Anjal dan Gepeng Mulai Serbu Bogor
Selasa, 24 Juli 2012 | 21:36 WIB
Diprediksi, jumlah mereka akan bertambah menjelang datangnya Lebaran.
Pada Ramadan dan menjelang Lebaran 2012, jumlah anak jalanan, gelandangan, dan pengemis di Kota Bogor, Jawa Barat meningkat.
Pantauan pada Selasa, para pengemis, anak jalan, dan gelandangan mulai terlihat banyak di sejumlah ruas jalan, pusat perbelanjaan, pasar, dan sudah memasuki pemukiman warga.
Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial pada Dinas Tenaga Kerja Sosial dan Transmigrasi Kota Bogor Sugeng Ruyaldi menyebutkan, peningkatan jumlah anak jalanan, pengemis, dan gelandangan sudah terlihat sejak awal Ramadan. Diprediksi, jumlah mereka akan bertambah menjelang Lebaran.
"Peningkatannya bisa 10 persen, kita menganalisanya, kalau biasanya dalam penertiban itu terjaring hanya lima orang, kalau sudah mendekati Ramadan dan Lebaran bisa 10 orang sampai 30 orang. Mereka pernah kita pulangkan pada Ramadan tahun lalu," katanya.
Sugeng menyebutkan, berdasarkan data penjaringan pada 2011 di Kota Bogor terdapat 139 anak jalanan, 201 gelandangan dan pengemis. Sedangkan pada periode Januari hingga Juli 2012, Disnakersostran telah menjaring sebanyak 111 anak jalanan dan 79 gelendangan dan pengemis.
Dia mengatakan, para pengemis, gelandangan, dan anak jalanan ini selain berasal dari Kota Bogor, juga berasal dari Kabupaten Bogor, dan Indramayu.
Kebanyakan para gelandangan dan pengemis di Kota Bogor didominasi usia tua mulai dari 40 tahun ke atas, sementara itu anak jalanan dari usia 10 hingga 17 tahun.
Menurut Sugeng para gelandangan, pengemis, dan anak jalanan ada yang melakoni pekerjaannya karena terdesak kebutuhan ekonomi ada juga yang sudah menjadi profesi atau memang hidup di jalan.
Titik rawan anak jalanan, pengemis, dan gelandangan ada di Baranangsiang, sepanjang Jl Pajajaran, Bundaran Ekalokasari, Warung Jambu, Patung Narkoba, pertigaan Yasmin, Karya Bhakti, pertigaan Sindang Barang, Bubulak, Empang, dan Siliwangi.
"Mereka ada koordinatornya, seperti yang di kampung pengemis Ciheleut, mereka itu dipekerjakan sebagai pengemis," kata Sugeng.
Upaya untuk mengurangi jumlah anak jalan, pengemis, dan gelandangan, lanjut Sugeng terus dilakukan dengan melakukan penjaringan setiap bulannya. Seperti pada 2011 lalu, dari 139 anak jalanan yang terjaring petugas, sebanyak 59 orang telah dikirim ke panti sosial untuk dibina.
Sisanya dipulangkan ke asalnya dengan berbagai alasan, di antaranya daya tampung panti sosial yang tidak mencukupi, dan juga karena yang bersangkutan tidak menginginkan untuk masuk rumah penampungan.
Menurut Sugeng, penyelesaian masalah anak jalan, gelandangan dan pengemis tidak akan tuntas bila hanya dikembalikan dan dikirim ke rumah panti sosial. "Mungkin setelah mereka terjaring, diberi efek jera. Untuk beberapa waktu mereka tidak turun ke jalan lagi, tapi selama mereka butuh makan mereka akan turun lagi," katanya.
Sugeng menyebutkan, untuk membuat mereka berhenti turun ke jalan, selain dipulangkan ke kampung halaman, mereka harus disediakan kebutuhannya agar tidak turun ke jalan. Untuk mewujudkannya diperlukan pendanaan, sementara itu anggaran pemerintah tidak cukup untuk membiayai seluruhnya.
Pada Ramadan dan menjelang Lebaran 2012, jumlah anak jalanan, gelandangan, dan pengemis di Kota Bogor, Jawa Barat meningkat.
Pantauan pada Selasa, para pengemis, anak jalan, dan gelandangan mulai terlihat banyak di sejumlah ruas jalan, pusat perbelanjaan, pasar, dan sudah memasuki pemukiman warga.
Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial pada Dinas Tenaga Kerja Sosial dan Transmigrasi Kota Bogor Sugeng Ruyaldi menyebutkan, peningkatan jumlah anak jalanan, pengemis, dan gelandangan sudah terlihat sejak awal Ramadan. Diprediksi, jumlah mereka akan bertambah menjelang Lebaran.
"Peningkatannya bisa 10 persen, kita menganalisanya, kalau biasanya dalam penertiban itu terjaring hanya lima orang, kalau sudah mendekati Ramadan dan Lebaran bisa 10 orang sampai 30 orang. Mereka pernah kita pulangkan pada Ramadan tahun lalu," katanya.
Sugeng menyebutkan, berdasarkan data penjaringan pada 2011 di Kota Bogor terdapat 139 anak jalanan, 201 gelandangan dan pengemis. Sedangkan pada periode Januari hingga Juli 2012, Disnakersostran telah menjaring sebanyak 111 anak jalanan dan 79 gelendangan dan pengemis.
Dia mengatakan, para pengemis, gelandangan, dan anak jalanan ini selain berasal dari Kota Bogor, juga berasal dari Kabupaten Bogor, dan Indramayu.
Kebanyakan para gelandangan dan pengemis di Kota Bogor didominasi usia tua mulai dari 40 tahun ke atas, sementara itu anak jalanan dari usia 10 hingga 17 tahun.
Menurut Sugeng para gelandangan, pengemis, dan anak jalanan ada yang melakoni pekerjaannya karena terdesak kebutuhan ekonomi ada juga yang sudah menjadi profesi atau memang hidup di jalan.
Titik rawan anak jalanan, pengemis, dan gelandangan ada di Baranangsiang, sepanjang Jl Pajajaran, Bundaran Ekalokasari, Warung Jambu, Patung Narkoba, pertigaan Yasmin, Karya Bhakti, pertigaan Sindang Barang, Bubulak, Empang, dan Siliwangi.
"Mereka ada koordinatornya, seperti yang di kampung pengemis Ciheleut, mereka itu dipekerjakan sebagai pengemis," kata Sugeng.
Upaya untuk mengurangi jumlah anak jalan, pengemis, dan gelandangan, lanjut Sugeng terus dilakukan dengan melakukan penjaringan setiap bulannya. Seperti pada 2011 lalu, dari 139 anak jalanan yang terjaring petugas, sebanyak 59 orang telah dikirim ke panti sosial untuk dibina.
Sisanya dipulangkan ke asalnya dengan berbagai alasan, di antaranya daya tampung panti sosial yang tidak mencukupi, dan juga karena yang bersangkutan tidak menginginkan untuk masuk rumah penampungan.
Menurut Sugeng, penyelesaian masalah anak jalan, gelandangan dan pengemis tidak akan tuntas bila hanya dikembalikan dan dikirim ke rumah panti sosial. "Mungkin setelah mereka terjaring, diberi efek jera. Untuk beberapa waktu mereka tidak turun ke jalan lagi, tapi selama mereka butuh makan mereka akan turun lagi," katanya.
Sugeng menyebutkan, untuk membuat mereka berhenti turun ke jalan, selain dipulangkan ke kampung halaman, mereka harus disediakan kebutuhannya agar tidak turun ke jalan. Untuk mewujudkannya diperlukan pendanaan, sementara itu anggaran pemerintah tidak cukup untuk membiayai seluruhnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
INTERNASIONAL
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




