Pakar: Waspadai Ancaman Teroris Jelang Pelantikan Jokowi

Sabtu, 5 Oktober 2019 | 04:20 WIB
YP
B
Penulis: Yustinus Patris Paat | Editor: B1
Dari kiri: Pegiat media sosial Amin Sudarsono, pakar terorisme Muradi, dan mantan narapidana terorisme Abu Fida dalam acara diskusi di Hotel Ibis, Jakarta, 4 Oktober 2019.
Dari kiri: Pegiat media sosial Amin Sudarsono, pakar terorisme Muradi, dan mantan narapidana terorisme Abu Fida dalam acara diskusi di Hotel Ibis, Jakarta, 4 Oktober 2019. (Beritasatu/Yustinus Paat)

Jakarta, Beritasatu.com - Pelantikan Joko Widodo (Jokowi) sebagai presiden untuk periode kedua tinggal dua pekan lagi. Pemerintah diminta waspada terhadap kemungkinan adanya serangan terorisme.

"Ancaman itu mungkin terjadi, jangan disepelekan dan harus segera diantisipasi," ujar pakar terorisme dari Universitas Padjadjaran Muradi dalam diskusi bertajuk "Mewaspadai Ancaman Terorisme Jelang Pelantikan Jokowi" di hotel Ibis Jakarta, Jumat (4/10/2019).

Menurut Muradi, terbuka kemungkinan teroris menunggangi aksi-aksi demonstrasi yang marak belakangan ini. Para teroris tersebut merupakan anggota jaringan lama yang menunggu dan memanfaatkan momentum.

"Mereka ini bukan lone wolf, pasti sudah ada jaringan lamanya, bisa JAD (Jemaah Ansharut Daulah), bisa kelompok lain," tandas Muradi.

Muradi menilai antisipasi terhadap kemungkinan serangan terorisme harus dilakukan oleh semua pihak. Dia berharap ada gerakan rakyat semesta untuk melawan teroris, tidak hanya mengandalkan aparat.

"Jangan hanya mengandalkan kepolisian, warga harus waspada," kata Muradi

Pada kesempatan yang sama, Ustaz Abu Fida, mantan narapidana terorisme, membenarkan kekhawatiran Muradi. Abu Fida menjelaskan, kelompok-kelompok teroris selalu mencari cara baru untuk mewujudkan eksistensi.

"Saya ini mantan, saya yakin kelompok-kelompok ini benar-benar ada, bukan rekayasa intelijen," ungkap Abu Fida.

Menurut dia, jenis serangan bisa bervariasi mulai dari yang keras sampai yang soft. "Mulai dari bom, sampai serangan fisik, bisa juga simbolik seperti pengibaran bendera," tutur Abu Fida.

Pengamat intelijen Ridlwan Habib menilai kewaspadaan harus ditingkatkan di hari-hari menjelang pelantikan. Pasalnya, teroris selalu mencari kesempatan untuk menunjukkan eksistensinya.

"Terutama pada tanggal tanggal penting, 19 dan 20 Oktober 2019. Semua pihak harus waspada terutama aparat keamanan," pungkas Ridlwan.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon