Gedung DPR 32 Lantai? Mengapa Tidak?
Senin, 6 September 2010 | 05:15 WIBNah, itu sebabnya gedung baru kami dibuat 32 lantai. Bukankah ini nanti bisa menjadi tempat penampungan sementara korban banjir?
Di sebuah ibu kota negara yang kaya akan sumber alam, gedung 32 lantai ini sangat layak. Para wakil rakyat yang terhormat memerlukan tempat kerja yang nyaman, tenteram, tak terusik hingar-bingar lalu-lintas, dan demonstrasi.
Dan tentu saja kantor yang bebas polusi (mungkin juga polisi yang mau mengusut korupsi).
Sebuah gedung 32 lantai, lengkap dengan segala yang dibutuhkan. Dari sekadar counter toko kelontong yang menjual permen dan rokok sampai ruang mandi uap dan landasan helikopter. Ini akan mengobati rasa kantuk, dan membuat semua rajin ke kantor.
Tak tahukah anda bahwa selama ini kami belum maksimal bekerja karena gedung sudah miring? Siapa tahu sewaktu-waktu ambruk, kan berabe. Itulah mengapa di antara kami yang peduli keselamatan dalam bekerja, sering mangkir.
Nah, soal gedung miring ini juga andil pada kegagalan kami, antara lain, gagal mengungkapkan kasus Bank Century. Juga menjadikan kami kesulitan mencecar Kapolri dan Jaksa Agung agar berbicara jujur, adakah rekaman percakapan Ary dan Ade Rahardja itu.
Bagaimanapun kami ini harus membela KPK. Jadi jangan sampai hanya karena kantor yang miring, pemberantasan korupsi macet karena kami tak bisa mendukung KPK, misalnya dengan memilih ketua yang cocok, yang bisa memahami kami.
Walau, sebagian rekan-rekan kami dituduh oleh KPK menerima uang terima kasih, entah dari mana, setelah mereka berhasil menggolkan Miranda Gultom menjadi deputi senior gubernur BI. Tapi belajar dari yang terjadi, mereka nanti andai dijatuhi hukuman, akan ringan saja.
Dengan gedung baru kami tak harus malu menerima kunjungan rekan-rekan anggota parlemen dari negara mana pun, apalagi dari negara maju. Kami bisa mengatakan, inilah prestasi kami, memberi contoh kantor yang layak untuk mereka yang kerja keras.
Lo, kok banyak tempat santainya? Ruang kebugaran? Kolam renang dan spa? Lalu ruang entah apalagi? Benar, ini memang direncanakan begitu, sebagai contoh; kan kita semua harus kerja keras dan santai keras juga?
Mereka yang tak setuju gedung baru ini sesungguhnya hanya iri. Mengapa mereka tak punya gagasan secemerlang kami? Nantilah, kalau gedung sudah selesai, kami undang mereka berkunjung.
Tentu saja datanglah dengan busana yang cocok untuk gedung baru, jangan pakai sepatu sendal, apalagi sendal. Dan jangan lupa berjas dan dasi, agar tampak bahwa kami ini bangsa yang menghargai kerapian dan gengsi.
Lagi pula, gedung ini bisa menjadi objek wisata. Ini akan meningkatkan jumlah wisman ke Jakarta. Nah, devisa pun bakal naik karena gedung ini. Wisman? Itu, lo, wisatawan mancanegara, akronim kita memang suka membingungkan.
Bukankah di Rusia seorang bekas polisi yang membocorkan korupsi di kantornya kini bekerja menjadi pemandu wisata khusus perpiknikan melihat-lihat rumah-rumah perwira polisi yang mewah? Kita tak boleh ketinggalan.
Pak, tapi dulu, akhir 1980-an, ada film yang mengungkapkan bahwasanya sebagian rakyat kita masih beratap langit, berselimut kabut? Itu film Mas Slamet Rahardjo, Langitku Rumahku.
Woo, itu film memang bagus, dan mendapat hadiah, tapi tidak cocok untuk kita. Buktinya, film itu tak laku, cuma sehari-dua lalu hilang dari gedung bioskop. Film itu memberi contoh yang buruk, apa pun alasannya, bahwa kita harus bermiskin-miskin.
Pak, numpang tanya, apakah dapur gedung baru nanti menggunakan kompor gas?
Dapur? Kompor gas? Wah, belum dicek itu, kami sedang sibuk berdebat, apakah kolam renang itu nanti kolam biasa, atau kolam renang baru seperti di Ancol, yang berair dengan berat jenis tinggi, agar orang bisa terapung dengan sendirinya,.
Kan sebagian besar kami tidak bisa berenang. Percuma dong, kolam renang hanya untung kungkum.
Jadi kompor gas, Pak? Hati-hati, bisa meledak seperti kejadian belakangan ini, di rumah-rumah rakyat, sudah banyak korban, mesti tahu cara memakainya. Kalau tercium bau gas, harus cepat dimatikan dan dibawa ke luar ruangan.
Ya, ya, terima kasih kami telah diingatkan soal kompor gas itu.
Satu lagi, Bung, gedung ini berada di Jakarta, yang di sejumlah tempat menjadi langganan banjir. Nah, itu sebabnya gedung baru kami dibuat 32 lantai. Bukankah ini nanti bisa menjadi tempat penampungan sementara korban banjir?
Begitulah, sekali lagi, ini semua sudah dipikirkan dengan njelimet. Lo, apa? Masih ada pertanyaan? O, soal angka Rp 1, 6 triliun? Bahwa ini rawan dikorupsi?
Ah, tak usah khawatir, sehabis Lebaran kami akan memilih ketua KPK, ketua yang bisa memahami kami, yang tidak kebablasan, yang tidak radikal. Yang, dalam jangka pendek, memahami gedung 32 lantai ini. Tunggu saja undangan peresmian gedung itu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




