Rontal 4: Dinamika Islam Di Jawa Dan Konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar

Sabtu, 21 Juli 2012 | 20:40 WIB
DS
B
Penulis: Damar Shashangka | Editor: B1
Cerita bersambung konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar karya Damar Shashangka. Terbit setiap hari di Beritasatu.com selama Ramadan 1433
Cerita bersambung konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar karya Damar Shashangka. Terbit setiap hari di Beritasatu.com selama Ramadan 1433 (Beritasatu.com)
Tarub, 1493 Masehi

Angin semilir berhembus. Terasa segar menerpa tubuh-tubuh yang tengah duduk di dalam gubug, sebuah bangunan sederhana berdinding gêdheg (anyaman bambu), yang berdiri di pinggiran sawah itu. Sinar matahari sudah hampir tegak di atas kepala. Sinarnya menyengat garang. Langit nampak bersih. Tak ada satupun mendung bergelayut.

Seorang anak lelaki, berusia sekitar sepuluh tahun, berlarian di pematang sawah.

“Eyang! Bapa!”

Teriakannya memekik. Memancing perhatian dua orang yang tengah duduk di dalam gubug. Salah seorang lelaki turun dari amben bambu. Berdiri tegak dengan mata menyipit memperhatikan bocah lelaki yang terus saja berlarian.

“Eyang Said! Eyang Said datang!”

Lelaki yang berdiri di pinggiran amben menoleh kearah lelaki yang masih duduk bersila di atas amben.

“Paman Said rupanya datang, Bapa…!”

Lelaki yang duduk di amben, yang berusia sekitar empat puluh delapan tahunan mengangguk.

“Ya. Sudah lama aku tunggu-tunggu kehadirannya…”

Lelaki yang duduk di amben ikut beranjak. Anak kecil yang berlarian sepanjang pematang, dengan nafas terengah-engah telah tiba di depan mereka.

“Eyang Said datang, Bapa, Eyang!”

Salah seorang yang dipanggil Bapa mengangguk. Ditepuknya pundak anak kecil itu. Begitu mendapat tepukan, anak kecil itu naik ke atas amben. Dan dengan sekali lompatan telah mendaratkan tubuhnya ke punggung orang yang dipanggilnya Bapa.

“Siap memacu kuda?”
Anak kecil itu mengangguk.

“Teriak yang gagah!”

Anak kecil itu tertawa. Kemudian nampak mimiknya berubah serius.

“Ksatriya Majapahit, yang gagah perkasa! Siap maju ke palagan! Samaptaaa”

Terdengar sahutan dari Bapanya.
“Samaptaaa!”

Dan tubuh orang yang dipanggil Bapa siap-siap berlari. Sebelum sempat berlari, dia menoleh ke arah lelaki satunya.

“Saya duluan, Bapa!”

Yang disapa tersenyum dan mengangguk.
Dan tubuh tegap dengan seorang anak lelaki kecil dipunggungnya, berlarian sepanjang pematang sawah. Gelak tawa terdengar dari mulut kecil yang tubuhnya terlonjak-lonjak.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon