Rontal 6: Dinamika Islam Di Jawa Dan Konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar
Sabtu, 21 Juli 2012 | 21:16 WIB
Panti Sang Senopati
Kudus, 1493 Masehi
Hawa yang menyegat. Panas yang ditimbulkan oleh pancaran sinar matahari menebar sedemikian garang. Seluruh penjuru kota, terlibas oleh kegerahan tanpa kecuali. Namun begitu, pasar kota masih saja terlihat ramai dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk melakukan tawar menawar. Terdengar riuh rendah suaranya, menambah kegerahan yang melonjak-lonjak sampai diubun-ubun.
Ditengah panasnya tanah oleh panggangan sinar matahari, jalanan utama kota Kudus masih juga ramai oleh lalu lalang manusia. Satu dua nampak memikul gerabah besar, tempayan, tempat air yang rupanya belum juga laku dijajakan sepanjang hari itu. Satu dua lainnya menjajakan penganan ringan. Ada pula yang memekik-mekik menawarkan daging yang masih terlihat menumpuk di tempat penjualannya.
Di antara lalu lalang manusia, nampak sesosok tubuh, dengan pakaian lusuh berwarna hitam, bergerak membelah jalanan dengan langkah tertatih tanpa memperdulikan kesibukan yang hadir di sekelilingnya. Sosok yang kelihatan letih itu terus berjalan sembari kerap mengamat-amati bangunan-bangunan yang ada, tanpa memperdulikan manusia-manusia yang terus saja ramai melakukan jual beli. Dia tampak tengah mencari-cari sesuatu. Namun yang tengah dicarinya, sepertinya belum juga ditemukannya.
Dan saat matanya tertumbuk pada sebuah tempayan besar, yang tersandar di sebuah dinding bangunan rumah, di bawah sebuah pohon yang rindang, segera dia melangkahkan kaki kesana. Tempayan yang berisi air jernih, yang sengaja disediakan sebagai penawar dahaga bagi para musafir secara cuma-cuma.
Sebuah batok kelapa yang sengaja diberi tangkai panjang sebagai pegangan, segera diambilnya. Dicelupkannya ke dalam tempayan tersebut. Setelah terisi oleh air jernih, segera didekatkan kemulut dan diteguknya air yang terambil tanpa menunggu waktu lama.
Bunyi tegukan terdengar tidak cukup hanya sekali. Rupanya sosok tersebut benar-benar kehausan. Dan tanpa disadarinya, seorang bocah bertelanjang dada, berdiri sembari memperhatikannya lekat-lekat. Bocah berusia sekitar dua belas tahunan, dengan hanya mengenakan cawat penutup kemaluan berwarna abu-abu, serta mengenakan ikat kepala yang dipakai sekenanya. Ikat kepala itu melingkar menghiasi kepala kecilnya.
Sosok yang kehausan itu meletakkan batok kelapa. Baru disadarinya ada makhluk kecil yang mengamatinya lekat-lekat.
“Bocah bajang….,” gumamnya.
Yang disebut nampak takut-takut. Tapi tak tampak gerakan hendak menghindar.
Sosok yang baru minum itu melangkah mendekati sang bocah…
“Bocah, kakang mau tanya.”
Bocah yang didekati bergeming. Matanya tetap mengamati sosok yang mendekatinya tanpa berkedip.
“Kamu tahu mana letak panti Kudus?”
Bocah itu terlihat ragu-ragu. Kemudian mengangguk kaku.
Terdengar tawa terkekeh pelan.
“Mau tunjukkan kepada kakang di mana letaknya?”
Bocah itu mengangguk sekali lagi. Kemudian menuding kearah utara.
“Jauh dari sini?”
Bocah itu menggeleng.
Sosok itu terkekeh lagi. Kemudian dia membungkuk. Meraih sesuatu. Sebuah kerikil sebesar jempol kaki manusia dewasa. Ditimang-timangnya sejenak kerikil itu di tangan kanan.
“Mau kakang beri oleh-oleh buat orang tuamu?”
Bocah itu tak menunjukkan reaksi. Dia mengamati apa yang tengah dilakukan sosok di depannya.
Dan sosok berpakaian hitam-hitam itu terus saja menimang-nimang kerikil. Kemudian diberikannya kepada sang bocah. Diberikan langsung ketelapak tangan kecilnya.
“Ini, segera pulang dan berikan orang tuamu.”
Bocah itu kebingungan. Dilihatnya kerikil hitam yang telah tergenggam di tangannya. Bukan, bukan lagi hitam. Kerikil itu kini terlihat berkilauan kekuningan. Indah dipandang.
“Kakang..,” terdengar suara bocah itu, kecil dan parau..
“Ya, bocah bajang.”
“Ini emas?”
“Iya, hehehe…”
Keheranan bocah itu. Wajahnya nampak kebingungan. Jelas-jelas dilihatnya tadi, yang diberikan kepadanya adalah sebuah kerikil sebesar kepala burung gêmak (burung puyuh). Tapi setelah berada di genggamannya, kerikil itu telah berubah menjadi emas.
Tangan bocah itu gemetaran. Dia memandang takjub kepada sosok didepannya. Tanpa menunggu waktu, cepat dia memutar tubuh hendak berlari pulang.
“Eh…!”
Mendengar suara cegahan, bocah itu urung berlari.
“Jika kamu diberi sesuatu oleh orang lain, ucapkan terima kasih, bocah bajang.” Bocah itu mengangguk..
“Te..terima kasih, kakang!”
Dan bocah itu memutar tubuh, namun baru saja hendak melangkah, terlihat gerakannya diurungkan. Sang bocah membalikkan badan kembali.
“Ada apa. Bocah?”
“Kakang siapa?”
Yang ditanya terkekeh kecil..
“Jangkung. Panggil saja kakang Jangkung…!”
Bocah itu mengangguk.
“Terima kasih, kakang Jangkung!”
“Ya sudah, sana! Lari yang cepat!”
Bocah itu berseri mukanya. Kemudian membalikkan badan dan berlari disela-sela kerumunan orang dengan riang gembira.
Tinggal kini, sosok yang mengaku bernama Jangkung termangu-mangu memandang ke arah utara. Ke arah mana letak panti Kudus yang ditunjukkan oleh bocah bajang tadi. Dan berbarengan dengan teriakan adzan dzuhur, Jangkung segera melangkahkan kaki menuju panti Kudus. Sebuah panti yang merupakan padepokan tempat orang-orang pesisir belajar agama baru. Panti yang sudah terkenal hingga ke kota raja Dêmak Bintara. Panti yang dipimpin oleh seorang pandhita, yang bernama Pangeran Kudus atau Kangjêng Susuhunan Kudus!
Kudus, 1493 Masehi
Hawa yang menyegat. Panas yang ditimbulkan oleh pancaran sinar matahari menebar sedemikian garang. Seluruh penjuru kota, terlibas oleh kegerahan tanpa kecuali. Namun begitu, pasar kota masih saja terlihat ramai dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk melakukan tawar menawar. Terdengar riuh rendah suaranya, menambah kegerahan yang melonjak-lonjak sampai diubun-ubun.
Ditengah panasnya tanah oleh panggangan sinar matahari, jalanan utama kota Kudus masih juga ramai oleh lalu lalang manusia. Satu dua nampak memikul gerabah besar, tempayan, tempat air yang rupanya belum juga laku dijajakan sepanjang hari itu. Satu dua lainnya menjajakan penganan ringan. Ada pula yang memekik-mekik menawarkan daging yang masih terlihat menumpuk di tempat penjualannya.
Di antara lalu lalang manusia, nampak sesosok tubuh, dengan pakaian lusuh berwarna hitam, bergerak membelah jalanan dengan langkah tertatih tanpa memperdulikan kesibukan yang hadir di sekelilingnya. Sosok yang kelihatan letih itu terus berjalan sembari kerap mengamat-amati bangunan-bangunan yang ada, tanpa memperdulikan manusia-manusia yang terus saja ramai melakukan jual beli. Dia tampak tengah mencari-cari sesuatu. Namun yang tengah dicarinya, sepertinya belum juga ditemukannya.
Dan saat matanya tertumbuk pada sebuah tempayan besar, yang tersandar di sebuah dinding bangunan rumah, di bawah sebuah pohon yang rindang, segera dia melangkahkan kaki kesana. Tempayan yang berisi air jernih, yang sengaja disediakan sebagai penawar dahaga bagi para musafir secara cuma-cuma.
Sebuah batok kelapa yang sengaja diberi tangkai panjang sebagai pegangan, segera diambilnya. Dicelupkannya ke dalam tempayan tersebut. Setelah terisi oleh air jernih, segera didekatkan kemulut dan diteguknya air yang terambil tanpa menunggu waktu lama.
Bunyi tegukan terdengar tidak cukup hanya sekali. Rupanya sosok tersebut benar-benar kehausan. Dan tanpa disadarinya, seorang bocah bertelanjang dada, berdiri sembari memperhatikannya lekat-lekat. Bocah berusia sekitar dua belas tahunan, dengan hanya mengenakan cawat penutup kemaluan berwarna abu-abu, serta mengenakan ikat kepala yang dipakai sekenanya. Ikat kepala itu melingkar menghiasi kepala kecilnya.
Sosok yang kehausan itu meletakkan batok kelapa. Baru disadarinya ada makhluk kecil yang mengamatinya lekat-lekat.
“Bocah bajang….,” gumamnya.
Yang disebut nampak takut-takut. Tapi tak tampak gerakan hendak menghindar.
Sosok yang baru minum itu melangkah mendekati sang bocah…
“Bocah, kakang mau tanya.”
Bocah yang didekati bergeming. Matanya tetap mengamati sosok yang mendekatinya tanpa berkedip.
“Kamu tahu mana letak panti Kudus?”
Bocah itu terlihat ragu-ragu. Kemudian mengangguk kaku.
Terdengar tawa terkekeh pelan.
“Mau tunjukkan kepada kakang di mana letaknya?”
Bocah itu mengangguk sekali lagi. Kemudian menuding kearah utara.
“Jauh dari sini?”
Bocah itu menggeleng.
Sosok itu terkekeh lagi. Kemudian dia membungkuk. Meraih sesuatu. Sebuah kerikil sebesar jempol kaki manusia dewasa. Ditimang-timangnya sejenak kerikil itu di tangan kanan.
“Mau kakang beri oleh-oleh buat orang tuamu?”
Bocah itu tak menunjukkan reaksi. Dia mengamati apa yang tengah dilakukan sosok di depannya.
Dan sosok berpakaian hitam-hitam itu terus saja menimang-nimang kerikil. Kemudian diberikannya kepada sang bocah. Diberikan langsung ketelapak tangan kecilnya.
“Ini, segera pulang dan berikan orang tuamu.”
Bocah itu kebingungan. Dilihatnya kerikil hitam yang telah tergenggam di tangannya. Bukan, bukan lagi hitam. Kerikil itu kini terlihat berkilauan kekuningan. Indah dipandang.
“Kakang..,” terdengar suara bocah itu, kecil dan parau..
“Ya, bocah bajang.”
“Ini emas?”
“Iya, hehehe…”
Keheranan bocah itu. Wajahnya nampak kebingungan. Jelas-jelas dilihatnya tadi, yang diberikan kepadanya adalah sebuah kerikil sebesar kepala burung gêmak (burung puyuh). Tapi setelah berada di genggamannya, kerikil itu telah berubah menjadi emas.
Tangan bocah itu gemetaran. Dia memandang takjub kepada sosok didepannya. Tanpa menunggu waktu, cepat dia memutar tubuh hendak berlari pulang.
“Eh…!”
Mendengar suara cegahan, bocah itu urung berlari.
“Jika kamu diberi sesuatu oleh orang lain, ucapkan terima kasih, bocah bajang.” Bocah itu mengangguk..
“Te..terima kasih, kakang!”
Dan bocah itu memutar tubuh, namun baru saja hendak melangkah, terlihat gerakannya diurungkan. Sang bocah membalikkan badan kembali.
“Ada apa. Bocah?”
“Kakang siapa?”
Yang ditanya terkekeh kecil..
“Jangkung. Panggil saja kakang Jangkung…!”
Bocah itu mengangguk.
“Terima kasih, kakang Jangkung!”
“Ya sudah, sana! Lari yang cepat!”
Bocah itu berseri mukanya. Kemudian membalikkan badan dan berlari disela-sela kerumunan orang dengan riang gembira.
Tinggal kini, sosok yang mengaku bernama Jangkung termangu-mangu memandang ke arah utara. Ke arah mana letak panti Kudus yang ditunjukkan oleh bocah bajang tadi. Dan berbarengan dengan teriakan adzan dzuhur, Jangkung segera melangkahkan kaki menuju panti Kudus. Sebuah panti yang merupakan padepokan tempat orang-orang pesisir belajar agama baru. Panti yang sudah terkenal hingga ke kota raja Dêmak Bintara. Panti yang dipimpin oleh seorang pandhita, yang bernama Pangeran Kudus atau Kangjêng Susuhunan Kudus!
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




