Dinamika Islam Di Jawa Dan Konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar
Rontal 2: Dinamika Islam Di Jawa Dan Konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar
Jumat, 20 Juli 2012 | 16:14 WIB
Rontal 2: Sekar Mancawarna Wali Sanga dan Syekh Siti Jenar
(Sepercik Kisah Dari Jawa Di awal Zaman Peralihan) karya Damar Shashangka
Tubuh yang tegap. Dibalut dengan kain putih, yang dililitkan melingkar sebatas pinggang, tepat diatas paha yang nampak berisi. Paha itu sendiri dibalut dengan wastra sindura (kain kemben yang dominan berwarna merah) yang menutupi celana berwarna hitam. Sosok tersebut, berjalan dengan langkah berat. Sorot matanya tajam, mengarah kedepan. Mata yang dihiasi oleh alis tebal nan hitam. Sehitam rambut panjangnya yang digelung dan diikat diatas ubun-ubun.
Seseorang menghampiri sembari memberikan sembah.
“Aduh Gusti, hawa begitu dingin…”
Dan sosok itu mengangguk, tanpa menjawab. Terus saja melangkahkan kakinya. Di belakang, orang yang baru menghampiri mengikut tanpa bersuara dengan kepala menunduk.
Sosok yang melilitkan kain putih ditubuhnya bergerak menuju ke gêdhogan (kandang kuda). Berhenti tepat tiga tombak didepan pintu gêdhogan. Yang mengikutinya membungkuk memberikan sembah sejenak dan langsung membuka pintu. Terdengar ringkik kuda. Tak berapa lama, seekor kuda sudah tergelandang.
Dengan hati-hati, kuda yang digelandang menggunakan tangan kanan itu, diberikan kepada sosok yang tengah menanti. Kuda yang dipersembahkan tersebut segera diterima. Satu kali lompatan, sosok yang melilitkan kain putih tersebut telah naik diatas punggung kuda.
Sejenak, sang penuntun kuda bergerak kembali ke arah lain. Dimana disana, seekor kuda tampak sudah tercancang dan menunggu untuk dihampiri. Dengan gerak yang cepat dan dengan satu kali lompatan pula, kuda tersebut telah dinaiki.
Ringkikan terdengar saat kendali kuda disentak pelan.
Dan kuda-kuda itu, bergerak pelahan dengan nafasnya yang mendengus-dengus kedinginan. Seseorang telah membukakan pintu gerbang yang terbuat dari papan kayu jati. Yang lantas memberikan sembah seiring kedua orang yang lewat menuju luar tembok pagar.
Kuda berjalan pelan. Tak tampak hendak dipacu kencang, selayaknya orang hendak bepergian. Kaki-kaki kuda, menjejak tanah yang sengaja dibersihkan dari rerumputan liar. Tanah yang dibuat sebagai jalan.
“Masih pagi yang sama dan tidak pernah membosankan, paman.”
“Singgih, Gusti..”
“Dan masih pula dari dulu paman setia menemani…”
“Aduh, Gusti. Sudah merupakan kewajiban hamba.”
“Dari semenjak jaman Rama Prabhu.”
“Singgih, singgih.”
Kuda meringkik. Berbelok mengikuti jalan. Ada dua orang menuntun kerbau mereka. Sejenak mereka berhenti dan memberikan sembah. Kerbau meronta sejenak.
Sang penunggang kuda yang melilitkan kain putih mengangguk.
“Paman…”
“Hamba, Gusti…”
“Saya tiada bosan-bosan mendengarkan tuturan paman akan Rama Prabhu. Saya masih kecil, teramat kecil untuk bisa mengenali Rama Prabhu.”
“Hamba senantiasa bersedia menuturkan, Gusti.”
(Sepercik Kisah Dari Jawa Di awal Zaman Peralihan) karya Damar Shashangka
Tubuh yang tegap. Dibalut dengan kain putih, yang dililitkan melingkar sebatas pinggang, tepat diatas paha yang nampak berisi. Paha itu sendiri dibalut dengan wastra sindura (kain kemben yang dominan berwarna merah) yang menutupi celana berwarna hitam. Sosok tersebut, berjalan dengan langkah berat. Sorot matanya tajam, mengarah kedepan. Mata yang dihiasi oleh alis tebal nan hitam. Sehitam rambut panjangnya yang digelung dan diikat diatas ubun-ubun.
Seseorang menghampiri sembari memberikan sembah.
“Aduh Gusti, hawa begitu dingin…”
Dan sosok itu mengangguk, tanpa menjawab. Terus saja melangkahkan kakinya. Di belakang, orang yang baru menghampiri mengikut tanpa bersuara dengan kepala menunduk.
Sosok yang melilitkan kain putih ditubuhnya bergerak menuju ke gêdhogan (kandang kuda). Berhenti tepat tiga tombak didepan pintu gêdhogan. Yang mengikutinya membungkuk memberikan sembah sejenak dan langsung membuka pintu. Terdengar ringkik kuda. Tak berapa lama, seekor kuda sudah tergelandang.
Dengan hati-hati, kuda yang digelandang menggunakan tangan kanan itu, diberikan kepada sosok yang tengah menanti. Kuda yang dipersembahkan tersebut segera diterima. Satu kali lompatan, sosok yang melilitkan kain putih tersebut telah naik diatas punggung kuda.
Sejenak, sang penuntun kuda bergerak kembali ke arah lain. Dimana disana, seekor kuda tampak sudah tercancang dan menunggu untuk dihampiri. Dengan gerak yang cepat dan dengan satu kali lompatan pula, kuda tersebut telah dinaiki.
Ringkikan terdengar saat kendali kuda disentak pelan.
Dan kuda-kuda itu, bergerak pelahan dengan nafasnya yang mendengus-dengus kedinginan. Seseorang telah membukakan pintu gerbang yang terbuat dari papan kayu jati. Yang lantas memberikan sembah seiring kedua orang yang lewat menuju luar tembok pagar.
Kuda berjalan pelan. Tak tampak hendak dipacu kencang, selayaknya orang hendak bepergian. Kaki-kaki kuda, menjejak tanah yang sengaja dibersihkan dari rerumputan liar. Tanah yang dibuat sebagai jalan.
“Masih pagi yang sama dan tidak pernah membosankan, paman.”
“Singgih, Gusti..”
“Dan masih pula dari dulu paman setia menemani…”
“Aduh, Gusti. Sudah merupakan kewajiban hamba.”
“Dari semenjak jaman Rama Prabhu.”
“Singgih, singgih.”
Kuda meringkik. Berbelok mengikuti jalan. Ada dua orang menuntun kerbau mereka. Sejenak mereka berhenti dan memberikan sembah. Kerbau meronta sejenak.
Sang penunggang kuda yang melilitkan kain putih mengangguk.
“Paman…”
“Hamba, Gusti…”
“Saya tiada bosan-bosan mendengarkan tuturan paman akan Rama Prabhu. Saya masih kecil, teramat kecil untuk bisa mengenali Rama Prabhu.”
“Hamba senantiasa bersedia menuturkan, Gusti.”
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




