Setara Institute: Gerakan Intoleran Menyasar Anak Muda

Senin, 4 Februari 2019 | 18:16 WIB
YS
FB
Penulis: Yeremia Sukoyo | Editor: FMB
Direktur Riset Setara Institute Ismail Hasani didampingi Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos (kanan) dan Peneliti Setara Institute Aminudin Syarif (kiri) memaparkan hasil survei kota tertoleran 2015 dalam rangka hari toleransi internasional, Jakarta, 16 November 2015.
Direktur Riset Setara Institute Ismail Hasani didampingi Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos (kanan) dan Peneliti Setara Institute Aminudin Syarif (kiri) memaparkan hasil survei kota tertoleran 2015 dalam rangka hari toleransi internasional, Jakarta, 16 November 2015. (BeritaSatu Photo/Emral Firdiansyah)

Jakarta - Wakil Direktur Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos, menilai, salah satu tantangan paling serius yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia saat ini adalah masalah erosi kesadaran berbangsa. Menurunnya kesadaran berbangsa menyebabkan meningkatnya intoleransi di Indonesia.

"Memang salah satu tantangan serius saat ini adalah erosi kesadaran berbangsa dan respek terhadap keragaman. Tumbuh beberapa kelompok di masyarakat yang berpandangan mayoritanisme, mengklaim bahwa mereka yang terbesar berhak menentukan segalanya," kata Bonar Tigor Naipospos, Senin (4/1) di Jakarta.

Kelompok masyarakat yang berpandangan mayoritanisme tersebut mengakibatkan toleransi terhadap minoritas rendah dan cenderung diskriminatif. Tidak heran, di banyak tempat sudah sering terjadi gesekan antara kelompok-kelompok yang merasa mayoritas dengan segelintir orang.

Dikatakan Bonar, saat ini kelompok muda sudah menjadi salah satu target dari kelompok-kelompok tersebut. Mereka menyadari untuk mengubah Indonesia di masa depan adalah dengan mempengaruhi anak muda dengan pandangan tersebut.

"Pendidikan adalah salah satu mediumnya. Mereka masuk melalui sekolah dengan berbagai cara, misalnya kegiatan ekstrakurikuler, lewat alumnus, atau memanfaatkan pengaruh guru," ungkapnya.

Untuk meredamnya, dikatakan Bonar, harus ada kerja sama yang kuat antara pemerintah, institusi sekolah, dan orangtua. Beberapa studi memperlihatkan sejumlah pelajar berpandangan intoleran, bahkan radikal, karena ketiadaan perhatian orangtua.

Selain itu, institusi sekolah juga harus memperkuat peran guru pembimbing, guru yang peka terhadap perubahan psikologi sang anak. Selain memastikan bahwa di lingkungan sekolah pengaruh pandangan radikal dan intoleran itu diminimalisir.

"Pemerintah dalam hal ini melalui dinas pendidikan harus terus melakukan koordinasi dan pengawasan," kata Bonar Tigor Naipospos.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon