Isu Konsesi Lahan Pengaruhi Masyarakat yang Belum Tentukan Pilihan
Senin, 25 Februari 2019 | 17:32 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pidato kebangsaan Calon Presiden (Capres) nomor urut 01, Joko Widodo kembali mengangkat masalah pengelolaan atau konsesi lahan. Jokowi bahkan menegaskan menunggu pihak-pihak yang selama ini mendapatkan konsesi lahan besar untuk dikembalikan kepada negara.
Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner, Emrus Sihombing, menilai, dari aspek komunikasi politik, pernyataan Jokowi mengenai konsesi lahan tidak lepas dari debat kedua Pilpres. Karena itu, pernyataan menunggu pengembalian lahan konsesi besar jelas ditujukan kepada Prabowo.
"Menurut saya, ditujukan kepada Prabowo. Awal perdebatan kedua kandidat, Jokowi-Prabowo, tentang konsesi lahan terjadi pada debat kedua Pilpres," kata Emrus Sihombing, Senin (25/2/2019) di Jakarta.
Menurutnya, perdebatan mengenai masalah konsesi lahan sangat bisa mempengaruhi elektoral capres maupun cawapres. Isu tersebut bisa menurunkan elektabilitas satu kandidat, dan kesekuesinya meningkatkan elektabilitas kandidat lain.
"Turun-naiknya elektoral tersebut bersumber dari dua kelompok masyarakat, yaitu kelompok swing voters dan undecided voters," ujar pakar komunikasi politik Universitas Pelita Harapan (UPH) itu.
Sumber dari swing voters, menurut Emrus, adalah mereka yang merupakan kelompok masyarakat yang sudah mendekati menentukan pilihan terhadap salah satu kandidat. Namun, masih berpeluang "berpindah hati" ke kandidat lain.
"Perpindahan itu sangat dipengaruhi dinamika komunikasi politik yang terus berlangsung, baik dalam bentuk debat maupun wacana yang muncul di ruang publik," ucapnya.
Kandidat yang memenangkan debat dan wacana publik akan mampu menarik swing voters yang berada pada posisi kompetitornya. Sementara, swing voter yang dimilikinya semakin menyakinkan dan mengukuhkan pilihanya kepadanya.
Terkait dengan Pidato Kebangsaan Jokowi, utamanya ungkapan yang disampaikan berulang-ulang, yaitu "Jika ada penerima konsesi besar (lahan) yang mau mengembalikan ke negara, saya tunggu sekarang," kemudian dilanjutkan dengan mengatakan, akan dibagikan kepada masyarakat kelas sosial yang belum beruntung.
Menurut Emrus, ungkapan tersebut sarat makna mendalam dan tampaknya sekaligus menunjukkan bahwa Jokowi ingin meyakinkan kelompok masyarakat swing voters agar menjatuhkan pilihan kepadanya pada pemungutan suara April 2019 mendatang.
"Menurut hemat saya, Pidato Kebangsaan Jokowi mampu menarik simpati dan minat swing voters memberikan dukungan kepada dirinya," kata Emrus.
Terkait sumber dari undecided voters, yakni adalah kelompok masyarakat yang belum menghambil keputusan menentukan pilihan kepada salah satu kandidat, baik ituJokowi atau Prabowo.
Saat ini kelompok undecided voters sedang menunggu gagasan, program rasional, berpihak kepada masyarakat terpinggirkan dan gaya yang menyenangkan dari para kandidat. Para kandidat yang mampu menyakinkan kelompok undecided voters dari segi tawaran, mereka akan cenderung memilih kandidat yang bersangkutan.
Sehubungan dengan usulan Jokowi, kalau ada yang memperoleh konsesi lahan yang sangat luas, kemudian ingin mengembalikan ke negara, Jokowi menunggu dan selanjutnya membagikannya kepada rakyat yang membutuhkan.
Pesan komunikasi politik yang ingin disampaikan Jokowi, yakni setidaknya mampu mencairkan kekukuhan pemilih yang belum menentukan pilihan. Sebab, narasi ini sangat jelas, terukur dan berpihak kepada kelompok masyarakat yang masih terpinggirkan dari sudut kepemilikan dan atau pengelolaan lahan di Indonesia.
"Karena itu, saya berhipotesa, lontaran pesan komunikasi tersebut memiliki kemampuan mempersuasi kelompok undecided voters mengarahkan pilihannya kepada Jokowi," ungkapnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




