Rumah Zakat Kejar Target Bangun 1.800 Desa Berdaya 2019

Selasa, 15 Januari 2019 | 14:30 WIB
MT
B
Penulis: Mashud Toarik | Editor: B1
Acara Sharing Session Rumah Zakat di Jakarta, Selasa, (15/1). Lembaga amal ini membentuk Desa Tangguh sebagai upaya mitigasi dan penanggulangan bencana alam di desa-desa.
Acara Sharing Session Rumah Zakat di Jakarta, Selasa, (15/1). Lembaga amal ini membentuk Desa Tangguh sebagai upaya mitigasi dan penanggulangan bencana alam di desa-desa. (Istimewa/Mashud Toarik)

Jakarta – Rumah Zakat, sebuah lembaga amal yang fokus pada program pemberdayaan masyarakat di berbagai bidang, antara lain pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan membidik target 1.800 pembentukan Desa Berdaya pada tahun 2019.

Sejak eksis pada tahun 1998 hingga 2018, Rumah Zakat telah melakukan program pemberdayaan pada berbagai bidang tadi sedikitnya pada 1.259 Desa Berdaya yang tersebar di 30 provinsi dan 213 kota dan kabupaten di Indonesia.

"Sementara jumlah penerima manfaat layanan yang diberikan Rumah Zakat tercatat mencapai 4,6 juta orang yang tersebar, mulai dari Aceh hingga Papua," papar Nur Efendi, CEO Rumah Zakat saat acara Sharing Session di Jakarta, Selasa, (15/1).

Dikatakan Nur Efendi, Desa Berdaya merupakan cara Rumah Zakat dalam memberdayakan masyarakat desa melalui pendekatan yang terintegrasi antara pembinaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, hingga kesiap-siagaan bencana. Melalui aktivitas pembinaan dan pendampingan secara berkala tersebut, diharapkan Desa Berdaya dapat mendorong warga ke arah kemandirian, baik individual maupun komunitas.

"Dengan fokus pada pemberdayaan komunitas dan individu, Insya Allah Rumah Zakat yakin Desa Berdaya akan menjadi solusi yang integratif untuk pemulihan daerah pasca bencana. Target kami tahun 2019 ini ada 1.800 desa berdaya di 34 provinsi, agar semakin banyak warga yang mandiri," katanya.

Nur mengklaim di tahun 2018 ada 46% penerima manfaat yang diintervensi program ekonomi berhasil keluar dari garis kemiskinan.

Sementara, terkait maraknya bencana alam yang menimpa Ibu Pertiwi, Rumah Zakat berupaya memperkuat peran Rumah Zakat Action. Hal tersebut bertujuan untuk ikut serta membantu warga yang terdampak bencana, baik di Indonesia maupun di dunia.

Apalagi Berdasarkan prediksi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa terdapat 2.500 bencana yang akan terjadi di tahun 2019 ini.

"Tim kemanusiaan inilah yang nantinya akan menjadi ujung tombak Rumah Zakat dalam hal kemanusiaan, terutama dalam hal Penanggulangan bencana. Tim Rumah Zakat Action ini akan berperan mulai dari mitigasi bencana melalui pembentukan desa tangguh di Desa Berdaya Rumah Zakat, penanganan tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi dengan lebih terstruktur dan terukur bagi suatu wilayah terdampak bencana agar dapat bangkit kembali," tutur Nur Efendi.

Seperti bencana Tsunami Selat Sunda yang terjadi beberapa waktu lalu, Rumah Zakat Action yang merupakan Unit Penanggulangan Bencana Rumah Zakat telah menurunkan 50 relawan untuk membantu proses evakuasi dan mengirimkan bantuan sejak hari pertama bencana terjadi.

Rumah Zakat Action telah menyiapkan Program Penanggulangan Bencana berdasarkan fase dan jangka waktu yang ditetapkan pemerintah setempat, mulai dari fase tanggap darurat, fase transisi, dan fase recovery yang merupakan program pemberdayaan berkelanjutan.

Selain pemberdayaan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan, Rumah Zakat juga akan membentuk Program Kesiap-siagaan Bencana di wilayah Desa Berdaya yang berpotensi terkena bencana. Masyarakat di wilayah binaan Rumah Zakat, nantinya akan mendapatkan edukasi dan pelatihan mengenai kesiap-siagaan bencana.

"Dengan adanya Rumah Zakat Action yang mempunyai Program Kesiap-siagaan Bencana di wilayah Desa Berdaya, diharapkan masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana akan lebih sigap. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk antisipasi untuk menyelamatkan diri dari bencana," lanjut Nur.

Selama tahun 2018, total aksi Penanganan Bencana yang telah dilakukan Rumah Zakat antara lain terbentuknya 40 desa tangguh bencana, empat sekolah siaga bencana, serta aksi penanganan tanggap darurat pada 162 titik bencana dengan jumlah penerima manfaat sebanyak 301.145 orang.

Di sisi lain, sepanjang 2018 program kemanusiaan luar negeri telah dilaksanakan di Palestina, Suriah, Bangladesh, dan Myanmar, dengan 19 jenis bantuan yang telah membantu 153.154 orang penerima manfaat, seperti sembako, obat-obatan, selimut, solar cel, sekolah, dan lain sebagainya.

"Kami juga mencoba untuk membuat model Desa Berdaya sebagai program pemulihan bencana secara berkelanjutan, hal ini sudah diimplementasi pada lokasi bencana gempa-tsunami Lombok dan di Palu," tandasnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon