Pelajari Industri Rokok Sebelum Sahkan RPP Tembakau
Kamis, 5 Juli 2012 | 01:18 WIB
Investasi asing siap kuasai pasar rokok nasional.
Pemerintah didesak untuk mempelajari secara seksama soal industri rokok global dan lokal, sebelum mengesahkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau.
Anggota Komisi IX DPR, Poempida Hidayatullah, mengatakan kajian demikian penting dilakukan untuk mencegah negara terlibat dalam aksi yang ujung-ujungnya justru menguntungkan korporasi rokok asing dalam operasinya di Indonesia.
"Bagaimanapun sebuah negara harus melindungi industri lokal. Jangan sampai RPP itu mematikan orang Indonesia yang terkait tembakau, dan malah melapangkan jalan bagi industri rokok asing mengusai pasar Indonesia," kata Poempida, politikus Partai Golkar di Jakarta, Rabu (4/7).
Dia juga mendesakkan agar pemerintah benar-benar mempertimbangkan dampak sosial-ekonomi dari adanya RPP tersebut, sembari menekankan jangan sampai agenda asing berperan dalam hal pembuatan kebijakan mengenai kretek Indonesia.
Data dan fakta
Berdasarkan data dari Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK), pasar nikotin global tercatat bernilai US$378 miliar dan bertumbuh sebesar 4,65% pada tahun 2007.
Pada tahun 2012 diproyeksikan akan meningkat sebesar 23% dengan estimasi nilai mencapai angka US$464,4 miliar. Angka itu melebihi pendapatan domestik bruto (PDB) negara-negara maju seperti Norwegia dan Arab Saudi.
Terkait kinerja produksi dan konsumsi tembakau beserta rokok, tercatat cenderung naik dalam rentang waktu 50 tahun terakhir ini. Dari tahun 1960 – 2007 produksi tembakau dunia meningkat, dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata 1,21% per tahun. Dalam kurun waktu yang sama, produksi rokok mengalami peningkatan rata-rata 1,71% per tahun.
Jumlah perokok pun tumbuh 1,5% per tahun. Pada tahun 1998 tercatat 1,1 miliar orang, tahun 2010 naik menjadi sekitar 1,3 miliar orang.
Konsumen tembakau paling besar ada di China, diikuti Amerika Serikat, Uni Eropa, India, negara-negara pecahan Uni Soviet, Brasil, Jepang, Indonesia, Turki dan Pakistan.
Tahun 2008, China menguasai lebih dari 40% pasar tembakau dunia, di mana hanya 5% dari hasil tembakaunya yang diekspor dan selebihnya dikonsumsi sendiri. Tahun 2007, tercatat China, Brasil, India dan AS memproduksi 67,76% produksi tembakau.
Negeri Tirai Bambu itu juga adalah pasar terbesar rokok dengan 350 juta perokok. Perusahaan negara Cina adalah penguasa pasar tersebut yakni National China Tobacco Corporation.
Di luar itu, empat perusahaan tembakau terbesar dunia menguasai sekitar 46% konsumsi dunia, yaitu Phillip Morris International (16%) dan British American Tobacco (13%) -keduanya perusahaan berbasis di AS-, Japan Tobacco (11%), dan Imperial Tobacco (6%).
Berdasarkan penelitian, tingkat konsumsi tembakau negara maju justru lebih besar daripada negara berkembang dan terbelakang. Di Amerika Serikat, misalnya, volume konsumsi warganya tahun 2000 diperkirakan 434.400 ton, sedangkan Indonesia sekitar 156.100 ton. Sehingga klaim bahwa perilaku merokok identik gejala kemiskinan sebuah masyarakat menjadi perdebatan panjang.
Besarnya pasar nikotin global mengundang minat korporasi-korporasi farmasi global untuk turut masuk mengambil surplus dalam bisnis tersebut dengan produk Nicotine Replacement Therapy (NRT).
Sementara untuk potret Pasar Tembakau Nasional, rokok khas Indonesia atau kretek sanggup menembus puluhan negara dari Asia, Amerika, dan Eropa. Data Kementerian Perdagangan mencatat ekspor rokok pada periode Januari 2011 hingga Mei 2011 senilai US$216,908 juta.
Angka ini naik 18,32% dari nilai ekspor periode yang sama tahun lalu senilai US$183,322 juta. Pada 2010 lalu total nilai ekspor rokok mencapai US$428 juta.
Data Organisasi Buruh Internasional (ILO) tahun 2003 mengestimasi 10 juta pekerja di industri itu. Perhitungan lainnya menunjukkan setidaknya 1,25 juta orang bekerja di ladang-ladang tembakau, dan 1.5 juta orang bekerja di kebun-kebun cengkeh.
Di Indonesia, industri kretek berhasil menggeser rokok putih yang biasa diproduksi korporasi asing. Sebelum 1975 pasar domestik dikuasai impor rokok-putih, namun sejak 1975 hingga kini rokok-kretek menjadi primadona di negeri sendiri.
Kementerian Perindustrian menyebutkan konsumen kretek menyumbang 89,3% dari total konsumsi rokok nasional. Angka tersebut bahkan naik menjadi 93% pada tahun 2009. Kenaikan itu seiring dengan penurunan angka konsumsi rokok putih dari 10,7% menjadi hanya 7%.
Sumbangan atas APBN dari industri itu bahkan melewati angka yang diberikan raksasa tambang PT Freeport Indonesia. Pada tahun 2011, negara mendapat Rp62,759 triliun dari penjualan rokok.
Tembakau dan cengkeh hanya bisa ditanam di beberapa wilayah saja di Indonesia, seperti Madura, Bojonegoro, Besuki, Temanggung, Deli, dan Lombok NTB.
Produksi tembakau Indonesia sekitar 96% berasal dari tiga provinsi; Jawa Timur, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Barat. Areal pertanaman tembakau setiap tahun mencapai kurang-lebih 220.000 ha. Pada umumnya tembakau diusahakan oleh petani berskala kecil, hanya sebagian yang diusahakan oleh Badan Usaha Milik Negara.
Nilai keekonomian tembakau juga dianggap tinggi. Sebagai perbandingan, misalnya di Pamekasan, Madura. Harga komoditas unggulan lainnya yaitu garam dipatok Rp250.000/ton dengan volume 97.757 ton. Maka perputaran uang hanya mencapai Rp24,4 miliar.
Sementara produksi tembakau rata-rata mencapai 16.583 ton dengan harga sekitar Rp 30.000 per kilogram, maka diperoleh perputaran uang Rp497,5 miliar.
Perusahaan rokok asing seperti Philip Morris, British American Tobacco (BAT), dan Korea Tobacco and Ginseng Korea Selatan (KT&G) juga telah membeli kepemilikan perusahaan-perusahaan kretek nasional. Setidaknya lebih dari 35% pangsa pasar industri kretek Indonesia sudah dikuasai asing.
Pemerintah didesak untuk mempelajari secara seksama soal industri rokok global dan lokal, sebelum mengesahkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau.
Anggota Komisi IX DPR, Poempida Hidayatullah, mengatakan kajian demikian penting dilakukan untuk mencegah negara terlibat dalam aksi yang ujung-ujungnya justru menguntungkan korporasi rokok asing dalam operasinya di Indonesia.
"Bagaimanapun sebuah negara harus melindungi industri lokal. Jangan sampai RPP itu mematikan orang Indonesia yang terkait tembakau, dan malah melapangkan jalan bagi industri rokok asing mengusai pasar Indonesia," kata Poempida, politikus Partai Golkar di Jakarta, Rabu (4/7).
Dia juga mendesakkan agar pemerintah benar-benar mempertimbangkan dampak sosial-ekonomi dari adanya RPP tersebut, sembari menekankan jangan sampai agenda asing berperan dalam hal pembuatan kebijakan mengenai kretek Indonesia.
Data dan fakta
Berdasarkan data dari Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK), pasar nikotin global tercatat bernilai US$378 miliar dan bertumbuh sebesar 4,65% pada tahun 2007.
Pada tahun 2012 diproyeksikan akan meningkat sebesar 23% dengan estimasi nilai mencapai angka US$464,4 miliar. Angka itu melebihi pendapatan domestik bruto (PDB) negara-negara maju seperti Norwegia dan Arab Saudi.
Terkait kinerja produksi dan konsumsi tembakau beserta rokok, tercatat cenderung naik dalam rentang waktu 50 tahun terakhir ini. Dari tahun 1960 – 2007 produksi tembakau dunia meningkat, dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata 1,21% per tahun. Dalam kurun waktu yang sama, produksi rokok mengalami peningkatan rata-rata 1,71% per tahun.
Jumlah perokok pun tumbuh 1,5% per tahun. Pada tahun 1998 tercatat 1,1 miliar orang, tahun 2010 naik menjadi sekitar 1,3 miliar orang.
Konsumen tembakau paling besar ada di China, diikuti Amerika Serikat, Uni Eropa, India, negara-negara pecahan Uni Soviet, Brasil, Jepang, Indonesia, Turki dan Pakistan.
Tahun 2008, China menguasai lebih dari 40% pasar tembakau dunia, di mana hanya 5% dari hasil tembakaunya yang diekspor dan selebihnya dikonsumsi sendiri. Tahun 2007, tercatat China, Brasil, India dan AS memproduksi 67,76% produksi tembakau.
Negeri Tirai Bambu itu juga adalah pasar terbesar rokok dengan 350 juta perokok. Perusahaan negara Cina adalah penguasa pasar tersebut yakni National China Tobacco Corporation.
Di luar itu, empat perusahaan tembakau terbesar dunia menguasai sekitar 46% konsumsi dunia, yaitu Phillip Morris International (16%) dan British American Tobacco (13%) -keduanya perusahaan berbasis di AS-, Japan Tobacco (11%), dan Imperial Tobacco (6%).
Berdasarkan penelitian, tingkat konsumsi tembakau negara maju justru lebih besar daripada negara berkembang dan terbelakang. Di Amerika Serikat, misalnya, volume konsumsi warganya tahun 2000 diperkirakan 434.400 ton, sedangkan Indonesia sekitar 156.100 ton. Sehingga klaim bahwa perilaku merokok identik gejala kemiskinan sebuah masyarakat menjadi perdebatan panjang.
Besarnya pasar nikotin global mengundang minat korporasi-korporasi farmasi global untuk turut masuk mengambil surplus dalam bisnis tersebut dengan produk Nicotine Replacement Therapy (NRT).
Sementara untuk potret Pasar Tembakau Nasional, rokok khas Indonesia atau kretek sanggup menembus puluhan negara dari Asia, Amerika, dan Eropa. Data Kementerian Perdagangan mencatat ekspor rokok pada periode Januari 2011 hingga Mei 2011 senilai US$216,908 juta.
Angka ini naik 18,32% dari nilai ekspor periode yang sama tahun lalu senilai US$183,322 juta. Pada 2010 lalu total nilai ekspor rokok mencapai US$428 juta.
Data Organisasi Buruh Internasional (ILO) tahun 2003 mengestimasi 10 juta pekerja di industri itu. Perhitungan lainnya menunjukkan setidaknya 1,25 juta orang bekerja di ladang-ladang tembakau, dan 1.5 juta orang bekerja di kebun-kebun cengkeh.
Di Indonesia, industri kretek berhasil menggeser rokok putih yang biasa diproduksi korporasi asing. Sebelum 1975 pasar domestik dikuasai impor rokok-putih, namun sejak 1975 hingga kini rokok-kretek menjadi primadona di negeri sendiri.
Kementerian Perindustrian menyebutkan konsumen kretek menyumbang 89,3% dari total konsumsi rokok nasional. Angka tersebut bahkan naik menjadi 93% pada tahun 2009. Kenaikan itu seiring dengan penurunan angka konsumsi rokok putih dari 10,7% menjadi hanya 7%.
Sumbangan atas APBN dari industri itu bahkan melewati angka yang diberikan raksasa tambang PT Freeport Indonesia. Pada tahun 2011, negara mendapat Rp62,759 triliun dari penjualan rokok.
Tembakau dan cengkeh hanya bisa ditanam di beberapa wilayah saja di Indonesia, seperti Madura, Bojonegoro, Besuki, Temanggung, Deli, dan Lombok NTB.
Produksi tembakau Indonesia sekitar 96% berasal dari tiga provinsi; Jawa Timur, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Barat. Areal pertanaman tembakau setiap tahun mencapai kurang-lebih 220.000 ha. Pada umumnya tembakau diusahakan oleh petani berskala kecil, hanya sebagian yang diusahakan oleh Badan Usaha Milik Negara.
Nilai keekonomian tembakau juga dianggap tinggi. Sebagai perbandingan, misalnya di Pamekasan, Madura. Harga komoditas unggulan lainnya yaitu garam dipatok Rp250.000/ton dengan volume 97.757 ton. Maka perputaran uang hanya mencapai Rp24,4 miliar.
Sementara produksi tembakau rata-rata mencapai 16.583 ton dengan harga sekitar Rp 30.000 per kilogram, maka diperoleh perputaran uang Rp497,5 miliar.
Perusahaan rokok asing seperti Philip Morris, British American Tobacco (BAT), dan Korea Tobacco and Ginseng Korea Selatan (KT&G) juga telah membeli kepemilikan perusahaan-perusahaan kretek nasional. Setidaknya lebih dari 35% pangsa pasar industri kretek Indonesia sudah dikuasai asing.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
INTERNASIONAL
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




