Daerah Penyangga
India Larang Wisata Mengintip Harimau
Selasa, 24 Juli 2012 | 23:45 WIB
"Populas harimau saat ini justru berada di kawasan yang paling banyak dikunjungi pelancong."
Mahkamah Agung India melarang wisata di kawasan perlindungan harimau di seluruh negeri itu.
Keputusan itu bertujuan untuk melindungi kehidupan kucing liar yang amat terganggu oleh industri pariwisata.
Mahkamah Agung juga menetapkan pinalti kepada negara bagian, yang tidak menyediakan kawasan penyangga di sekitar habitat harimau.
Demikian disampaikan Wasim Kadri, pengacara dari National Tiger Conservation Authority.
Pengadilan mendenda enam negara bagian, karena gagal membuat kawasan penyangga di sekitar hutan lindung. Mereka diberi waktu tiga pekan untuk menjalankan perintah pengadilan.
India adalah tempat tinggal lebih dari setengah jumlah harimau di dui, yang dipekirakan mencapai 3200 ekor.
Sebagian besar hidup di hutan pengelolaan satwa liar, yang dibuat sejak tahun 1970-an.
Ratusan hotel dan toko beroperasi di dalam kawasan lindung, untuk mengakomodasi keperluan wisatawan.
Meski demikian pengadilan mengatakan larangan ini bersifat sementara.
Kasus ini diajukan oleh aktivis perlindungan satwa liar, yang mendesak semua aktifitas komersial dilarang dari seluruh area utama, dan hutan lindung tempat tinggal harimau.
Ahli konservatori Ajay Dube mengajukan protes kepada pengadilan dan pihak berwenang di beberapa negara bagian, yang mengizinkan pembangunan konstruksi hotel, kawasan satwa liar dan toko-toko di hutan yang dilindungi.
Dia mengatakan kepada pengadilan bahwa habitat harimau dalam keadaan kritis. Mereka harus dilindungi dari seluruh aktivitas manusia, termasuk pariwisata.
Pada bulan April pengadilan memerintahkan delapan negara bagian, untuk membuat kawasan penyangga di sekitar tempat perlindunga harimau dalam tiga bulan.
Hanya dua negara bagian yang melakukannya.
Larangan wisata di kawasan inti habitat harimau ini menuai protes dari operator wisata perjalanan.
Mereka mengatakan pelarangan itu justru akan menyuburkan perdagangan ilegal satwa liar.
Travel Operators for Tiger, sebuah kelompok usaha perjalanan wisata mengatakan, sejauh ini harimau aman di tempat perlindungan, yang dikunjungi wisatawan.
"Populas harimau saat ini justru berada di kawasan yang paling banyak dikunjungi pelancong," demikia pernyataan kelompok tersebut.
Mahkamah Agung India melarang wisata di kawasan perlindungan harimau di seluruh negeri itu.
Keputusan itu bertujuan untuk melindungi kehidupan kucing liar yang amat terganggu oleh industri pariwisata.
Mahkamah Agung juga menetapkan pinalti kepada negara bagian, yang tidak menyediakan kawasan penyangga di sekitar habitat harimau.
Demikian disampaikan Wasim Kadri, pengacara dari National Tiger Conservation Authority.
Pengadilan mendenda enam negara bagian, karena gagal membuat kawasan penyangga di sekitar hutan lindung. Mereka diberi waktu tiga pekan untuk menjalankan perintah pengadilan.
India adalah tempat tinggal lebih dari setengah jumlah harimau di dui, yang dipekirakan mencapai 3200 ekor.
Sebagian besar hidup di hutan pengelolaan satwa liar, yang dibuat sejak tahun 1970-an.
Ratusan hotel dan toko beroperasi di dalam kawasan lindung, untuk mengakomodasi keperluan wisatawan.
Meski demikian pengadilan mengatakan larangan ini bersifat sementara.
Kasus ini diajukan oleh aktivis perlindungan satwa liar, yang mendesak semua aktifitas komersial dilarang dari seluruh area utama, dan hutan lindung tempat tinggal harimau.
Ahli konservatori Ajay Dube mengajukan protes kepada pengadilan dan pihak berwenang di beberapa negara bagian, yang mengizinkan pembangunan konstruksi hotel, kawasan satwa liar dan toko-toko di hutan yang dilindungi.
Dia mengatakan kepada pengadilan bahwa habitat harimau dalam keadaan kritis. Mereka harus dilindungi dari seluruh aktivitas manusia, termasuk pariwisata.
Pada bulan April pengadilan memerintahkan delapan negara bagian, untuk membuat kawasan penyangga di sekitar tempat perlindunga harimau dalam tiga bulan.
Hanya dua negara bagian yang melakukannya.
Larangan wisata di kawasan inti habitat harimau ini menuai protes dari operator wisata perjalanan.
Mereka mengatakan pelarangan itu justru akan menyuburkan perdagangan ilegal satwa liar.
Travel Operators for Tiger, sebuah kelompok usaha perjalanan wisata mengatakan, sejauh ini harimau aman di tempat perlindungan, yang dikunjungi wisatawan.
"Populas harimau saat ini justru berada di kawasan yang paling banyak dikunjungi pelancong," demikia pernyataan kelompok tersebut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




