Rontal 19: Dinamika Islam Di Jawa Dan Konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar
Kamis, 26 Juli 2012 | 23:09 WIB
Seorang prajurit, yang rupanya pemimpin mereka, memberikan isyarat dengan tangan kanannya agar menyebar. Masing-masing kelompok terdiri atas dua orang. Dan kelompok yang menerobos ke tengah, terdiri dari tiga orang. Sang pemimpin pasukan ada pada kelompok yang terdiri dari tiga orang tersebut.
Tujuh orang prajurit Demak itu bergerak pelahan dengan kudanya. Kaki-kaki kuda melompati beberapa akar liar. Dua orang merangsak ke sebelah kiri, tiga orang merangsak lurus ke tengah hutan dan dua orang merangsak ke arah kanan.
Masing-masing prajurit bergerak dengan sangat hati-hati. Mereka memasang telinga dan mata dengan sungguh-sungguh. Memperhatikan setiap gerakan yang mencurigakan maupun suara yang tidak wajar. Setiap jengkal langkah kuda, benar-benar tidak mereka lewatkan. Mereka yakin, dua orang yang tengah mereka cari tidaklah berada jauh dari tempat mereka. Tak mungkin dua orang itu bisa melarikan diri dengan kudanya di tengah lebatnya hutan yang dipenuhi semak belukar dan akar-akar liar.
Hutan telah diterobos dalam, namun tanda-tanda yang mencurigakan belum didapatkan. Kedua orang yang dicari bak raib ditelan bumi. Masing-masing prajurit Dêmak semakin dipenuhi kecurigaan, mereka berdua pastilah bukan penduduk biasa, mereka pastilah prajurit yang terlatih. Mereka bisa mencari tempat persembunyian yang tepat. Mampu menyamarkan keberadaan kuda maupun dirinya sedemikian rupa. Hanya prajurit terlatihlah yang mampu melakukan hal itu.
Orang-orang Ki Agêng Pêngging, mampu melakukannya. Namun jika memang benar mereka prajurit Pêngging, mengapa mereka harus lari dan bersembunyi? Jangan-jangan memang benar dugaan salah satu teman mereka tadi. Dua orang yang tengah mereka kejar-kejar tak lain adalah prajurit Daha. Dan prajurit Dêmak semakin meningkatkan kewaspadaannya.
Baru saja kelompok yang ada ditengah mendapati gerumbul semak-semak lebat, yang mencurigakan perhatian mereka, mendadak dari sisi kanan pekikan nyaring terdengar!
“Astagpirulah (Astaghfirullah, aku mohon ampun kepada Allah)!”
“Asu! Asu!”
Teriakan-teriakan kemarahan memekik-mekik. Keruan saja, dua kelompok yang lain segera bergerak secepatnya mencari asal suara.
“Keluar kau bajingan kapir (kafir)! Keluar!”
Seorang prajurit Dêmak memaki-maki, memutar-mutar kudanya sambil menghunus kerisnya! Sedangkan satu temannya, telah roboh sekarat bermandikan darah!
Lima orang prajurit yang baru sampai ikut menyumpah serapah melihat pemandangan itu! Satu orang temannya, kini sekarat ambruk ke tanah dengan perut sobek oleh sabetan keris!
“Dimana dia! Dimana dia!”
Kelima orang prajurit Dêmak dipenuhi kemarahan! Keris-keris telah terhunus, tergenggam di tangan masing-masing!
“Asu! Keluar kamu!”
Keenam orang prajurit Dêmak merangsak ke arah mana saja! Semua semak diobrak-abriknya! Keris disabet-sabetkan kearah batang pohon kecil yang merintangi! Sebentar saja patahan-patahan tumbuhan telah banyak terserak di tempat itu! Namun tidak juga ditemukan orang yang dicari!
“Bajingan Daha kamu! Kapir kamu!”
Makian menghambur di tengah kekesalan dan kemarahan yang tak terbendung lagi. Mereka tidak menyadari, sesosok tubuh tengah menyelinap di atas! Di sebuah pohon yang tidak terlalu besar batangnya! Demikian tersamar di celah-celah dahan! Tertutup dedaunan yang merimbun! Bagaikan bunglon yang bisa menyaru rupa, tersembunyi dengan sempurna!
Keahlian prajurit Daha patut diacungi jempol! Prajurit Dêmak yang terbiasa bertempur di pesisir pantai dan di lautan, bisa dibuatnya kebingungan! Keahlian seperti itu adalah keahlian prajurit Majapahit! Dan prajurit Daha merupakan bekas prajurit Majapahit dulu! Atau setidaknya dididik oleh bekas perwira-perwira Majapahit!
Prajurit Dêmak tak sedikitpun terfikir untuk menengadahkan wajah! Mereka terpaku pada rimbunnya semak-semak yang tumbuh di depan! Dan manakala mereka tetap tak menemukan apa yang mereka cari, pemimpin pasukan segera memberikan teriakan perintah.
“Turun dari kuda kalian!”
Keenam prajurit sigap melompat turun dari kuda.
“Dengan tanpa kuda, kita lebih mudah menyelisik semak yang rimbun! Sekarang menyebar!”
Tujuh orang prajurit Demak itu bergerak pelahan dengan kudanya. Kaki-kaki kuda melompati beberapa akar liar. Dua orang merangsak ke sebelah kiri, tiga orang merangsak lurus ke tengah hutan dan dua orang merangsak ke arah kanan.
Masing-masing prajurit bergerak dengan sangat hati-hati. Mereka memasang telinga dan mata dengan sungguh-sungguh. Memperhatikan setiap gerakan yang mencurigakan maupun suara yang tidak wajar. Setiap jengkal langkah kuda, benar-benar tidak mereka lewatkan. Mereka yakin, dua orang yang tengah mereka cari tidaklah berada jauh dari tempat mereka. Tak mungkin dua orang itu bisa melarikan diri dengan kudanya di tengah lebatnya hutan yang dipenuhi semak belukar dan akar-akar liar.
Hutan telah diterobos dalam, namun tanda-tanda yang mencurigakan belum didapatkan. Kedua orang yang dicari bak raib ditelan bumi. Masing-masing prajurit Dêmak semakin dipenuhi kecurigaan, mereka berdua pastilah bukan penduduk biasa, mereka pastilah prajurit yang terlatih. Mereka bisa mencari tempat persembunyian yang tepat. Mampu menyamarkan keberadaan kuda maupun dirinya sedemikian rupa. Hanya prajurit terlatihlah yang mampu melakukan hal itu.
Orang-orang Ki Agêng Pêngging, mampu melakukannya. Namun jika memang benar mereka prajurit Pêngging, mengapa mereka harus lari dan bersembunyi? Jangan-jangan memang benar dugaan salah satu teman mereka tadi. Dua orang yang tengah mereka kejar-kejar tak lain adalah prajurit Daha. Dan prajurit Dêmak semakin meningkatkan kewaspadaannya.
Baru saja kelompok yang ada ditengah mendapati gerumbul semak-semak lebat, yang mencurigakan perhatian mereka, mendadak dari sisi kanan pekikan nyaring terdengar!
“Astagpirulah (Astaghfirullah, aku mohon ampun kepada Allah)!”
“Asu! Asu!”
Teriakan-teriakan kemarahan memekik-mekik. Keruan saja, dua kelompok yang lain segera bergerak secepatnya mencari asal suara.
“Keluar kau bajingan kapir (kafir)! Keluar!”
Seorang prajurit Dêmak memaki-maki, memutar-mutar kudanya sambil menghunus kerisnya! Sedangkan satu temannya, telah roboh sekarat bermandikan darah!
Lima orang prajurit yang baru sampai ikut menyumpah serapah melihat pemandangan itu! Satu orang temannya, kini sekarat ambruk ke tanah dengan perut sobek oleh sabetan keris!
“Dimana dia! Dimana dia!”
Kelima orang prajurit Dêmak dipenuhi kemarahan! Keris-keris telah terhunus, tergenggam di tangan masing-masing!
“Asu! Keluar kamu!”
Keenam orang prajurit Dêmak merangsak ke arah mana saja! Semua semak diobrak-abriknya! Keris disabet-sabetkan kearah batang pohon kecil yang merintangi! Sebentar saja patahan-patahan tumbuhan telah banyak terserak di tempat itu! Namun tidak juga ditemukan orang yang dicari!
“Bajingan Daha kamu! Kapir kamu!”
Makian menghambur di tengah kekesalan dan kemarahan yang tak terbendung lagi. Mereka tidak menyadari, sesosok tubuh tengah menyelinap di atas! Di sebuah pohon yang tidak terlalu besar batangnya! Demikian tersamar di celah-celah dahan! Tertutup dedaunan yang merimbun! Bagaikan bunglon yang bisa menyaru rupa, tersembunyi dengan sempurna!
Keahlian prajurit Daha patut diacungi jempol! Prajurit Dêmak yang terbiasa bertempur di pesisir pantai dan di lautan, bisa dibuatnya kebingungan! Keahlian seperti itu adalah keahlian prajurit Majapahit! Dan prajurit Daha merupakan bekas prajurit Majapahit dulu! Atau setidaknya dididik oleh bekas perwira-perwira Majapahit!
Prajurit Dêmak tak sedikitpun terfikir untuk menengadahkan wajah! Mereka terpaku pada rimbunnya semak-semak yang tumbuh di depan! Dan manakala mereka tetap tak menemukan apa yang mereka cari, pemimpin pasukan segera memberikan teriakan perintah.
“Turun dari kuda kalian!”
Keenam prajurit sigap melompat turun dari kuda.
“Dengan tanpa kuda, kita lebih mudah menyelisik semak yang rimbun! Sekarang menyebar!”
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




