Secara Umum, Pilgub DKI Berjalan Sukses
Rabu, 11 Juli 2012 | 21:53 WIB
Sosok atau figur yang berpengalaman melakukan perubahan menjadi pilihan.
Keberhasilan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukad) kali ini, merupakan keberhasilan warga yang sudah berpartisipasi. Sosok atau figur yang berpengalaman melakukan perubahan menjadi pilihan.
"Pemilukada kali ini berhasil. Memang ada beberapa kelemahan dalam hal Daftar Pemilih Tetap (DPT). Saya dan teman-teman masih banyak menemukan ada orang yang tak terdaftar sehingga tidak bisa memilih. Hal-hal seperti ini masih terjadi dan DPT masih menjadi problem. Namun, Pemilukad sudah berjalan dengan lancar dan secara umum berjalan baik," ujar Pengamat Pemilu, Jerry Sumampouw, kepada Beritasatu.com, Rabu (11/7).
Dikatakan Jerry, partisipasi masyarakat dalam Pemilukada mencapai 65 persen atau naik 5 persen dari 0sebelumnya. "Kalau dilihat dari tingkat partisipasi masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya, diperkirakan masih ada 35 persen. Angka tersebut memang masih tinggi, tapi normalnya pemilihan di Jakarta memang sekitar itu. Dibandingkan pemilihan sebelumnya, ada peningkatan sekitar 5 persen," tambahnya.
Jerry menuturkan, keberhasilan Pemilukada kali ini adalah kesuksesan warga, bukan penyelenggara. "Kita harus apresiasi warga DKI Jakarta yang memberikan partisipasi dalam Pemilukada kali ini. Keberhasilan Pemilukada ini bukan keberhasilan penyelenggara, partai politik atau tim sukses, namun keberhasilan masyarakat," terangnya.
Menyoal apa yang harus diperbaiki ke depan, Jerry mengatakan kualitas DPT dan profesional penyelanggara harus ditingkatkan.
"Perbaikan yang harus dilakukan ke depan sudah pasti soal DPT. Kemudian, profesional penyelenggara harus lebih didorong berkaitan dengan cara kerja, mental, dan kesungguhannya," katanya.
Kawal Rekapitulasi Suara
Pemilihan sudah dilakukan. Tantangan ke depan adalah mengawasi dan mengawal penghitungan suara dengan baik dan benar, sehingga tak terjadi manipulasi.
"Buat saya sekarang yang terpenting, berkaitan dengan hasil Pemilukada kali ini, proses rekapitulasi harus dikawal dengan baik. Karena, kemungkinan manipulasi penghitungan suara masih tinggi. Soalnya, incumbent kalah dan berada diurutan kedua. Memang (incumbent) masih aman, tapi tak sesuai target Pemilukada satu putaran. Sehingga, ada kerawanan terjadinya manipulasi," ungkap Jerry.
Karena itu, terang Jerry, pengitungan suara harus dikawal dengan baik. Sehingga hasilnya benar-benar nyata suara rakyat.
"Kita harus ingatkan Panwaslu dan timses untuk mengawal dan mengawasai kotak suara dengan maksimal. Sehingga, hasilnya nanti mencerminkan suara rakyat. Harus diwaspadai dan dicermati dengan baik," tegasnya.
Lebih lanjut Jerry mengatakan, hasil Pemilukada saat ini memutar balikan seluruh prediksi awal para lembaga survei yang menyatakan incumbent menang satu putaran.
"Peta politik Jakarta tidak ada yang bisa menduga. Masyarakat DKI Jakarta itu umumnya berpola plural, pandangan dan sikapnya terbuka. Ternyata, sekarang incumbent ada di urutan kedua," paparnya.
Selain itu, ungkap Jerry, masyarakat sudah paham dan cerdas, sehingga politik uang tidak efektif sama sekali untuk mempengaruhi hasil. "Warga nyatannya tetap konsisten dengan logikanya memilih berdasarkan rasional. Artinya politik uang gagal total."
Jerry memaparkan, saat ini yang menonjol adalah sosok atau figur. Partai politik ternyata tidak efektif. Dukungan partai tidak solid atau terpecah. Yang cukup kelihatan solid itu hanya PDIP dan Gerinda dalam mendukung Joko Widodo dan Basuki Purnama. Sementara, misalnya PKS ternyata tidak solid atau terpecah.
"Figur seperti apa? Figur yang cenderung punya pengalaman melakukan perubahan. Jokowi dan Basuki sudah punya pengalaman dan itu menjadi modal kuat mereka. Kalau Foke, masyarakat tahu selama ini tidak ada perubahan apa-apa. Pasangan lain, mungkin pintar dan hebat, namun belum ada pengalamannya," tandasnya.
Keberhasilan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukad) kali ini, merupakan keberhasilan warga yang sudah berpartisipasi. Sosok atau figur yang berpengalaman melakukan perubahan menjadi pilihan.
"Pemilukada kali ini berhasil. Memang ada beberapa kelemahan dalam hal Daftar Pemilih Tetap (DPT). Saya dan teman-teman masih banyak menemukan ada orang yang tak terdaftar sehingga tidak bisa memilih. Hal-hal seperti ini masih terjadi dan DPT masih menjadi problem. Namun, Pemilukad sudah berjalan dengan lancar dan secara umum berjalan baik," ujar Pengamat Pemilu, Jerry Sumampouw, kepada Beritasatu.com, Rabu (11/7).
Dikatakan Jerry, partisipasi masyarakat dalam Pemilukada mencapai 65 persen atau naik 5 persen dari 0sebelumnya. "Kalau dilihat dari tingkat partisipasi masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya, diperkirakan masih ada 35 persen. Angka tersebut memang masih tinggi, tapi normalnya pemilihan di Jakarta memang sekitar itu. Dibandingkan pemilihan sebelumnya, ada peningkatan sekitar 5 persen," tambahnya.
Jerry menuturkan, keberhasilan Pemilukada kali ini adalah kesuksesan warga, bukan penyelenggara. "Kita harus apresiasi warga DKI Jakarta yang memberikan partisipasi dalam Pemilukada kali ini. Keberhasilan Pemilukada ini bukan keberhasilan penyelenggara, partai politik atau tim sukses, namun keberhasilan masyarakat," terangnya.
Menyoal apa yang harus diperbaiki ke depan, Jerry mengatakan kualitas DPT dan profesional penyelanggara harus ditingkatkan.
"Perbaikan yang harus dilakukan ke depan sudah pasti soal DPT. Kemudian, profesional penyelenggara harus lebih didorong berkaitan dengan cara kerja, mental, dan kesungguhannya," katanya.
Kawal Rekapitulasi Suara
Pemilihan sudah dilakukan. Tantangan ke depan adalah mengawasi dan mengawal penghitungan suara dengan baik dan benar, sehingga tak terjadi manipulasi.
"Buat saya sekarang yang terpenting, berkaitan dengan hasil Pemilukada kali ini, proses rekapitulasi harus dikawal dengan baik. Karena, kemungkinan manipulasi penghitungan suara masih tinggi. Soalnya, incumbent kalah dan berada diurutan kedua. Memang (incumbent) masih aman, tapi tak sesuai target Pemilukada satu putaran. Sehingga, ada kerawanan terjadinya manipulasi," ungkap Jerry.
Karena itu, terang Jerry, pengitungan suara harus dikawal dengan baik. Sehingga hasilnya benar-benar nyata suara rakyat.
"Kita harus ingatkan Panwaslu dan timses untuk mengawal dan mengawasai kotak suara dengan maksimal. Sehingga, hasilnya nanti mencerminkan suara rakyat. Harus diwaspadai dan dicermati dengan baik," tegasnya.
Lebih lanjut Jerry mengatakan, hasil Pemilukada saat ini memutar balikan seluruh prediksi awal para lembaga survei yang menyatakan incumbent menang satu putaran.
"Peta politik Jakarta tidak ada yang bisa menduga. Masyarakat DKI Jakarta itu umumnya berpola plural, pandangan dan sikapnya terbuka. Ternyata, sekarang incumbent ada di urutan kedua," paparnya.
Selain itu, ungkap Jerry, masyarakat sudah paham dan cerdas, sehingga politik uang tidak efektif sama sekali untuk mempengaruhi hasil. "Warga nyatannya tetap konsisten dengan logikanya memilih berdasarkan rasional. Artinya politik uang gagal total."
Jerry memaparkan, saat ini yang menonjol adalah sosok atau figur. Partai politik ternyata tidak efektif. Dukungan partai tidak solid atau terpecah. Yang cukup kelihatan solid itu hanya PDIP dan Gerinda dalam mendukung Joko Widodo dan Basuki Purnama. Sementara, misalnya PKS ternyata tidak solid atau terpecah.
"Figur seperti apa? Figur yang cenderung punya pengalaman melakukan perubahan. Jokowi dan Basuki sudah punya pengalaman dan itu menjadi modal kuat mereka. Kalau Foke, masyarakat tahu selama ini tidak ada perubahan apa-apa. Pasangan lain, mungkin pintar dan hebat, namun belum ada pengalamannya," tandasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




