Hadapi Revolusi Industri 4.0, NU dan Bukalapak Jalin Kerja Sama

Kamis, 28 Februari 2019 | 21:12 WIB
YP
WM
Penulis: Yustinus Patris Paat | Editor: WM
Calon wakil presiden 01, Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin menghadiri istigasah dan pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Konbes NU)  di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu (27/2/2019).
Calon wakil presiden 01, Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin menghadiri istigasah dan pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Konbes NU) di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu (27/2/2019). (istimewa)

Banjar, Beritasatu.com - Nahdlatul Ulama (NU) dan Bukalapak menjalin kerja sama untuk bisa menghadapi Revolusi 4.0. Sebagai salah satu start up unicorn di Indonesia, kerja sama ini diharapkan mampu mengembangkan ekonomi umat.

Kerjasama ini direalisasikan melalui penandatangan MoU antara Nahdlatul Ulama dan Bukalapak pada Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2019, di Ponpes Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Rabu (27/2/2019) malam.

VP of Product Bukalapak, Zakka Fauzan Muhammad menyatakan, kerja sama Bukalapak dan NU untuk mengembangkan Usaha Kecil Menengah (UKM) di kalangan Nahdliyin supaya mampu bersaing menghadapi revolusi industri 4.0.

"Ekonomi grass root di Nahdliyin kita sama-sama dorong supaya go digital. Dengan kolaborasi ini, NU akan membentuk marketplace sendiri. NU akan punya white label sendiri," ucap Zakka, setelah penandatangan MoU bersama Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj.

Senada dengan Zaka, Kiai Said pada pembukaan Munas-Konbes NU 2019 juga menyoal tantangan revolusi industri 4.0 yang harus dihadapi warga NU.

"Masyarakat Indonesia, khususnya warga NU harus siap menghadapi revolusi industri 4.0, yang bertumpu pada penggunaan massif teknologi informasi berbasis internet, artificial intelegence (kecerdasan buatan) dan analisis big data," ucap Kiai Said dalam sambutannya.

Dirinya menambahkan, sektor pertanian merupakan penyumbang PDB terbesar kedua di Indonesia. Menurutnya, 82 persen masyarakat Indonesia bergantung pada sektor pertanian, akan tetapi 30 persen dari jumlah tersebut merupakan petani tradisional.

"Yang terseok-seok di tengah gelombang revolusi industri 4.0. Masih sangat ketinggalan para petani kita," kata kiai Said.

Tak hanya Kiai Said, Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar pun dalam pidatonya menyinggung tantangan NU di era digital. Menuju usia satu abad, kata Kiai Miftah, NU perlu menyiapkan 4G, yaitu Grand Idea, Grand Design, Grand Strategy, dan Grand Control.

"Ini PR (pekerjaan rumah) NU yang perlu dirumuskan dalam Munas-Konbes saat ini. Sebab jika tidak dikelola dengan baik, kita jadi bulan-bulanan yang diperebutkan oleh orang lain," ungkap Miftachul Akyar.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sambutannya menegaskan bahwa revolusi industri 4.0 bukan lagi bayangan, tetapi sudah datang.

"Persaingan global di era revolusi industri keempat menuntut persiapan sumberdaya manusia yang unggul. Maka kita akan mendirikan 1.000 BLK (Balai Latihan Kerja) untuk komunitas pesantren," ungkap Jokowi

Acara pembukaan Munas-Konbes itu dihadiri sejumlah menteri Kabinet Kerja Susi Pudjiastuti, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menkominfo Rudiantara. Hadir pula Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Gubernur Jawa Timur yang juga Ketua PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa. Ulama internasional, Syekh Taufiq Ramadhan Al-Buthi Suriah, Syekh Musthafa Zahran dari Mesir, Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin, dan ulama dari berbagai daerah.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon