Rontal 10: Dinamika Islam Di Jawa Dan Konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar

Sabtu, 21 Juli 2012 | 21:48 WIB
DS
B
Penulis: Damar Shashangka | Editor: B1
Cerita bersambung konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar karya Damar Shashangka. Terbit setiap hari di Beritasatu.com selama Ramadan 1433
Cerita bersambung konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar karya Damar Shashangka. Terbit setiap hari di Beritasatu.com selama Ramadan 1433 (Beritasatu.com)
Pupuh III : Kangjêng Susuhunan Ngêrang

Pesawahan menghampar, nampak menghijau oleh paparan sinar matahari. Biji-biji padi yang sudah tumbuh, sebentar lagi siap untuk dituai. Tinggal menunggu beberapa minggu saja, saat daun padi sudah mulai menguning, maka bulir-bulir padi yang meranum tersebut, siap untuk panen.

Pesawahan yang letaknya tak jauh dari kota Kudus itu membentang luas. Semua orang tahu bahwa pesawahan tersebut adalah milik Raden Umar Said, putra Kangjêng Susuhunan Kalijaga. Semula pesawahan itu adalah milik dari Syeh Utsman Haji atau lebih dikenal dengan gelaran Kangjêng Susuhunan Ngudung dan diwarisi oleh putranya, Syeh Ja'far Shadiq yang lebih dikenal dengan gelaran Kanjêng Pangeran Kudus atau Kanjêng Susuhunan Kudus, pemilik Panti Kudus sekaligus Senopati Agung Dêmak Bintara.

Sepeninggal Syeh Utsman Haji yang gugur di Trowulan saat masa-masa peperangan antara Dêmak Bintara dengan Majapahit, dua windu yang lalu, maka pesawahan tersebut diberikan oleh Syeh Ja'far Shadiq kepada adiknya Dewi Sujinah. Dan dengan dinikahinya Dewi Sujinah oleh Raden Umar Said, maka pesawahan itu kini menjadi milik Raden Umar Said yang terkenal dengan gelaran Kangjêng Susuhunan Muryapada.

Hasil panen dari pesawahan luas tersebut seluruhnya dipergunakan untuk menghidupi para santri padhepokan Gunung Muria. Sebuah padhepokan yang didirikan di kaki Gunung Muria, yang dipimpin oleh Raden Umar Said.

Nampak di sana-sini, beberapa penunggu sawah berteriak-teriak mengusir segerombolan burung yang hendak ikut mencicipi bulir-bulir padi. Para penunggu sawah itu tak lain adalah para santri padhepokan Gunung Muria sendiri. Yang kebetulan mendapat giliran turun gunung untuk menunggu sawah dari gangguan burung-burung liar.

Di sana-sini, beberapa gerombolan burung beterbangan ketakutan ketika orang-orangan sawah bergerak-gerak karena ditarik oleh para santri. Diiringi dengan teriakan-teriakan mereka yang lantang.

Namun kesibukan itu segera tersita manakala seseorang berlarian di pematang sawah sembari berteriak-teriak.

“Kangjêng Sunan hendak kemari!”

Melihat sosok yang berlarian, dan mendengar teriakannya yang terus menerus diperdengarkan, beberapa santri yang nampak santai, segera bangkit dan berusaha bersungguh-sungguh menjalankan tugasnya.

Sekarang, di sana-sini, teriakan demi teriakan mengusir burung semakin gencar terdengar.
Dan benar saja, tepat di pinggiran jalan, serombongan orang berkuda terlihat berhenti. Menitik dari pakaian yang dikenakan, pastilah mereka rombongan santri yang akan menempuh perjalanan jauh. Pakaian putih-putih yang mereka kenakan dari kejauhan terlihat berkilau tertimpa cahaya matahari. Mereka adalah para santri senior, yang tengah mengiringi Kangjêng Susuhunan Muryapada atau Raden Umar Said.

Sosok berusia duapuluh enam tahunan nampak turun dari pelana kudanya. Menyusul berturut-turut, para santri yang mengiringi segera ikut turun pula. Kini sosok muda itu berdiri mengawasi hamparan pesawahan luas yang ada di hadapannya. Sosok muda inilah yang dikenal sebagai Raden Umar Said, pemimpin padhepokan Gunung Muria.

“Sebentar lagi masa panen!”

Terdengar suara dari Raden Umar Said. Matanya terus mengamat-amati pesawahan.
Salah satu santri tua mendekat dan berdiri di sampingnya.

“Benar, Kangjêng. Nampaknya hasil panen kita tahun ini akan berlimpah.”

“Alhamdulillah!” Gumam Raden Umar Said sambil mengangguk-angguk pelan.

“Para santri Gunung Muria nampaknya sangat rajin menjalankan tugasnya, Kangjêng.”
Raden Umar Said tersenyum simpul.

“Gembira aku melihatnya. Kepatuhan mereka tak kalah dengan para santri dari Panti Kudus.”

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon