Isu Politik Uang, Ganggu Penjualan Baju Kotak-Kotak
Sabtu, 21 Juli 2012 | 19:11 WIB
Pendukung pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) merasa terganggu dengan isu negatif yang ditiupkan tim sukses (timses) Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara).
Hal tersebut juga dikhawatirkan merusak produksi baju kotak-kotak yang dilakukan untuk mengumpulkan dana kampanye Jokowi-Ahok pada putara kedua pemilu kada DKI Jakarta nanti.
Kendati demikian, produksi baju kotak-kotak terus dijalankan.
"Tudingan dari pasangan Foke-Nara itu dinilai sebagai bentuk pencemaran citra. Terlebih, hal tersebut juga merusak produksi maupun penjualan baju kotak-kotak. Kami tegaskan isu itu merusak citra perjuangan dan merusak produksi baju kotak-kotak," kata relawan Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) Lina, Mustar Bonaventura di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Sabtu (21/7).
Padahal, sambungnya, produksi baju kotak-kotak yang dilakukan seluruh tim relawan semata-mata sebagai wujud dukungan terhadap perjuangan Jokowi-Ahok.
Karena semakin diisukan ada politik uang menggunakan baju kotak-kotak, relawan Pospera tidak akan berhenti memproduksi baju kotak-kotak yang menjadi ciri khas Jokowi-Ahok.
"Kami tetap terus melanjutkan produksi baju kotak-kotak ini. Karena semakin kami dilarang untuk jual baju kotak-kotak, semakin besar orang yang ingin beli baju kotak-kotak," ujarnya.
Secara langsung, Lina membantah ada aksi politik uang yang diselipkan dalam kemeja kotak-kotak. Justru yang diselipkan dalam kemeja kotak-kotak adalah brosur yang berisi visi dan misi pasangan Jokowi-Ahok.
"Itu tidak benar sama sekali," tegasnya.
Koordinator Pospera Mustar Bonaventura, menegaskan timses Jokowi-Ahok tidak mengutamakan uang dalam melakukan kampanye politik pemenangan dan sosialisasi program. Timses dan relawan berupaya menerapkan cara yang tidak membutuhkan biaya yang cukup tinggi.
Salah satu caranya adalah relawan dan kader dari 150 posko Pospera yang ada tersebar di seluruh wilayah Jakarta akan turun langsung ke lapangan menyambangi rumah warga dan menginap disana.
"Mereka menginap di rumah rakyat adalah program utama kami. Masyarakat didekati langsung pribadi ke pribadi. Kita bukan hanya menyampaikan secara langsung tapi juga akan mengenal kehidupan rakyat itu seperti apa," kata Mustar.
Dengan modal tersebut, lanjutnya, tidak diperlukan lagi terlalu banyak sumber daya manusia maupun finansial yang dibutuhkan. Hasil penjualan baju kotak-kotak dan sumbangan beberapa kader partai pendukung sudah memadai untuk memobilisasi relawan ke rumah-rumah warga.
"Tidak hanya relawan, kami juga akan mendorong Jokowi dan Ahok mau menginap di rumah warga selama masa kampanye putaran kedua. Cara ini akan memudahkan keduanya mengenal dan mengetahui secara langsung kehidupan dan masalah yang dihadapi warganya. Sebab, inilah modal utama pemimpin yang besar," papar aktivis Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) ini.
Hal tersebut juga dikhawatirkan merusak produksi baju kotak-kotak yang dilakukan untuk mengumpulkan dana kampanye Jokowi-Ahok pada putara kedua pemilu kada DKI Jakarta nanti.
Kendati demikian, produksi baju kotak-kotak terus dijalankan.
"Tudingan dari pasangan Foke-Nara itu dinilai sebagai bentuk pencemaran citra. Terlebih, hal tersebut juga merusak produksi maupun penjualan baju kotak-kotak. Kami tegaskan isu itu merusak citra perjuangan dan merusak produksi baju kotak-kotak," kata relawan Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) Lina, Mustar Bonaventura di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Sabtu (21/7).
Padahal, sambungnya, produksi baju kotak-kotak yang dilakukan seluruh tim relawan semata-mata sebagai wujud dukungan terhadap perjuangan Jokowi-Ahok.
Karena semakin diisukan ada politik uang menggunakan baju kotak-kotak, relawan Pospera tidak akan berhenti memproduksi baju kotak-kotak yang menjadi ciri khas Jokowi-Ahok.
"Kami tetap terus melanjutkan produksi baju kotak-kotak ini. Karena semakin kami dilarang untuk jual baju kotak-kotak, semakin besar orang yang ingin beli baju kotak-kotak," ujarnya.
Secara langsung, Lina membantah ada aksi politik uang yang diselipkan dalam kemeja kotak-kotak. Justru yang diselipkan dalam kemeja kotak-kotak adalah brosur yang berisi visi dan misi pasangan Jokowi-Ahok.
"Itu tidak benar sama sekali," tegasnya.
Koordinator Pospera Mustar Bonaventura, menegaskan timses Jokowi-Ahok tidak mengutamakan uang dalam melakukan kampanye politik pemenangan dan sosialisasi program. Timses dan relawan berupaya menerapkan cara yang tidak membutuhkan biaya yang cukup tinggi.
Salah satu caranya adalah relawan dan kader dari 150 posko Pospera yang ada tersebar di seluruh wilayah Jakarta akan turun langsung ke lapangan menyambangi rumah warga dan menginap disana.
"Mereka menginap di rumah rakyat adalah program utama kami. Masyarakat didekati langsung pribadi ke pribadi. Kita bukan hanya menyampaikan secara langsung tapi juga akan mengenal kehidupan rakyat itu seperti apa," kata Mustar.
Dengan modal tersebut, lanjutnya, tidak diperlukan lagi terlalu banyak sumber daya manusia maupun finansial yang dibutuhkan. Hasil penjualan baju kotak-kotak dan sumbangan beberapa kader partai pendukung sudah memadai untuk memobilisasi relawan ke rumah-rumah warga.
"Tidak hanya relawan, kami juga akan mendorong Jokowi dan Ahok mau menginap di rumah warga selama masa kampanye putaran kedua. Cara ini akan memudahkan keduanya mengenal dan mengetahui secara langsung kehidupan dan masalah yang dihadapi warganya. Sebab, inilah modal utama pemimpin yang besar," papar aktivis Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) ini.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




