Radiasi di Batan Indah Bukan Akibat Kebocoran Reaktor
Senin, 17 Februari 2020 | 20:24 WIB
Tangerang Selatan, Beritasatu.com - Adanya serpihan radioaktif di Perumahan Batan Indah dipastikan bukan berasal dari kecelakaan atau kebocoran reaktor riset G.A. Siwabessy. Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Anhar Riza Antariksawan, memastikan hingga saat ini reaktor yang dioperasikan sejak 1987 tetap beroperasi dengan aman dan selamat.
Menurutnya, di reaktor nuklir, Cs-137 adalah produk fisi yang berada di bahan bakar dan hanya akan terlepas jika ada kejadian yang melibatkan kerusakan bahan bakar.
"Jika pelepasan terjadi, pasti akan langsung terdeteksi oleh sistem pemantau radiasi yang ada di gedung reaktor. Kalau ada yang terlepas di udara, maka akan tercatat oleh sistem pemantau radioaktivitas lingkungan yang ada," kata Anhar dalam pernyataan tertulisnya, Senin (17/2).
Ia pun mempersilakan semua pihak untuk mengecek apakah ada kenaikan paparan radiasi dan berapa besar paparan selama ini. Pengukuran oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) pada saat penemuan adanya paparan di atas ambang di lokasi lahan kosong di perumahan Batan Indah juga menunjukkan bahwa tidak ada paparan di area lain yang dipantau dari Pamulang hingga Stasiun Serpong, semuanya normal.
Andaikan itu penyebaran dari reaktor, tambah Anhar, sudah pasti tidak terlokalisir seperti yang ditemukan karena akan mengikuti arah angin.
Menindaklanjuti temuan tersebut, Anhar langsung membentuk tim yang terdiri dari sejumlah pekerja radiasi dan petugas proteksi radiasi terlatih untuk melakukan pembersihan di lokasi ditemukannya zat radioaktif. Tim tersebut juga dibagi dengan kelompok penganalisis radiologi, medik dan unit pengamanan nuklir.
"Hingga saat ini, bersama Bapeten dan didukung pula oleh Pemkot Tangsel dan Detasemen KBR (Kimia, Biologi dan Radioaktif) masih berlangsung proses clean up yang dilakukan oleh para pekerja yang berkompeten," paparnya.
Material yang diperkirakan sumber yang memancarkan radiasi paling besar telah diangkat. Saat ini zat tersebut diteliti oleh Bapeten.
"Dengan kejadian ini saya berharap masyarakat dapat memahami bahwa temuan adanya zat radioaktif oleh Bapeten, saat ini telah ditangani dengan baik oleh pihak yang berkompeten di bidangnya, kami all out, semuanya akan kami lakukan," kata Anhar.
Radioaktif atau zat radioaktif adalah zat yang senantiasa memancarkan radiasi. Radiasi di sini biasanya lebih merujuk kepada radiasi nuklir, radiasi yang dipancarkan dari inti atom. Radiasi ini dapat berupa radiasi gamma, radiasi beta, radiasi alfa atau sinar-X. Radiasi ini memiliki energi yang tinggi sehingga dapat menyebabkan terbentuknya ion.
Zat radioaktif ini ada juga di alam, termasuk di dalam tubuh manusia. Oleh sebab itu, semua orang setiap saat senantiasa mendapatkan paparan radiasi alam, baik dari luar tubuh maupun dari dalam tubuh. Secara umum setiap manusia mendapatkan paparan radiasi alam pada kisaran 2 miliSievert (mSv) per tahun.
Sumber radiasi di alam bisa terdapat di uranium, thorium, kalium radioaktif dan gas radon radioaktif. Selain itu ada pula radioisotop alam dari sinar dari angkasa/sinar kosmik. Radiasi yang dapat ditoleransi, misalnya berdasarkan peraturan Kepala Bapeten untuk pekerja radiasi sampai 20 mSv per tahun. Sedangkan sinar rontgen berbeda-beda, pada kisaran 0,1 mSv sekali pemotretan.
Dalam ukuran kecil seperti yang ada di alam, zat radioaktif tidak berbahaya bagi manusia. Oleh sebab itu sampai jumlah tertentu zat radioaktif dapat digunakan untuk diagnosis ataupun terapi dan tidak membahayakan bagi tubuh.
Jika berada di atas ambang batas normal atau yang ditoleransi bisa membahayakan manusia. Paparan radioaktif berat bisa menyebabkan kerusakan jaringan kulit, DNA, sistem pencernaan, kanker hingga kematian.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




