Gelombang Tinggi, Aktivitas Pelelangan Ikan di TPI Bengkulu Sepi

Kamis, 31 Oktober 2019 | 08:11 WIB
U
JS
Penulis: Usmin | Editor: JAS
Ikan tuna di tempat pelelangan ikan
Ikan tuna di tempat pelelangan ikan (Antara)

Bengkulu, Beritasatu.com - Aktivitas pelalangan ikan di sejumlah tempat pelelangan ikan (TPI) di Bengkulu, sejak sepekan ini sepi karena nelayan tidak melaut. Hal ini terjadi karena gelombang tinggi disertai badai melanda perairan laut Bengkulu.

Dari pantuan Suara Pembaruan di TPI Pulau Baai, Bengkulu, Rabu (30/10/2019), terlihat aktivitas nelayan membongkar ikan hasil tangkap untuk dilelang sedikit sekali. Hal ini terjadi banyak nelayan tidak melaut karena gelombang tinggi disertai badai.

Biasanya mulai pukul 9.00 WIB, sudah ramai kapal datang ke TPI untuk membongkar ikan, tapi sejak gelombang tinggi disertai badai hingga siang belum ada kapal nelayan merapat ke dermaga TPI untuk menjual hasil tangkapannya.

Selain itu, jika gelombang normal dan semua nelayan melaut ratusan ton ikan dilelang setiap hari di TPI Bengkulu, tapi sejak gelombang tinggi, dan nelayan banyak tidak melaut hanya belasan ton saja ikan yang dilelang di TPI tersebut.

"Sudah sepekan lebih nelayan tradisional di Bengkulu, tidak bisa melaut karena gelombang tinggi di atas 4 meter disertai badai. Nelayan takut kalau dipaksakan melaut akan dihantam gelombang besar," kata Sudin (36), nelayan setempat.

Meski ada nelayan yang nekat berangkat ke laut, tapi mencari ikan pada radius paling jauh 10 mil dari pantai. Mencari ikan ke laut lepas takut disabu gelombang besar, akibatnya hasil tangkapan tidak maksimal.

Selain itu, ikan yang didapat nelayan kualitasnya juga tidak bagus, karena ikan kualitas baik berada di laut lepas. Demikian pula harga jual ikannya juga rendah paling tinggi Rp 25.000/kg.

Hal ini terpaksa dilakukan nelayan kecil ketimbang tidak ada pemasukan selama gelombang besar melanda Bengkulu. "Saya berharap badai dan gelombang tinggi diperairan Bengkulu, segera normal sehingga nelayan bisa kembali melaut," ujarnya.'

Hal senada diungkapkan Marjohan (52), nelayan lainnya. Ia sejak gelombang tinggi dan badai melanda perairan laut Bengkulu, dirinya tidak berangkat ke laut takut tidak kembali lagi ke darat karena disapu gelombang besar.

"Sudah seminggu lebih badai dan gelombang laut melanda Bengkulu, kami nelayan kecil tidak berani ke laut karena gelombang di atas 4 meter. Kalau kita paksakan melaut takut perahu tempelyang kita gunakan dihantam gelombang besar," ujarnya.

Untuk mendapatkan uang guna mengatasi kebutuhan sehari-hari, Marjohan terpaksa menjadi kuli bangunan dan bekerja serabutan sambil menunggu gelombang kembali normal. "Selama tidak melaut kerja apa tidak masalah. Yang penting dapat uang dan dapur bisa mengepul," ujarnya.

Sejak gelombang diperairan laut Bengkulu, tinggi di atas 4 meter bukan hanya nelayan tidak melaut, tapi KM Pulo Tello yang melayani rute Bengkulu-Enggano dan sebaliknya juga berhenti berlayar.

"Kita terpaksa menunta keberangkatan ke Enggano karena gelombang tinggi. Kita akan berangkat lagi setelah gelombang benar-benar normal dan tidak ada lagi badai. Sekarang kita tidak berani berlayar karena ombak besar," kata karyawan PT ASDP Bengkulu, Martinnus.

Dijelaskan, jika cuaca normal KM Pulo Tello melayari Bengkulu-Enggano, dan sebaliknya dua kali seminggu, tapi bila cuaca buruk seminggu sekali belum tentu berlayar. "Kita tidak berani memaksakan berlayar saat gelombang tinggi, karena laut yang kita lintasi merupakan laut lepas," ujarnya.

Sementara itu, Kepala BMKG Kepahiang, Bengkulu, Wardoyo mengatakan, saat ini gelombang diperairan laut Bengkulu, tinggi disertai badai. Hal ini dampak dari perubahan cuaca dari kemarau ke musim hujan.

"Dalam sepekan ini gelombang di perairan laut Bengkulu, tinggi di atas 4 meter disertai banjir. Hal ini terjadi dampak dari perubahan iklam dari kemarau ke musim hujan. Intensitas hujan akan meningkat pada minggu ke November," ujarnya.

Menghadapi musim hujan, Wardoyo mengimbau masyarakat Bengkulu, terutama bagi yang menetap di DAS dan lerang bukit, agar mewaspadai ancaman banjir dan longsor. Sebab, mulai pertengahan November intensitas hujan di Bengkulu, akan merata dan meningkat, sehingga berpotensi terjadi banjir dan longsor," ujarnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon