Pengamat: Debat Perdana Terlalu Kaku

Jumat, 18 Januari 2019 | 20:04 WIB
RW
B
Penulis: Robertus Wardi | Editor: B1
Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saat debat perdana Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) di Ruangan Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan pada Kamis, 17 Januari 2019.
Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saat debat perdana Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) di Ruangan Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan pada Kamis, 17 Januari 2019.

Jakarta - Pengamat Politik, sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menilai debat putaran pertama yang berlangsung di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1) malam berjalan kaku dan kurang menarik. Debat masih sangat jauh dari harapan publik.

"Visi-misi yang disampaikan kedua pasangan calon belum menyentuh akar persoalan. Justru kedua kandidat terjebak pada retorik general yang bersifat normatif," kata Pangi di Jakarta, Jumat (18/1).

Ia menjelaskan‎ secara umum visi-misi kedua pasang calon dalam dibidang Hukum dan HAM, korupsi dan terorisme tidak jauh berbeda.Pasangan Calon (Paslon) nomor urut 01 Jokowi-Maruf Amin lebih menekankan pada reformasi kelembagaan dan penguatan sistem. Sedangkan Paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno lebih menekankan pada kepastian hukum dengan pendekatan behavioral/perilaku aparat penegak hukum memastikan kesejahteraan.

Dari segi kepastian hukum, kedua paslon memberikan pandangan yang hampir sama yaitu memastikan tidak terjadi dan menertibkan peraturan-peraturan yang tumpang tindih. Namun paslon 01 lebih menekankan pada sinkronisasi lewat badan legislasi nasional, sementara paslon 02 lebih menekankan pembinaan peraturan dengan melibatkan partisipasi publik.

Untuk konteks HAM, kedua paslon sepertinya tidak punya prioritas yang jelas. Secara konseptual juga keliru dalam memahami persoalan dan cenderung membahas hal remeh-temeh. Kedua paslon tidak bisa membedakan antara konsep hak azasi dengan hak warga negara, hak azasi itu bersifat melekat (given) pada individu yang harus dilindungi.

Sedangkan hak warga negara harus dipenuhi oleh negara. Kerancuan jalan berfikir pada akhirnya membuat kedua paslon tidak punya fokus yang jelas untuk menyelesaikan akar persoalan, faham saja tidak bagaimana mau carikan solusi.

Untuk pemberantasan korupsi, kedua pasangan juga masih berkutat pada jawaban yang bersifat umum dan normatif. Paslon 01 menekankan pada proses rekruitmen aparat yang punya kapasitas melalui merit-sistem dan untuk jabatan politik dengan menekan politik biaya tinggi namun kering narasi masing masing paslon bagaimana pikiran mereka membuat politik biaya rendah untuk menjadi pemimpin.

Sementara Paslon 02 tetap pada pendekatan integritas aparat dengan perbaikan kesejahteraan aparat negara dengan menaikkan tax ratio sebagai sumber pendanaan, melakukan pengawasan internal yang ketat melalui penegakan disiplin yang ketat serta melakukan perbaikan pencatatan aset negara.

"Jalannya debat putaran pertama jika kita lihat dari segi penyelenggaraan masih jauh dari kata sempurna. Publik masih belum terpuaskan dengan format debat yang masih kaku dan belum cair. Wajar dan tak berlebihan agar debat pertama dievaluasi termasuk pemberian kisi kisi pertanyaan yang membuat capres dan cawapres tidak genuine, tidak berselancar dengan pikirannya liarnya dan tidak berpetualang dengan ide dan gagasan besar yang ada di dalam otaknya," ujarnya.

Dia melihat ada tiga aspek penting yang belum muncul dalam debat semalam. Pertama, penguasaan masalah. Dalam aspek penguasaan masalah kedua kandidat masih belum mampu menunjukkan kapasitas/performa terbaiknya. Kedua Paslon masih terdapat kekurangan di sana-sini bahkan ada beberapa segmen yang justru jawabannya tidak nyambung, di luar konteks dan tidak menjawab inti persoalan.

Kedua malasah program kerja. Kedua kandidat belum menawarkan program kerja yang nyata. Bahkan petahana sendiri terkesan memposisikan diri sebagai pendatang baru dengan visi baru. Padahal seharusnya hanya cukup melanjutkan saja program sebelumnya jika memang dianggap sukses.

Ketiga adalah masalah komunikasi. Debat putaran pertama cukup mengejutkan di mana petahana lebih cenderung emosional ketimbang penantang yang lebih santai. Momentum politik untuk penantang untuk menyerang petahana jika memang dianggap gagal sepertinya tidak dimanfaatkan. Jadi, petahana lebih agresif, sementara sang penantang seperti tak punya beban dan enjoy.

"Debat perdana nampaknya hanya memperkuat basis grasroot dukungan masing masing capres 01 dan capres 02. Saya belum terlalu yakin terjadi pergeseran selera, yang awalnya memilih Jokowi kemudian menyeberang/banting stir memilih Prabowo dan sebaliknya," tutup Pangi.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon