Tarik Minat Penonton, Debat Berikutnya Harus Lebih Rileks

Jumat, 1 Februari 2019 | 13:34 WIB
RW
JS
Penulis: Robertus Wardi | Editor: JAS
Suasana Debat Pertama Capres & Cawapres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis 17 Januari 2019.
Suasana Debat Pertama Capres & Cawapres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis 17 Januari 2019. (SP/Joanito De Saojoao./SP/Joanito De Saojoao.)

Jakarta - Analis politik dari Exposit Strategic Arif Susanto mengemukakan debat pertama Capres-Cawapres pada 17 Januari 2019 lalu memang terkesan kurang gereget. Kedua pasang kandidat bukan hanya tidak cukup dalam mengeksplorasi gagasan-gagasan politik maupun program aksi yang mereka janjikan, tetapi juga terjebak dalam adu insinuasi.

"Format debat cenderung kaku sehingga lebih mirip tanya-jawab, dengan peran moderator sekadar mengatur lalu lintas kata-kata," kata Arif di Jakarta, Jumat (1/2).

Pada sisi lain, Arif melihat efektivitas debat dalam mengerek elektabilitas turut diragukan. Berkaca pada debat awal Pilpres 2014, saat itu hasil debat menyumbang sekitar 4 persen elektabilitas kandidat.

Pada debat 2019 ini, angka pergeseran terdampak debat antarkandidat diperkirakan lebih kecil. Dengan marjin yang cukup lebar antara elektabilitas Jokowi-Ma’ruf dan elektabilitas Prabowo-Sandi, hal itu tidak terasa signifikan.

Dia menyebut bahwa sekitar 70 persen dari pemilih masing-masing pasangan calon dapat digolongkan sebagai pemilih loyal, yang enggan mengubah pilihan mereka. Sementara, pemilih bimbang, yang diasumsikan cenderung lebih rasional, berjumlah kurang dari 25 persen. Kondisi ini turut berkontribusi terhadap minimnya perubahan elektabilitas pasca-debat.

Arif yang juga pengamat komunikasi politik ini meminta KPU agar ‎pada debat berikutnya, sebagai penyelenggara perlu lentur mengatur debat agar menjadi lebih hidup. Sementara, para kandidat harus datang dengan gagasan-gagasan, siap beradu proposal dan bertahan dari serangan kritis lawan.

Menimbang pemilih lebih rasional, tidak cukup bagi para kandidat untuk mengandalkan citra diri lewat berbagai gimmick. Lebih daripada itu, mereka harus mampu membaca preferensi kepentingan pemilih dan memberi tawaran masuk akal bagi pemenuhannya.

"Debat juga harus lebih memerhatikan dan melibatkan audiens, bukan sekadar sebagai penonton atau pemandu sorak," tutup Arif. 



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon