Dedi Mulyadi Minta Petugas Pemilu yang Meninggal Tak Dipolitisasi

Kamis, 9 Mei 2019 | 20:23 WIB
FS
B
Penulis: Fana F Suparman | Editor: B1
Ketua DPD Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi (kiri) saat mengunjungi keluarga petugas penyelenggara pemilu yang meninggal dunia saat menjalankan tugasnya.
Ketua DPD Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi (kiri) saat mengunjungi keluarga petugas penyelenggara pemilu yang meninggal dunia saat menjalankan tugasnya. (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com- Ketua Tim Kampanye Daerah Jokowi-Ma'ruf Amin Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta semua pihak untuk tidak mempolitisasi wafatnya ratusan anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS). Dedi mengungkapkan, banyak pihak yang seolah berempati atas wafatnya para petugas Pemilu, namun memiliki tujuan-tujuan politik tertentu, termasuk sebagai pelampiasan atas kekecewan terhadap hasil Pemilu 2019.

"Jangan manfaatkan gugurnya petugas pemilu sebagai upaya untuk melampiaskan seluruh kekecewaan politik yang terjadi saat ini pasca-Pilpres 2019. Tetapi sebaiknya rasa empati itu ditumbuhkan dengan langkah nyata," kata Dedi dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (9/5/2019).

Dedi yang juga Ketua DPD Golkar Jawa Barat ini mengatakan, langkah nyata merespon gugurnya petugas pemilu dapat dilakukan dengan mendorong pemerintah meningkatkan jumlah santunan dan memberikan jaminan terhadap keluarga, baik istri maupun anak. Dengan demikian, keluarga dari petugas pemilu yang gugur mendapat kehidupan dan pendidikan yang layak ke depan. Hal ini menurutnya lebih penting bagi keluarga petugas yang gugur ketimbang berkutat dalam wacana politik.

"Itu lebih clear. Daripada terus berputar menjadi wacana politik yang tidak berkesudahan tetapi tidak memberikan implikasi apa pun bagi keluarga yang ditinggalkan. Jadi, keluarga korban yang gugur jangan hanya dikasih suguhan perdebatan yang tidak berakhir, yang hanya memuaskan para pihak yang berkepentingan terhadap politisasi masalah gugurnya para petugas KPPS," kata Dedi.

Mantan Bupati Purwakarta ini mengatakan, gugurnya petugas pemilu sebaiknya melahirkan rasa empati terhadap kehidupan keluarganya, baik untuk sekarang maupun ke depan. Salah satunya dengan memberikan santunan yang memadai untuk modal hidup keluarga dan menjamin anak-anak almarhum tetap bersekolah sebagaimana biasanya.
"Tetapi ada juga yang langsung memberikan empati, tampil di publik memberikan pembelaan tapi minim langkah nyata yang diberikan kepada keluarga korban," ungkapnya.

Sebelumnya, Dedi Mulyadi berjanji akan menjadi ayah angkat bagi anak-anak petugas penyelenggara pemilu yang meninggal saat bertugas. Hal itu disampaikan Dedi setelah melayat ke rumah sejumlah petugas penyelenggara pemilu yang meninggal. Salah satunya ke rumah keluarga Deden Damanhuri, ketua KPPS di Kampung Sukalaksana, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta beberapa waktu lalu. Deden meninggal seusai menjalankan tugasnya menyelenggarakan pemilu pada Rabu 17 April 2019 lalu.

Dalam kunjungannya, Dedi diterima Popon Komariah (40), istri almarhum Deden Damanhuri bersama ketiga putrinya.
Dedi juga mengunjungi keluarga Carman, anggota KPPS di salah satu TPS di Desa Gardu, Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta. Dedi mengatakan siap menanggung semua biaya hidup dan pendidikan anak-anak Deden dan Carman.

"Mulai sekarang mereka bertiga menjadi anak asuh saya karena saya tidak tega mereka menjadi janda dan yatim. Untuk biaya hidup dan biaya pendidikan sampai dengan lulus saya yang tanggung, bila perlu sampai dengan perguruan tinggi," ujar Dedi, beberapa waktu lalu. Selain itu, Dedi juga berjanji akan memperhatikan keluarga petugas pemilu yang meninggal di sejumlah daerah di Jawa Barat. 



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon