Menag Dukung Wacana Kurikulum Darurat Selama Pandemi
Rabu, 29 April 2020 | 22:22 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan Kementerian Agama (Kemag) untuk segera menyiapkan kurikulum darurat dalam situasi pandemi Covid-19. Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi pun menyambut baik usulan itu.
Menurutnya, untuk saat ini menyusun kurikulum memang tidak terlalu mudah. Namun, ia sepakat agar penerapan pendidikan jarak jauh (PJJ) tidak hanya sekadar memindahkan kurikulum dari belajar sekolah ke rumah. Menag mengatakan, ia harus membayangkan sedetail mungkin agar semua pihak bisa mengakses kurikulum yang disiapkan pada situasi pandemi ini.
"Kita coba secara sederhana tetapi kami sependapat memang perlu ada keseragaman yang pas bagaimana yang dirumuskan oleh teman-teman (KPAI dan Kemag, Red) pada hasil rapat tadi yaitu apa yang perlu dilakukan dan dirumuskan. Saya kira salah satunya menyangkut tentang menetapkan kurikulum dalam situasi darurat ini," kata Razi dalam konferensi pers Pendidikan Jarak Jauh Bersama KPAI secara daring di Jakarta, Rabu (29/4/2020).
Razi menuturkan, kurikulum darurat yang dirancang nanti perlu memiliki keselarasan sebagai acuan di tingkat nasional, sehingga semua pihak dapat menjalankannya dan tidak terjadi PJJ sesuai selera masing-masing. Pasalnya, hal utama yang menjadi perhatian Kemag adalah keselamatan siswa dan guru agar tetap terjaga di dalam situasi Covid-19.
Dengan kesepakatan bersama ini, kata Razi, konten atau isi belajar disesuaikan untuk mendapat pengalaman belajar seperti meningkatkan budaya literasi, numerasi, serta aktivitas positif bersama keluarga. Ia menegaskan, PJJ bukan berarti memindahkan semua paket belajar dari madrasah untuk dikerjakan di rumah.
"Dengan demikian pembelajaran dari rumah bagi siswa kami tekankan pada aspek pendidikan tentang kecakapan hidup terutama dalam masa pandemi Covid-19 untuk menjaga jarak fisik dan lainnya. Kemudian penguatan nilai karakter dan akhlak bersama keluarga ini merupakan kesempatan yang paling strategis bagi para siswa untuk berada di rumah bersama orangtuanya," ujarnya.
Selanjutnya, Razi menuturkan, pihaknya menjalin hubungan baik dengan Kemdikbud untuk keselarasan penerapan kurikulum pendidikan. Hal ini terbukti dengan sekolah di bawah naungan Kemag yang turut mengakses mengakses Rumah Belajar milik Kemdikbud dan aktif menyimak siaran pendidikan "Belajar Dari Rumah" di TVRI. Razi menegaskan, Kemag tidak hanya fokus pada madrasah, tetapi sekolah keagamaan dari agama lain seperti Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha.
Sementara itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang pendidikan, Retno Lestyarti mengatakan, berdasarkan kesepakatan pada rapat kerja KPAI dan Kemag, pihak Kemag bersedia menyesuaikan kurikulum. Materi akan lebih diringankan dengan cara memilih materi yang dianggap lebih esensial.
"Kami apresiasi Kemag yang terbuka dan siap menjalankan perubahan kurikulum dalam situasi darurat ini. Tadi Kemag sudah mengatakan mendukung (kurikulum darurat, Red). Secara teknis ada juga direktur dan kepala bidang kurikulum dari Kemag yang ikut. Mereka juga mengusulkan bahwa kurikulum darurat sebaiknya ada dalam situasi darurat," kata Retno.
Retno menyebutkan, Kurikulum 2013 (K-13) yang diterapkan saat ini disusun oleh Kemdikbud. Apabila ada perubahan penyederhanaan sesuai dengan situasi, tentu akan didukung penuh oleh Kemag.
Untuk itu, ia meminta Menag Razi untuk dapat berkoordinasi dengan Kemdikbud sebagai pihak yang bertanggung jawab kepada pusat kurikulum untuk segera menerapkan kurikulum lebih esensial. Dengan begitu, pihak pelaksana, yakni guru, tidak bingung saat menerapkan kurikulum darurat ini.
"Kami berharap Pak Menteri Agama dari hasil ini berkomunikasi dengan Kemdikbud dan hasil ini KPAI juga akan bersurat resmi kepada dua kementerian (Kemdikbud dan Kemag, Red) terus kepada kepala dinas pendidikan dan kepala Kanwil Kemag. Kami berharap mungkin komunikasi internal sesama menteri mampu mempercepat. Kami paham dengan situasi seperti ini, paling tidak kita sepakat dengan materi ensensial. Yang tidak ensensial mungkin bagian yang tidak perlu disampaikan sehingga kurikulum ini tidak terlalu berat dan guru tidak berfokus terhadap pencapaian ketuntasan kurikulum," ujar Retno.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




