BTP Diprediksi Akan Berikan Dukungan ke Jokowi

Senin, 21 Januari 2019 | 20:30 WIB
YS
FB
Penulis: Yeremia Sukoyo | Editor: FMB
Terdakwa dugaan kasus penistaan agama, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama usai berdiskusi dengan penasehat hukum dalam sidang ke 22, dengan agenda pembacaan putusan (vonis) di pengadilan Jakarta Utara, Auditorium Kementrian Pertanian, Jakarta Selatan, 9 Mei 2017.
Terdakwa dugaan kasus penistaan agama, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama usai berdiskusi dengan penasehat hukum dalam sidang ke 22, dengan agenda pembacaan putusan (vonis) di pengadilan Jakarta Utara, Auditorium Kementrian Pertanian, Jakarta Selatan, 9 Mei 2017. (BeritaSatu Photo/Joanito De Saojoao)

Jakarta - Bebasnya Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok kemungkinan besar tidak akan memberi pengaruh yang signifikan terhadap elektabilitas dari dua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden. Kecuali, jika Ahok nantinya kembali bermanuver.

Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin, menilai, pada Pilpres 2019, Ahok punya beberapa pilihan politik. Pertama yakni mendukung petahana, kedua mendukung paslon 02, ketiga bersikap netral, atau abstain.

"Opsi terakhir tampaknya tidak akan diambil Ahok. Sebab melalui surat yang dibuatnya baru-baru ini, dia justru mengimbau pengikutnya agar tidak golput," kata Said Salahudin, Senin (21/1) di Jakarta.

Dirinya menilai, jika membaca suratnya, ada kecenderungan Ahok akan memilih opsi ketiga, yakni bersikap netral. Sinyalnya lebih cenderung bersikap netral, walaupun Ahok sendiri memiliki sikap yang tidak mudah ditebak.

"Dulu, misalnya, dia pernah tegas menolak diusung oleh partai untuk maju di Pilkada DKI Jakarta. Maunya melalui jalur independen. Tetapi ujung-ujungnya kan diusung oleh partai juga," ujarnya.

Jadi, walaupun surat Ahok tidak memberi kode dukungan kepada salah satu paslon, kondisi itu bukanlah jaminan Ahok akan mengambil sikap netral atau hanya puas menjadi pemilih di Pilpres.

Di sisi lain, untuk memilih opsi kedua, yaitu mendukung pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, kemungkinannya lebih kecil lagi. Ada hambatan psikologis dari masing-masing pihak untuk membangun kerja sama politik.

"Ahok sepertinya berat untuk mendukung paslon 02 karena secara riil politik, partai-partai pendukung Prabowo-Sandi justru merupakan lawan politiknya," ujarnya.

Sementara dari kelompok pendukung Prabowo-Sandi pun tampaknya masih memperlihatkan sikap anti-Ahok. Sikap itu terutama datang dari mereka yang sangat keras menentang Ahok pada kasus penodaan agama.

"Oleh sebab itu, saya menduga pada gilirannya Ahok akan mendukung pasangan Joko Widodo (Jokowi) - Ma'ruf Amin," ucap Said memprediksikan.

Walaupun dukungan itu mungkin tidak langsung dinyatakan di hari kebebasannya pada tanggal 24 Januari 2019 mendatang, tetapi di pertengahan waktu atau menjelang hari pemungutan suara boleh jadi dukungan itu akan diberikan.

Soal dukungan, diyakini juga akan disampaikan secara eksplisit ataupun implisit. Tetapi pilihan pada opsi yang pertama ini tampaknya menjadi kemungkinan yang paling besar.

"Bahwa di kubu paslon 01 ada figur cawapres Ma'ruf Amin yang punya peran besar menjebloskan Ahok ke penjara, itu saya kira bisa diselesaikan lewat kompromi politik," ujarnya.

Apalagi Ma'ruf Amin sendiri sudah pernah menyampaikan permintaan maaf untuk kasus Ahok yang ia sebut terpaksa dilakukan karena suatu situasi. Tetapi jika kelak Ahok mendukung paslon 01, hal itu tampaknya tidak akan memberi banyak pengaruh terhadap peningkatan suara Jokowi-Ma'ruf. Sebab, kecenderungannya pendukung Ahok selama ini sudah mendukung capres petahana.

Artinya, tanpa adanya pernyataan dukungan dari Ahok sekalipun, tren dukungan para Ahokers terhadap paslon 01 sebenarnya sudah tergambar di dalam hasil survei.

Masalahnya, dukungan Ahok kepada Jokowi-Ma'ruf justru bisa merugikan bagi pasangan itu jika Ahok kembali membuat 'ulah'. Hal ini mengingat Ahok adalah sosok kontroversial yang ucapannya seringkali memantik kemarahan dari pihak lain.

"Nah, kelompok 'swing voters' Jokowi-Ma'ruf bisa saja mengalihkan dukungannya ke kubu Prabowo-Sandi jika Ahok tidak berhati-hati dalam mengeluarkan ucapan," katanya.

Sekali saja Ahok melakukan blunder yang menyangkut isu-isu sensitif, maka selain berpotensi kehilangan suara dari pemilih 'bersayap', Jokowi-Ma'ruf juga akan semakin berat untuk mempengaruhi kelompok undecided voters.

Lebih jauh lagi, jika Ahok kembali 'berulah', maka hampir dapat dipastikan iklim Pilpres 2019 akan lebih panas dari Pilkada DKI Jakarta 2017.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon