Akulturasi Budaya di Pembukaan Pesta Kesenian Bali

Minggu, 10 Juni 2012 | 15:17 WIB
AF
B
Penulis: Antara/ Nadia Felicia | Editor: B1
Pesta Kesenian Bali
Pesta Kesenian Bali (Antara)
Akulturasi budaya itu diwujudkan dalam seni pewayangan, seni tari, demonstrasi melukis, serta pembuatan barong dan rangda. 

Garapan seni akulturasi budaya yang dipertontonkan oleh duta seni Kabupaten Gianyar, Bali menandai dibukanya Pesta Kesenian Bali (PKB) XXXIV yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di depan Monumen Bajra Sandhi Denpasar, hari ini.

Seni di atas panggung berjalan (mobil hias) duta daerah gudang seni di Bali mencerminkan akulturasi budaya antara Puri Ubud dan Walter Spies, Bonet dan Van Nofkent, warga negara asing yang menekuni aktivitas seni di Pulau Dewata.

Akulturasi budaya itu diwujudkan dalam seni pewayangan, seni tari, demonstrasi melukis, serta pembuatan barong dan rangda. 

Kehadiran seniman asing yang memberikan sentuhan kepada seniman lokal mendapat sambutan positif dari masyarakat perkampungan seniman Ubud. Hal ini dianggap sebagai salah satu barometer perkembangan seni di Bali.

Tidak sedikit nama seniman asing yang pernah bermukim di Bali terkenal di dunia internasional dengan membawa bingkai seni budaya Bali. Berbagai kebudayaan dari Bali telah mereka perkenalkan ke dunia internasional dalam bentuk bidang seni tari, tabuh, patung, dan kanvas.

Karya seni hasil sentuhan seniman-seniman asing yang pernah bermukim di Bali menggambarkan bagaimana unik dan kokohnya seni budaya yang diwarisi masyarakat Pulau Dewata.

Beberapa nama seniman asing yang pernah mengolah seni budaya Bali antara lain; Walter Spies (alm) dari  Jerman, Antonio Blanco (alm) pelukis berdarah Spanyol, Andrien Jean Le Mayeur seniman asal Belgia, Adrianus Wilhelmus Smit dari kelahiran Belanda, dan lainnya.

Walter Spies dianggap sebagai salah satu seniman yang membantu memperkenalkan seni Bali ke mancanegara lewat lukisan dan garapan tari di tahun 1930-an. Kala itu, Spies mengajak beberana seniman tabuh dan tari Bali melakukan lawatan seni ke berbagai negara di Eropa.

Upaya "menjembatani" seni di Bali dengan dunia ini diperkirakan menjadi semacam "undangan" bagi ilmuwan dan peneliti dunia untuk menngunjungi Bali.

Duta seni Kabupaten Gianyar dalam pawai budaya itu menyuguhkan lima kelompok garapan. Empat garapan lainnya meliputi barisan identitas, "Lelontekan Uparengga" yang terdiri atas beberapa jenis, seperti umbul-umbul, salaran, cendekan, bandrangan, tedung pagut, dan senjata Dewata Nawasanga. 

Selain itu, kelompok teruna-teruni tampil dengan busana adat Bali, busana adat madya, busana adat pengantin modifikasi, dan busana adat pengantin rias agung.

Presiden membuka pawai dengan membunyikan instrumen musik pertanian "Okokan" didampingi oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari E Pangestu, serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika dalam sambutannya mengatakan, PKB yang akan dilakukan hingga pertengahan Juli ini merupakan salah satu upaya untuk menunjukkan kekayaan budaya di Bali sekaligus upaya mengembangkan dan melestarikannya.
 
"Dinamika dalam kebersamaan sesuai tema, pawai ini menggambarkan dinamika dan perkembangan kesenian Bali dan juga kesenian nusantara," katanya.

Peserta pawai saat pembukaan tidak hanya berasal dari adat Bali namun dari daerah lainnya. Ikatan Keluarga Maluku, Ikatan Keluarga Etnis Batak, Kota Mataram dan Pemuda Agama Konghucu Bio juga menunjukkan kesenian mereka.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon