Institut Hijau: Sektor Energi, Pangan, dan Air Tidak Boleh Diprivatisasi

Sabtu, 16 Februari 2019 | 11:13 WIB
CP
FB
Penulis: Carlos KY Paath | Editor: FMB
Ilustrasi Air Bersih.
Ilustrasi Air Bersih. (Google)

Jakarta, Beritasatu.com – Indonesia sepatutnya berdaulat dalam bidang energi, pangan, dan air. Ketiganya tidak bisa diprivatisasi. Hal itu diungkap Ketua Institut Hijau Indonesia, Chalid Muhammad dalam Dialog Perspektif Indonesia "Jelang Debat Kedua" di Jakarta, Sabtu (16/2/2019).

"Tiga komoditi utama yang merupakan sumber daya publik yang tidak boleh diprivatisasi yaitu energi, pangan dan air. Ketika energi, pangan, dan air kita tidak berdaulat, maka sangat rapuhlah sebuah negara. Potensial kita sangat bergantung pada korporasi dan negara lain," kata Chalid Muhammad.

"Baiknya fokus diskusi dalam debat untuk melihat seberapa berdaulat kita di bidang energi, pangan, dan air," tambahnya.

Mengenai pangan, air, dan energi, Chalid Muhammad menambahkan, hanya mungkin dipenuhi kedaulatannya jika infrastruktur tersedia. Selain itu, perspektif lingkungan juga menjadi dasar penglihatan. Sayangnya, puluhan tahun kebijakan untuk ketiganya bersifat sektoral.

"Pangan sendiri, air sendiri, berkelahi antarsektor, sehingga kita tidak maju sangat signifikan untuk pemenuhan energi, pangan, dan air," ujarnya.

Untuk diketahui, debat kedua Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres), Minggu (17/2/2019), mengangkat isu energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam (SDA), dan lingkungan hidup.

Menurut Chalid, isu SDA sangat menarik dibahas. SDA itu berupa laut, tambang, hutan, dan seterusnya. "Semuanya ini puluhan tahun dijadian sebagai pemasok utama kekuatan ekonomi nasional. Tetapi kondisi sekarang, karena SDA tidak terbarukan, sumber minyak kita berkurang. Dulu kita eksportir, sekarang importir," kata Chalid.

Chalid menuturkan, Indonesia juga mengekspor mengekspor batu bara, sedangkan negara lain ada yang tak lagi memakainya. Akibatnya di Kalimantan Timur, tampak kemerosotan ekonomi. "Kalau ini tidak dipikirkan, dan kita jadi eksportir, tebang kirim, gali kirim, saya kira bangsa ini dalam kondisi kritis," ungkap Chalid.

Chalid berharap calon presiden (capres) 01 Joko Widodo (Jokowi) serta capres 02 Prabowo Subianto ketika debat, memberikan jalan keluar atas permasalahan SDA. "Saya harap dua capres sungguh-sungguh debatkan, dialogkan, sampaikan jalan keluar. Karena ini situasi yang terjadi puluhan tahun. Kita tidak usah cari siapa yang salah," tegas Chalid.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon