BNPB: Pergerakan Asap Dominan ke Arah Pekanbaru

Senin, 23 September 2019 | 17:51 WIB
B
YD
Penulis: BeritaSatu | Editor: YUD
Kawasan Hutan Lindung Gambut Londerang, Kabupaten Tanjungjabung Timur, Provinsi Jambi yang kritis akibat kebakaran hutan dan lahan tahun 2015 kini terbakar kemali. Sekitar 90 % dari 12.500 hektare hutan lindung gambut yang kini dikelola Restorasi Ekosistem (RE) World Wildlife Fund (WWF) Indonesia itu hangus terbakar selama kemarau tiga bulan terakhir.
Kawasan Hutan Lindung Gambut Londerang, Kabupaten Tanjungjabung Timur, Provinsi Jambi yang kritis akibat kebakaran hutan dan lahan tahun 2015 kini terbakar kemali. Sekitar 90 % dari 12.500 hektare hutan lindung gambut yang kini dikelola Restorasi Ekosistem (RE) World Wildlife Fund (WWF) Indonesia itu hangus terbakar selama kemarau tiga bulan terakhir. (Suara Pembaruan/Radesman Saragih)

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan pergerakan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat ini cukup dominan menuju arah Pekanbaru sehingga memengaruhi kualitas udara di daerah tersebut.

"Titik api di Riau saat ini sebenarnya, sedikit yakni hanya di pinggir-pinggir sekitar pantai, namun suplai asap banyak mengarah ke sana," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat (Kapusdatimnas) BNPB Agus Wibowo di Jakarta, Senin (23/9/2019).

Pergerakan asap ke daerah Pekanbaru itu berasal dari titik api yang masih banyak terdeteksi di Pulau Sumatera termasuk pula di antaranya berasal dari Sumatera Selatan, Jambi dan daerah Riau itu sendiri.

Selain titik api di Pulau Sumatera, ia menyebutkan masih banyak pula titik api yang ditemukan di wilayah lainnya yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

Bahkan terdapat pula titik api di Pulau Jawa, dampak dari musim kering di antaranya Gunung Merbabu yang masih belum padam seutuhnya.

BNPB beserta berbagai personel dari daerah terdampak karhutla terus melakukan upaya pemadaman api serta pembuatan hujan buatan.

"Ada 287 juta liter air dan 176 ton garam untuk penanggulangan saat ini," kata dia.

Pemerintah khususnya instansi terkait terus berupaya semaksimal mungkin menggunakan teknologi modifikasi cuaca agar turun hujan di daerah terdampak karhutla.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi adanya potensi awan hujan di beberapa wilayah Tanah Air termasuk daerah-daerah yang terdampak karhutla.

"Hujan mulai terdeteksi di Kalimantan Barat di antaranya Kabupaten Melawi, Kabupaten Kubu Raya dan sekitarnya," kata Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachri Radjab.

Keberadaan awan hujan diperkirakan akan meluas pada Selasa (24/9/2019) sehingga diharapkan mampu menambah luas area hujan.*



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon