Mortir Peninggalan Masa Penjajahan Ditemukan di Pulau Untung Jawa

Minggu, 5 Mei 2019 | 16:29 WIB
CF
FH
Penulis: Carlos Roy Fajarta | Editor: FER
Keberadaan mortir yang ditemukan di Pulau Untung Jawa, Minggu (5/5/2019).
Keberadaan mortir yang ditemukan di Pulau Untung Jawa, Minggu (5/5/2019). (Beritasatu Photo/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Benda yang diduga sebuah mortir aktif ditemukan oleh petugas tata air yang tengah melakukan penggalian di area lapangan voli RT02/RW03, Pulau Untung Jawa, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Kepulauan Seribu.

"Pada saat pekerja tata air atas nama Dari Suhendar (39) tengah menggali pasir lubang untuk pipa saluran air, saksi menemukan benda yang diduga mirip bom atau mortir, dan saksi langsung melaporkan kejadian tersebut ke anggota kami," ujar Kapolsek Kepulauan Seribu Selatan, AKP Bambang Budi Hastono, di dermaga Marina Taman Impian Jaya Ancol, Minggu (5/5/2019).

Bambang memperkirakan, mortir tersebut merupakan benda peninggalan jaman kolonial Belanda ataupun Jepang saat sebelum era kemerdekaan Indonesia. Namun, hal itu belum dapat dipastikan karena di badan mortir tidak ada keterangan lebih lanjut.

"Berat mortir diperkirakan mencapai 800 kilogram dan masih aktif. Kemungkinan saat dijatuhkan dari pesawat itu tidak meledak, hanya terkena pasir dan jatuhnya tidak tepat. Butuh setidaknya 10 orang mengangkut mortir tersebut," jelas Bambang.

Bambang menambahkan, mortir tersebut selanjutnya akan dievakuasi ke Markas Gegana untuk diteliti lebih lanjut setelah proses evakuasi dari dermaga Marina Ancol.

Sebagaimana diketahui, wilayah Kepulauan Seribu yang berada di perairan sisi Utara dari DKI Jakarta atau Kota Batavia merupakan salah satu daerah pertempuran jaman Hindia Belanda. Hal itu dibuktikan dengan keberadaan Benteng Martello yang masih berdiri tegak di resort Bidadari Island yang saat ini dikelola oleh PT Pembangunan Jaya Ancol.

Pada jaman penjajahan Belanda, tepatnya masa-masa kegiatan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Perusahaan Hindia Timur Belanda, Pulau Bidadari dijadikan sebagai tempat penampungan bagi orang sakit. VOC pada abad ke-17 membangun sarana dan prasarana rumah sakit (lazaretto) sebagai penunjang untuk menyembuhkan para penderita yang terjangkit, sehingga sebelum bernama Pulau Bidadari, pulau ini bernama Pulau Sakit.

Seperti layaknya pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu, Pulau Bidadari juga mempunyai nama Belanda yakni pulau Purmerend. Pulau Bidadari bersama dengan tiga pulau lainnya yakni Onrust, Cipir (De Kuiper) dan Kelor (Kerkhof), menjadi saksi sejarah penting dimana keempat pulau ini menjadi tempat pertahanan, penyimpanan rempah-rempah sebelum dikirim ke Belanda dan menjadikan pulau-pulau tersebut sebagai area pengawasan atau pertahanan pertama sebelum masuk ke wilayah pemerintahan di Batavia.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon