Sebagian Besar dari 570 Pelajar Sudah Dipulangkan Polisi

Kamis, 26 September 2019 | 12:43 WIB
BM
B
Penulis: Bayu Marhaenjati | Editor: B1
Massa pelajar mengikuti unjuk rasa yang berujung ricuh di kawasan belakang gedung DPR, Jalan Tentara Pelajar, Palmerah, Jakarta, Rabu 25 September 2019.
Massa pelajar mengikuti unjuk rasa yang berujung ricuh di kawasan belakang gedung DPR, Jalan Tentara Pelajar, Palmerah, Jakarta, Rabu 25 September 2019. (Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao)

Jakarta, Beritasatu.com - Polda Metro Jaya sudah memulangkan sebagian besar dari 570 pelajar yang diamankan aparat keplisian saat hendak melakukan unjuk rasa, di kawasan DPR/MPR, Rabu (25/9/2019).

"Tadi malam, ada beberapa pelajar yang menggunakan seragam pramuka itu sudah kami amankan ke Polda Metro Jaya. Setelah kami lakukan pendataan, ada dari berbagai macam SMA dan SMP yang ada di Jakarta, Bogor juga ada," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono, Kamis (26/9/2019).

Dikatakan Argo, polisi mengamankan sekitar 570 pelajar di berbagai titik di Jakarta. Setelah didata, sebagian besar diperbolehkan pulang setelah dijemput orang tuanya.

"Setelah kita data, kita hubungi orang tua mereka. Jadi orang tua, ada juga saudaranya sebagai penjamin, dia datang menjemput ke Polda Metro untuk dibawa pulang. Kemarin 570 (pelajar diamankan), sudah diambil orang tuanya masing-masing dan saudaranya," ungkapnya.

Argo menyampaikan, bagi pelajar yang kedapatan membawa senjata tajam atau melanggar pidana akan diproses hukum lebih lanjut.

"Kemudian ada beberapa yang kita amankan juga ada yang bawa senjata tajam misalnya, atau apa nanti akan kita cek lagi berapa jumlahnya karena masih pendataan. Nanti kita cek, kita identifikasi. Kalau dia gunakan senjata tajam, ya kita kenakan Undang-undang Darurat ya. Nanti kita cek prosesnya seperti apa," katanya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi alias Kak Seto mengatakan, sejumlah pelajar yang diamankan mengaku hanya ikut-ikutan saja atas dasar solidaritas.

"Ada satu yang bilang ikut-ikutan karena semua teman begitu, enggak enak. Ya mereka hanya mengatakan solidaritas kepada teman, kemudian juga mendengar ada yang tidak beres jadi harus ikut demo, dan salah satu alasannya di dalam undang-undang itu suami-istri enggak boleh saling berhubungan. Jadi banyak pandangan yang belum jelas, tapi buat mereka semacam hiburan. Ini mungkin juga terkait sistem pendidikan yang terlalu ketat, terlalu penuh kekerasan, banyak PR, sehingga itu jadi tempat pelarian anak-anak sesuatu yang baru," jelas Seto, Rabu malam.

Menurut Seto, banyak orang tua dari para pelajar yang tidak tahu kalau anaknya ikut demo, tetapi beberapa ada juga yang tahu.

"Banyak yang tidak tahu, tapi ada yang tahu juga, ada yang melapor. Kemudian saya tanya apa gurunya tahu, ada yang bilang ada yang tahu dan ada yang tidak. Jadi kami juga akan berikan masukan ke Kemendikbud, dinas pendidikan khususnya, mohon mengontrol kepala sekolah untuk bisa melindungi anak-anak. Jangan sampai terjerumus ketindakan yang anak-anak sendiri belum tahu, tapi akhirnya jadi korban," katanya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon