMBG, longsoran yang terjadi pada 22 Desember tersebut mengakibatkan volume Anak Krakatau menyusut sebanyak 180 juta meter kubik.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon