Pendukung PKS dan Independen Diprediksi akan Abstain
Selasa, 17 Juli 2012 | 18:19 WIB
Memasuki Pemilu Kada DKI putaran kedua, Political Research Institute for Democracy (PRIDe) Indonesia memprediksi jumlah pemilih golongan putih (golput) akan semakin tinggi.
Hal itu dikarenakan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) amat mungkin tidak akan memilih kedua pasangan calon tersebut dan membebaskan seluruh kadernya untuk memilih atas pilihan pribadi.
Selain itu, para pendukung independen akan apatis terhadap dua pasangan calon itu karena didukung oleh partai politik.
Peneliti PRIDe Indonesia Agus Herta Sumarto mengatakan dipastikan pasangan calon yang diusung PKS Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini tidak masuk dalam putaran kedua, karena dari hasil penghitungan cepat sejumlah lembaga survei, keduanya hanya mendapatkan perolehan suara sekitar 11%.
Langkah selanjutnya yang harus diambil oleh PKS adalah menentukan pilihan untuk mendukung pasangan Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara) dan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang melangkah dalam putaran kedua.
"Dan ini merupakan dilema besar yang dihadapi PKS. Partai ini tidak mungkin mendukung salah satu dari dua pasangan calon yang akan melaju ke putaran kedua," kata Agus dalam Diskusi Survei Pemilukada DKI Jakarta tentang Survei, Ilmiah atau Dagang, di Wisma Kodel, Jakarta, Selasa (17/7).
Dilema besar, karena secara chemistry PKS tidak memiliki relasi kuat dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang menjadi sponsor utama Jokowi, jelas Agus.
Tetapi kalau PKS menentukan pilihan memilih pasangan calon petahana, akan timbul tuduhan yang mencap partai bernafaskan Islam ini sebagai partai oportunis dan pragmatis yang akan memengaruhi citra PKS di mata warga Jakarta.
Tentunya, partai ini tidak mau dicap mencari keuntungan di tengah-tengah perjuangan membangun Jakarta yang selama ini didengungkan Hidayat-Didik, papar Agus.
"Karena itu, kemungkinan besar PKS akan bersikap netral. Tidak memilih petahana maupun pasangan yang diusung PDIP dan Gerindra tersebut. PKS akan mengambil langkah aman, yaitu mempersilakan kader dan seluruh simpatisannya memilih secara bebas sesuai dengan hati nurani mereka," ujarnya.
Namun, para pendukung calon independen seperti Faisal Basri-Biem Benjamin dan Hendardji-Ahmad Riza Patria akan bertindak lebih ekstrim lagi.
Para pendukung dua pasangan calon ini juga lebih cenderung tidak akan memilih calon incumbent (petahana) atau tidak memilih keduanya alias golput.
“Para pendukung calon independen yang tidak memilih ini alias golput, adalah orang-orang yang menginginkan perubahan bagi Jakarta melalui pemimpin nonincumbent dan nonpartai. Sebab, terlepas dari janji-janji politik yang akan menyengsarakan rakyat,” tuturnya.
Sementara bagi para pendukung calon independen yang memutuskan menggunakan hak suaranya, paparnya, mereka cenderung akan memilih pasangan nonincumbent, yang dalam hal ini ada pada pasangan Jokowi-Ahok.
Hal ini sangat menguntungkan pasangan calon Jokowi –Ahok untuk mendapatkan perolehan suara yang diprediksikan tinggal 7% lagi dari hasil quick count yang menyatakan perolehan suaranya mencapai 42% lebih.
Tidak hanya itu, penambahan suara untuk Jokowi-Ahok juga akan didapat dari pendukung pasangan calon Alex Noerdin-Nono Sampono.
"Jika suara dari Faisal-Biem, Hendardji-Riza dan Alex-Nono lari ke pasangan Jokowi-Ahok, maka pasangan nomor urut 3 ini akan menang telak dalam putaran kedua. Dapat diprediksikan perolehan suara Jokowi-Ahok pada putaran kedua akan mecapai 55 hingga 60%," imbuhnya.
Hal itu dikarenakan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) amat mungkin tidak akan memilih kedua pasangan calon tersebut dan membebaskan seluruh kadernya untuk memilih atas pilihan pribadi.
Selain itu, para pendukung independen akan apatis terhadap dua pasangan calon itu karena didukung oleh partai politik.
Peneliti PRIDe Indonesia Agus Herta Sumarto mengatakan dipastikan pasangan calon yang diusung PKS Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini tidak masuk dalam putaran kedua, karena dari hasil penghitungan cepat sejumlah lembaga survei, keduanya hanya mendapatkan perolehan suara sekitar 11%.
Langkah selanjutnya yang harus diambil oleh PKS adalah menentukan pilihan untuk mendukung pasangan Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara) dan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang melangkah dalam putaran kedua.
"Dan ini merupakan dilema besar yang dihadapi PKS. Partai ini tidak mungkin mendukung salah satu dari dua pasangan calon yang akan melaju ke putaran kedua," kata Agus dalam Diskusi Survei Pemilukada DKI Jakarta tentang Survei, Ilmiah atau Dagang, di Wisma Kodel, Jakarta, Selasa (17/7).
Dilema besar, karena secara chemistry PKS tidak memiliki relasi kuat dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang menjadi sponsor utama Jokowi, jelas Agus.
Tetapi kalau PKS menentukan pilihan memilih pasangan calon petahana, akan timbul tuduhan yang mencap partai bernafaskan Islam ini sebagai partai oportunis dan pragmatis yang akan memengaruhi citra PKS di mata warga Jakarta.
Tentunya, partai ini tidak mau dicap mencari keuntungan di tengah-tengah perjuangan membangun Jakarta yang selama ini didengungkan Hidayat-Didik, papar Agus.
"Karena itu, kemungkinan besar PKS akan bersikap netral. Tidak memilih petahana maupun pasangan yang diusung PDIP dan Gerindra tersebut. PKS akan mengambil langkah aman, yaitu mempersilakan kader dan seluruh simpatisannya memilih secara bebas sesuai dengan hati nurani mereka," ujarnya.
Namun, para pendukung calon independen seperti Faisal Basri-Biem Benjamin dan Hendardji-Ahmad Riza Patria akan bertindak lebih ekstrim lagi.
Para pendukung dua pasangan calon ini juga lebih cenderung tidak akan memilih calon incumbent (petahana) atau tidak memilih keduanya alias golput.
“Para pendukung calon independen yang tidak memilih ini alias golput, adalah orang-orang yang menginginkan perubahan bagi Jakarta melalui pemimpin nonincumbent dan nonpartai. Sebab, terlepas dari janji-janji politik yang akan menyengsarakan rakyat,” tuturnya.
Sementara bagi para pendukung calon independen yang memutuskan menggunakan hak suaranya, paparnya, mereka cenderung akan memilih pasangan nonincumbent, yang dalam hal ini ada pada pasangan Jokowi-Ahok.
Hal ini sangat menguntungkan pasangan calon Jokowi –Ahok untuk mendapatkan perolehan suara yang diprediksikan tinggal 7% lagi dari hasil quick count yang menyatakan perolehan suaranya mencapai 42% lebih.
Tidak hanya itu, penambahan suara untuk Jokowi-Ahok juga akan didapat dari pendukung pasangan calon Alex Noerdin-Nono Sampono.
"Jika suara dari Faisal-Biem, Hendardji-Riza dan Alex-Nono lari ke pasangan Jokowi-Ahok, maka pasangan nomor urut 3 ini akan menang telak dalam putaran kedua. Dapat diprediksikan perolehan suara Jokowi-Ahok pada putaran kedua akan mecapai 55 hingga 60%," imbuhnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




