Tanggapi Hasil Survei, Dua Kubu Capres Jangan "Baper"

Jumat, 22 Maret 2019 | 10:33 WIB
FS
AO
Penulis: Fana F Suparman | Editor: AO
Jerry Sumampouw
Jerry Sumampouw (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Sejumlah lembaga survei baru saja merilis hasil survei Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2019. Sejumlah survei masih menempatkan calon presiden dan calon wakil presiden (capres/cawapres) nomor urut 01 Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin di posisi pertama.

Namun, selisih kemenangan Jokowi-Ma'ruf atas pasangan capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga S Uno bervariasi. Hasil survei Litbang Kompas pada akhir Februari hingga awal Maret 2019 yang dirilis beberapa hari lalu menunjukkan elektabilitas pasangan Jokowi-Ma’ruf cenderung menurun, sementara elektabilitas Prabowo-Sandi cenderung naik.

Pasangan Jokowi-Ma'ruf memiliki elektabilitas 49,2% atau turun 3,4% dari survei sebelumnya di mana elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 52,6%. Di sisi lain, elektabilitas Prabowo-Sandi naik 4,7% menjadi 37,4% dari sebelumnya 32,7%.

Koordinator Komite Pemilih Indonesia (Tepi) Jerry Sumampouw mengatakan, kedua kubu pasangan capres/cawapres seharusnya tidak "bawa perasaan" (baper) dalam menyikapi hasil survei yang dirilis setiap lembaga. Apalagi, dengan memberikan pernyataan yang menyerang lembaga tertentu yang hasil surveinya dinilai tidak sesuai dengan harapan.

"Tidak usah terlalu baper. Biasa-biasa saja," kata Jerry setelah diskusi bertema "Politik dan Demokrasi dalam Kebhinekaan Indonesia" yang digelar Forum Komunikasi Pria Kaum Bapak Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (FK PKB PGI) di Graha Oikoumene, Jakarta, Kamis (21/3/2019).

Jerry mengatakan, elite politik membuat kondisi politik di Indonesia tidak rasional. Akibatnya, survei yang dilakukan dengan kaidah keilmuan, objektif, dan rasional sering dipahami secara emosional serta subjektif hanya karena hasil survei itu tidak sesuai dengan harapan.

"Ini tanda-tanda bahwa elite politik kita tidak dewasa. Mau kubu 01 atau kubu 02, sama saja. Mau partai nomor 1 sampai nomor 20, sama saja. Begitu juga masyarakat sendiri yang mungkin sudah terikat dengan calon atau partai tertentu membaca survei begini sudah tidak objektif lagi. Ini yang menurut saya menyedihkan. Bahkan, intelektual sekalipun yang seharusnya membaca hasil itu menggunakan prinsip intelektualisme malah ikut baper seperti elite politik," katanya.

Jerry menyebut survei memang digunakan untuk memengaruhi opini publik. Dengan demikian, hasil survei yang mengecewakan tentu akan mengganggu psikologis pendukung maupun pasangan calon. Namun, Jerry mengingatkan, kekecewaan dan kekhawatiran tersebut seharusnya tidak diekspresikan di ruang publik.

"Kalau pasangan calon mereka mengalami penurunan dan secara psikologi ditakutkan berpengaruh pada para pendukung, mungkin dari sisi psikologis wajar dan baik saja, tetapi kalau diekspresikan ke ruang publik secara emosional dan subjektif juga menurut saya tidak baik. Ini akan membuat proses politik terhadap para pendukung itu baper dan membuat euforia kecemasan dan kekhawatiran pendukungnya jadi masif," katanya.

Jerry meminta setiap tim pemenangan maupun elite politik pendukung pasangan calon lebih dewasa, rasional, cerdas, dan objektif dalam menanggapi hasil survei. Setiap survei yang dirilis, kata Jerry, seharusnya menjadi pelecut para pendukung untuk berupaya meningkatkan elektabilitas pasangan calon. Apalagi, katanya, masih ada waktu setidaknya 25 hari sebelum pemungutan surat pada 17 April 2019.

"Jadi, sebenarnya jangan terlalu baper dengan hasil itu. Kalau menurut saya, hasil seperti itu harus menjadi dasar bagi partai atau peserta pemilu lain untuk merancang strategi peningkatan elektabilitas. Survei itu semestinya menjadi bahan peserta pemilu merancang strategi pemenangan untuk menaikan elektabilitas. Nanti juga pada 24 Maret masuk masa kampanye. Menurut saya baik, karena itu bukan hasil akhir," katanya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon