PDIP Dinilai Berpeluang Cetak Hattrick
Jumat, 9 Agustus 2019 | 19:54 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) berpeluang memenangkan Pemilu Legislatif (Pileg) tiga kali secara berturut-turut. Meski begitu, kemenangan itu sangat tergantung memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan rakyat.
"Kalau melihat konsolidasi kepartaian, bukan tidak mungkin PDIP mencetak hattrick (tiga kali) menang. Sangat tergantung sejauh mana partai ini manfaatkan kekuasaan untuk perjuangkan kepentingan wong cilik alias rakyat kecil," kata pengamat politik Wempy Hadir, kepada Beritasatu.com, Jumat (9/8/2019).
"Keberhasilan program prorakyat tentu akan terkonfirmasi melalui peningkatan elektoral saat Pileg 2024. Jadi, ada peluang yang cukup besar bagi PDIP mencetak hattrick," tambah Wempy.
Wempy menyatakan, Ketua Umum (ketum) PDIP, Megawati Soekarnoputri, merupakan tokoh sentral di PDIP. Posisi Megawati sangat penting bagi PDIP. Ditambah lagi, Megawati merupakan putri dari Presiden RI Pertama, Soekarno.
"Sebagai anak biologis Soekarno, maka Megawati menjadi tokoh sentral yang sangat dibutuhkan oleh PDIP yang merupakan partai berbasis nasionalis yang meneruskan ide, pemikiran dan gagasan Bung Karno," kata Wempy.
Regenerasi Kepemimpinan
Meski begitu, menurut Wempy, kepemimpinan Megawati yang cukup lama di PDIP melahirkan kekurangan yaitu lambannya proses regenerasi. Terkecuali, apabila dalam Kongres V PDIP di Bali, ada skema baru untuk menyiapkan ketum berikutnya.
"Sehingga kualitas kepemimpinan orang yang akan menggantikan Megawati tidak jomplang. Sejauh ini belum ada satu pun kader PDIP yang bisa menyamai kemampuan dan jam terbang Megawati," ungkap Direktur Eksekutif Indopolling Network tersebut.
Wempy mengungkap, regenerasi kepemimpinan di PDIP memang berbeda dengan partai lain. Salah satunya, jabatan Megawati sebagai ketum yang tak tergantikan hingga sekarang. "Regenerasi di PDIP memang agak beda. Tapi kelebihannya PDIP, sangat efektif lakukan konsolidasi partai," ujar Wempy.
Jika Megawati tidak lagi menduduki kursi ketum, menurut Wempy, trah Soekarno sebaiknya yang tetap menggantikan. "Antara Puan Maharani atau Prananda Prabowo. Tentu ini bukan berarti melanggengkan kekuasaan Megawati. Sekali lagi, posisi PDIP sangat berbeda dengan partai politik pada umumnya," tegas Wempy.
Wempy menambahkan, PDIP memiliki latar belakang sejarah yang tersambung. Dimulai dari Soekarno hingga Megawati.
"Kalau terjadi pengalihan posisi ketum, harapannya tetap dari turunan biologis Soekarno. Apabila turunan biologis Soekarno tidak siap, maka bisa saja diberikan kepada kader di luar trah Soekarno. Kita tahu, PDIP punya banyak kader-kader potensial untuk mengisi posisi ketum," pungkas Wempy.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




