Rhenald Kasali Memetik Pelajaran dari Pandemi Covid-19
Minggu, 3 Mei 2020 | 17:40 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali mengatakan, pelaksanaan pendidikan jarak jauh (PJJ) pada masa pandemi Covid-19 tidak mudah. Namun, di tengah kesulitan ini Rhenald melihat ada pelajaran baru yang nantinya bisa diterapkan semua orang.
Rhenald mengatakan salah satu pelajaran sekaligus kesulitan di tengah pendemi Covid-19 bukan hanya dialami oleh guru dan sekolah, tetapi juga pendidikan tinggi. Satu dari banyak kendala yang terjadi di lapangan adalah tidak memiliki perlengkapan belajar daring yang memadai. Bahkan, di beberapa daerah masih ada yang kesulitan sinyal internet.
Kendala PJJ lainnya, Rhenald mengatakan, orang tua yang juga kesulitan mendampingi anak belajar dari rumah. Masih banyak orang tua yang harus tetap bekerja sehingga tidak bisa mendampingi anak belajar di rumah. Masalah lainnya adalah kepatuhan, di mana anak-anak lebih patuh pada guru ketimbang dibimbing oleh orang tua.
Selama pandemi Covid-19 ini, Diungkapkan Rhenald anak-anak yang menjalankan belajar dari rumah mengalami kesulitan belajar karena tidak dapat mengukur dirinya sendiri. Hal ini karena tidak ada teman sebaya di rumah dan kehilangan suasana sekolah.
Untuk melewati cobaan ini, Rhenald mengajak semua pihak untuk memiliki komitmen, konsistensi, dan kesulitan. Menurut Rhenald, komitmen penting untuk perubahan masa depan adalah konsistensi.
"Komitmen dan konsistensi untuk menyelesaikan. Ibaratnya kuliah, tidak ada komitmen dan konsisten, tidak sampai skripsi dan wisuda," kata Rhenald pada seminar daring berseri dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2020, yang diselenggarakan oleh PGRI bertajuk Self Driving for Teacher, Sabtu (2/5/2020).
Rhenald juga menuturkan, kesulitan yang dihadapi saat ini dipandang sebagai energi.
"Dulu di dunia ini, di negara maju sekalipun, kita melihat banyak sekali yang tidak punya akses ke protein. Kemudian berpikir, akhirnya diciptakan peanut butter. Selai dari kacang ini diciptakan untuk memenuhi protein. Sama dengan cokelat, itu dulu makanan raja-raja, kemudian dibuat nuttela. Jadi kita perlu ada kesulitan. Saat kita sulit, rasanya semangat semakin berapi-api," paparnya.
Dalam hal ini, para guru yang cemas karena gagap teknologi (gaptek) akan terbiasa dengan situasi seperti ini dan menjadi mahir. Pasalnya, situasi sekarang memaksa semua orang berubah penuh warna, aktif, partisipatif, kreatif, dan menyenangkan. Untuk itu, Rhenald mengimbau, orang tua, guru, dan siswa tidak menyerah, atau merasa terbelenggu dengan situasi pandemi Covid-19.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




