Silaturahmi dengan TKD Gorontalo, Ini Pesan Penting Jokowi

Jumat, 1 Maret 2019 | 14:48 WIB
CP
JM
Penulis: Carlos KY Paath | Editor: JEM
Calon Presiden, Joko Widodo (kiri) menyalami warga saat melakukan konvoi di Jalan Gajahmada Pontianak, Kalbar, Selasa (24/6). Selama dua hari (23-24 Juni 2014), Capres Jokowi berkeliling mengunjungi para simpatisannya di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya.
Calon Presiden, Joko Widodo (kiri) menyalami warga saat melakukan konvoi di Jalan Gajahmada Pontianak, Kalbar, Selasa (24/6). Selama dua hari (23-24 Juni 2014), Capres Jokowi berkeliling mengunjungi para simpatisannya di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya. (Antara/Jessica Helena Wuysang)

Gorontalo, Beritasatu.com - Calon Presiden (Capres) 01 Joko Widodo (Jokowi) bersilaturahmi dengan Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Maruf Amin (Jokowi-Maruf) Gorontalo, di Gorontalo, Kamis (28/2/2019). Jokowi berpesan kepada seluruh partai politik (parpol) maupun relawan pendukung untuk meluruskan maraknya informasi hoaks.

"Waktu kita sekarang ini sudah sangat mepet. Sempit sekali, tinggal 48 hari. Memang yang paling banyak menyita energi kita, membuat kontra narasi, menangkal narasi tidak baik, kabar-kabar fitnah, bohong, hoaks, dan ini merupakan kewajiban kita bersama untuk bisa memberikan penjelasan-penjelasan," kata Jokowi.

Jokowi mengungkap, beberapa waktu lalu sempat ada isu larangan azan, dan legalisasi perkawinan sejenis jika dirinya memenangkan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019. Sebagian masyarakat berpotensi mempercayai isu itu jika tak ditangkal.

"Nanti pemerintah akan larang azan, azan akan dilarang, perkawinan sejenis dilegalkan. Ini kalau enggak diberi penjelasam secara benar, bisa di bawah kemakan semua hal-hal semacam ini. Survei kita, 9 juta orang lebih percaya mengenai itu," ungkap Jokowi.

Jokowi menambahkan, dirinya juga dituding kader Partai Komunis Indonesia (PKI) yang merupakan partai terlarang di Tanah Air. Selain itu, dirinya juga dicap antek asing (negara barat), dan antek aseng (Tiongkok). "Ini harus direspons dengan cepat dan berani kita di bawah melawan," tegas Jokowi.

Jokowi menjelaskan, PKI dibubarkan pada 1966, sedangkan dirinya lahir pada 1961. Jokowi juga menunjukkan gambar editan ketika tokoh PKI DN Aidit berpidato pada 1955. Dalam foto itu, muncul Jokowi berdiri di dekat Aidit.

"Ini sudah keterlaluan. Saya empat tahun diginiin, saya diam. Sabar ya Allah, sabar, sabar. Tapi sekarang saya menjawab hal-hal itu. Saya enggak bisa diam terus, enggak bisa. Sabar boleh, tapi kesabaran itu ada batasnya," ucap Jokowi. 



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon