Olimpiade jadi Ajang Pembuktian Diri Diaz Kusumawardhani

Selasa, 17 Juli 2012 | 15:09 WIB
AA
B
Penulis: Ami Afriatni/ Arsito | Editor: B1
Diaz Kusumawardhani.
Diaz Kusumawardhani. (Antara)
Saat pemberitahuan diterima, Diaz sedang berlatih di Kodam V Brawijaya dalam rangka persiapan Jatim menuju PON XVIII.

Usia belia bukanlah penghalang bagi Diaz Kusumawardhani untuk menunjukkan kapasitasnya sebagai atlet masa depan tanah air. Meskipun, remaja berusia 16 tahun ini pun tak menyangka sama sekali bahwa cabang olahraga menembak yang selama dua tahun ini ditekuninya mampu membawanya ke panggung internasional.

Tampil cukup gemilang di nomor air rifle 10 meter putri di Kejuaraan Menembak Asia, Januari lalu, di Qatar, Diaz pun dipercaya oleh Pengurus Besar Persatuan Menembak Indonesia (PB Perbakin) untuk menerima wild card yang diberikan untuk Indonesia di ajang Olimpiade 2012. Diaz pun menjadi wakil termuda kontingen Indonesia di London nanti.

"Sebulan lalu dapat panggilan dari Perbakin. Saya kaget sekaligus senang, karena nggak pernah nyangka. Apalagi waktu itu lagi heboh-hebohnya soal (pemilihan atlet) ke London,” ujar remaja kelahiran 2 November 1995 itu, Selasa (17/7).

Ketika pemberitahuan itu diterima, Diaz sendiri mengaku masih terus berlatih di Kodam V Brawijaya, dalam rangka mempersiapkan diri untuk mewakili Provinsi Jawa Timur (Jatim) di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII di Riau, September mendatang.

Sementara, tak hanya untuk menghadapi PON dan Olimpiade, Diaz juga terus mempersiapkan diri untuk menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS). Karena itu, wajar jika seberkas kekhawatiran sempat terselip di hati siswa kelas IX SMA 2 Sidoarjo, Jatim ini.

"Kekhawatiran terbesar saya adalah nanti ketika UAS malah drop, karena padatnya jadwal kompetisi. Ada Olimpiade dan PON," ujar Diaz yang baru-baru ini juga mewakili Indonesia di ajang ASEAN School Games di Surabaya itu.

Namun begitu, dukungan dari orang tua, teman-teman dan guru-gurunya di sekolah, cukup membuat Diaz berbesar hati kembali. "Dukungan keluarga sangat berarti. Apalagi olahraga ini tidak murah. Butuh biaya yang cukup tinggi," katanya.

"Orang tua saya tidak pernah setengah-setengah dalam mendukung saya. Kalau mereka tanggung-tanggung, mungkin saya nggak akan kayak begini," ujar putri tunggal pasangan Eddy Harianto dan Tresna Kusumawati tersebut.

"Teman-teman sekolah juga terus kasih saya semangat, biarpun pada awalnya nggak banyak yang tahu saya berangkat ke Olimpiade," katanya.

Mengingat perjuangan keras orang tuanya, terutama sang mama yang memperkenalkannya dengan olahraga ini, Diaz jelas tak ingin menyia-nyiakannya begitu saja. Sang mama pula yang terus memberikannya semangat ketika bad mood melanda. Ya, tingkat konsentrasi yang tinggi yang dituntut cabang ini seringkali membuat Diaz bosan.

"Mood yang jelek menjadi satu-satunya kesulitan selama latihan, karena olahraga ini kan nggak dinamis. Kadang saya suka malas, lalu saya break latihan. Mama terus kasih ceramah bertubi-tubi," ujarnya.

Oleh karena itu, di usianya yang masih belia, Diaz mantap untuk menekuni olahraga yang membawanya hingga seperti saat ini. Di London nanti, Diaz pun memasang target realistis. Dia mengaku hanya ingin memperbaiki skor kualifikasi minimum (mqs) 388 poin yang dia raih saat tampil di Qatar lalu.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon