May Tuding Parlemen Inggris Kacaukan Brexit

Kamis, 21 Maret 2019 | 12:59 WIB
NW
B
Penulis: Natasia Christy Wahyuni | Editor: B1
Perdana Menteri Inggris, Theresa May, berbicara dalam konferensi pers di kantornya, di Downing Street, London, Inggris, Rabu (20/3).
Perdana Menteri Inggris, Theresa May, berbicara dalam konferensi pers di kantornya, di Downing Street, London, Inggris, Rabu (20/3). (AFP/Jonathan Brady)

London, Beritasatu.com - Perdana Menteri (PM) Inggris, Theresa May, menuding anggota parlemen sebagai biang kerok kekacauan proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit. Theresa May mengajukan penundaan Brexit selama tiga bulan dari tenggat waktu 29 Maret 2019.

Setelah berjanji dalam berbagai kesempatan bahwa Brexit akan dilakukan sesuai jadwal, Theresa May akhirnya tunduk pada konsekuensi dari kegagalannya mendapat dukungan parlemen dengan terpaksa meminta penundaan Brexit.

Namun lewat pernyataan tegas di kantor PM Inggris, Downing Street, London, Rabu (20/3/2019) malam, Theresa May mengatakan tidak bertanggung jawab atas kekacauan itu.

Sebaliknya, Theresa May menyalahkan anggota parlemen karena gagal mendukung kesepakatannya. "Sejauh ini parlemen telah melakukan semua hal yang mungkin untuk menghindari pengambilan keputusan. Semua anggota parlemen telah bersedia mengatakan apa yang tidak mereka inginkan," ujar Theresa May.

Menurut Theresa May, rakyat Inggris ingin mereka melanjutkannya dan sudah saatnya parlemen mengambil keputusan. Theresa May menyebut penundaan Brexit sebagai "masalah penyesalan pribadi yang besar" bagi negara itu.

Pada Kamis (21/3), Theresa May bertolak ke Brussels untuk bertemu dengan 27 pemimpin UE untuk meminta perpanjangan Pasal 50 sebagai proses hukum bagi Inggris untuk meninggalkan UE. Jika 27 anggota UE sepakat, Brexit akan ditunda dari tenggat waktu 29 Maret 2019.

Bisa ada dua pilihan, pertama, penundaan singkat, sehingga menyisakan sedikit waktu saja bagi Pemerintah Inggris untuk mendapatkan persetujuan parlemen atas Perjanjian Penarikan, yang mungkin dipermanis dengan beberapa perubahan lewat deklarasi politik.

Atau, Theresa May bisa mengajukan penundaan lebih lama, bisa bertahun-tahun, agar memberikan Inggris ruang udara untuk mengurai kekacauan Brexit. Tapi, UE menegaskan hanya memberikan penundaan lebih lama hanya jika ada alasan bagus.

Sebelumnya, Theresa May mengatakan kepada parlemen bahwa dia telah menulis kepada Presiden Dewan Eropa Donald Tusk untuk meminta penundaan Brexit sampai 30 Juni 2019.

Donald Tusk telah mengatakan bahwa penundaan singkat dimungkinkan, tapi dengan satu syarat, yaitu parlemen Inggris meloloskan kesepakatan Brexit yang disusun Theresa May.

Pada pekan lalu, Theresa May sudah memperingatkan Parlemen Inggris bahwa perlu penundaan Brexit yang panjang jika parlemen gagal menyetujui kesepakatan Brexit-nya. Tapi para pendukung Brexit di kabinetnya dilaporkan sangat marah atas saran Theresa May untuk meminta penundaan sampai lebih dari dua tahun.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon