Politisi Muda Diharapkan Bangun Politik Beradab
Rabu, 27 November 2019 | 15:24 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Politisi muda diharapkan dapat membangun politik yang beradab di Indonesia. Saat ini, ada banyak peluang lahirnya politisi muda dan sudah mulai mewarnai perjalanan demokrasi politik nasional.
"Peluang munculnya politisi muda sangat terbuka lebar. Dari UU yang ada, untuk kepala daerah minimal 25 tahun, Gubernur 30 tahun. Bahkan syarat capres cuma 35 tahun dan anggota DPR DPRD 21 tahun," kata pengamat politik Universitas Paramadina Djayadi Hanan dalam Seminar Publik bertema "Membangun Kaukus Politisi Muda Sebagai Blok Politik: Jalan Menuju Politik Beradab di Indonesia" di Jakarta, Rabu (27/11/2019).
Menurutnya, saat ini komposisi anggota DPR berusia 21 sampai 40 tahun ada 95 orang atau 16,52 persen. Jumlah ini sedikit mengalami kenaikan dibandingkan periode sebelumnya.
"Anak muda sudah mulai mewarnai politik. Begitu juga kepala daerah sudah mulai banyak yang hadir dari kalangan muda," ucap Direktur Eksekutif LSI itu.
Namun demikian, dikatakan Djayadi, dukungan partai politik untuk masuknya politisi muda masih sangat minim. Padahal, hampir 50,1 persen masyarakat sangat menghendaki politisi muda menduduki jabatan penting di struktur kepartaian.
"Terkait dukungan politisi muda di parpol, sekitar 50,1 persen masyarakat menginginkan munculnya elite politik muda. Tetapi sampai sekarang ini, hampir seluruh parpol, mulai dari Ketum, Sekjen, rata-rata bukan berasal dari kalangan muda," ujarnya.
Padahal, menurutnya, jika parpol bisa memanfaatkan keberadaan politisi muda, maka akan menerima efek dari bonus demografi. Dalam periode sekarang ini dan beberapa tahun ke depan, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, di mana angkatan kerja muda akan lebih banyak dan bisa ditarik ke calon pemilih partai.
"Belum lagi makin berkembangnya Internet of Things (IOT), karena yang lebih akrab internet adalah generasi muda. Politisi muda memiliki keunggulan dalam kemampuan dan kecepatan mengunakan IOT," ucap Dyajadi.
Namun demikian, di tengah banyaknya peluang, juga ada banyak tantangan untuk mewujudkan Politisi muda yang mampu mendorong politik yang beradab. Salah satu tantangan terberatnya adalah orang Indonesia cenderung tidak suka berpolitik.
"Tantangannya orang Indonesia tidak tertarik politik, yang tertarik politik stagnan atau malah cenderung menurun. Selain itu adanya persepsi negatif dan kepercayaan yang rendah terhadap politisi," kata Djayadi.
Dikatakan, lembaga DPR maupun Partai politik sampai dengan saat ini masih menjadi lembaga yang paling rendah dipercaya publik. Hampir mayoritas masyarakat melihat, DPR maupun Parpol hanya lembaga yang memperjuangkan kepentingannya sendiri.
"Lembaga DPR dan partai politik posisinya selalu di bawah dibandingkan lembaga-lembaga yang lain. Mayoritas masyarakat menganggap parpol hanya mementingkan kepentingan kelompoknya sendiri," ucapnya.
Kauskus Muda Parlemen DPR, Anggia Ermarini, menilai, politisi muda ke depannya sangat diharapkan dapat terus membawa isu-isu moderat ketimbang isu politik identitas seperti yang selama ini terjadi di Indonesia. Jika tidak, maka sulit mengharapkan terciptanya politik yang beradab.
"Yang harus didorong oleh politisi muda adalah munculnya isu-isu moderat. Jangan malah ikut memunculkan isu-isu politik identitas," kata Anggia Ermarini.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini Jumat 15 Mei 2026




