Rontal 7: Dinamika Islam Di Jawa Dan Konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar

Sabtu, 21 Juli 2012 | 21:21 WIB
DS
B
Penulis: Damar Shashangka | Editor: B1
Cerita bersambung konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar karya Damar Shashangka. Terbit setiap hari di Beritasatu.com selama Ramadan 1433
Cerita bersambung konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar karya Damar Shashangka. Terbit setiap hari di Beritasatu.com selama Ramadan 1433 (Beritasatu.com)
Pemuda berpakaian hitam lusuh itu berhenti di depan sebuah gapura model Majapahitan. Hanya yang membedakan, tak lagi terdapat Dwarapala (patung raksasa penjaga pintu gerbang)  di sisi kiri dan kanan gapura itu. Tak jauh dari gapura, nampak menjulang bangunan mirip pêndharmaan tempat menanam abu jenasah para Raja-Raja Majapahit yang beragama Buda (Syiwa-Buda). Rupanya, dari sanalah sumber teriakan adzan dikumandangkan.

Sosok pemuda itu tersenyum. Inilah Panti Kudus, begitu bisiknya dalam hati.

Dilangkahkannya kaki memasuki gapura. Dua orang prajurit yang rupa-rupanya dari Dêmak Bintara nampak berdiri dengan tombak panjangnya. Hal ini bisa dimaklumi, karena Pangeran Kudus adalah Senopati Agung Dêmak Bintara. Tak aneh jika banyak prajurit Dêmak berkeliaran di Panti ini.

Dalam jarak tiga tombak, langkah kaki pemuda itu terhenti oleh gerakan tangan salah seorang prajurit yang memberikan tanda agar dia tetap diam di tempatnya sekarang.

“Salamu'alaikum!”

Sang pemuda mengucapkan salam sembari menakupkan kedua telapak tangannya di depan dada.

Dua orang prajurit itu menjawab salam dengan suara parau. Mata mereka menatap penuh selidik.

“Apa keperluan apa?” Tanya salah seorang dari mereka.

Pemuda berpakaian hitam lusuh itu menatap prajurit yang bertanya kepadanya.
“Hamba ingin mengabdi di Panti Kudus ini, tuan.”

Dua orang prajurit itu saling berpandangan sejenak. Kemudian mata mereka kembali menatap sosok pemuda dengan pandangan yang sama, penuh selidik.
“Kamu orang mana?”

“Hamba ini orang kabur kanginan (tanpa tempat tinggal). Tak memiliki tempat menetap. Kemana angin bertiup, kesana hamba mengikuti. Hingga terdengar oleh hamba, kebesaran nama Kangjêng Pangeran Kudus. Terpikat hati hamba untuk mengabdi kepada beliau.”

Dua orang prajurit masih bergeming.

“Wahai bocah, berat mengabdi kepada seorang Waliyullah. Apa kamu mampu?”

“Lahir bathin telah menjadi tekad hamba.”

Prajurit yang barusan bertanya menoleh ke arah temannya. Dan yang ditoleh nampak mengangguk kecil.

“Baiklah,” kata prajurit tersebut, ”ikut aku ke dalam!”

Pemuda itu menyembah dan segera mengikuti prajurit yang lebih dahulu masuk ke dalam Panti.

Memasuki bagian dalam tembok benteng yang terbuat dari batu bata merah, sang pemuda seketika disuguhi pemandangan beberapa orang yang semuanya mengenakan pakaian orang Malaka. Sama seperti yang dikenakan oleh sang pemuda. Dengan ikat kepala yang melingkar, membalut kepala-kepala mereka yang gundul. Mereka adalah santri-santri Panti Kudus.

Seorang santri memang harus bercukur gundul. Hal ini perlu untuk membedakan keberadaan mereka dengan para penganut agama Buda yang suka memanjangkan rambutnya. Seorang Jawa yang sudah bercukur gundul, berarti mereka telah memeluk agama Rasul.

Kedatangan seorang pemuda yang diantar oleh prajurit penjaga sedikit menyita perhatian para santri Kudus. Dan pemuda itu terus dibawa menuju bangunan yang berdiri disamping tajug (sura).

Di depan bangunan berdinding gêbyok (dinding kayu), sang prajurit berhenti. Di dalam bangunan, nampak dua orang tengah bersila. Melihat kedatangan prajurit penjaga gapura, dua orang itu bangkit berdiri dan keluar dari pintu yang semenjak tadi memang terbuka.

“Ada apa, kakang?”

Tanya salah seorang yang bangkit berdiri. Sosok yang usianya masih cukup muda, sepantaran dengan sosok yang dihantar oleh prajurit penjaga gapura.

“Maaf, saya menghantarkan seorang pemuda yang bersikeras hendak mengabdi kepada Kangjêng Pangeran.”

Sesaat kedua orang yang baru keluar tersebut mengamati sosok pemuda berpakaian hitam lusuh yang berdiri disamping prajurit penjaga.

“Tinggalkan di sini, kakang!”

Sang prajurit mengangguk dan segera meninggalkan tempat itu.

Kini, pemuda yang dihantarkan, berdiri berhadapan dengan dua orang yang baru keluar dari bangunan gêbyok.

“Kisanak sudah Islam?”
Terlontar pertanyaan dari salah seorang yang berdiri tepat di depan pintu.

“Hamba, kakang. Saya sudah memeluk syari'at Rasul.”

“Tapi mengapa belum bercukur?”

Tak ada jawaban.

“Sudah tahu syahadat?”

“Hamba, kakang.”

“Ucapkan.”

“Ashaduallaillahaillallah. Ashaduanna Mukhamadarrasulullah…!”

Dua orang yang berdiri didepan pintu mengangguk.

“Benar-benar ingin berguru kepada Kangjêng Pangeran Kudus?”

“Demikianlah kehendak hamba, kakang.”

“Sanggup mengabdi. Menuruti perintah dan menjauhi larangan guru?”

“Singgih, kakang.”

“Baiklah, silakan masuk kemari!”

Dan pemuda berpakaian hitam itu dipersilakan masuk kedalam bangunan berdinding gêbyok. Di dalam bangunan, nampak berjajaran banyak kitab. Selain kitab yang sudah tertulis diatas dalwang (kertas China), juga masih ada beberapa yang masih tergurat di atas rontal. Semua berjajaran rapi, memenuhi sudut satu ke sudut lain.

“Silakan duduk!”

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon