Rontal 25: Dinamika Islam Di Jawa Dan Konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar

Minggu, 29 Juli 2012 | 21:36 WIB
DS
B
Penulis: Damar Shashangka | Editor: B1
Cerita bersambung konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar karya Damar Shashangka. Terbit setiap hari di Beritasatu.com selama Ramadan 1433
Cerita bersambung konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar karya Damar Shashangka. Terbit setiap hari di Beritasatu.com selama Ramadan 1433 (Beritasatu.com)
Menginjak pelataran dalêm pribadi tersebut, seorang santri sepuh, Ki Bisana, telah menyambut mereka. Tiga utusan Giri kembali memberikan sembah.

“Salamualaikum!”

Nampak Ki Bisana membalas sembah sembari menjawab salam.

“Alaikumsalam. Silakan langsung masuk, kisanak!”

Ketiganya segera masuk ke dalam.

Di dalam, tengah menanti sesosok yang usianya sudah sepuh. Bersila di atas tikar rotan. Wajahnya terlihat teduh dan bersih. Mengenakan jubah merah dengan sorban yang berwarna serupa. Sebilah keris terselip di depan perutnya. Inilah Syeh Abdul Jalil, inilah Kangjêng Syeh Lemah Abang yang sangat kesohor itu!

“Kami menghadap Kangjêng Syeh. Salamu'alaikum!”

Sosok yang tengah duduk bersila itu mengangguk.

“Alaikumsalam. Silakan duduk, kisanak.”

Tiga utusan Giri merasa segan. Mereka segera duduk bersila dalam posisi berderet memanjang dengan gerakan kaku.

“Ampun beribu ampun, Kangjêng,” salah seorang utusan membuka suara sembari menghaturkan sembah sejenak,”Kami bertiga datang dari Giri Kêdhaton, kami caraka Kangjêng Susuhunan Giri Kêdhaton. Untuk menghaturkan nawala ini, Kangjêng!”
Santri tersebut nampak meraih sebuah bumbungan yang dia ikatkan di pinggangnya. Sebuah bumbungan yang dibungkus kain berwarna putih. Dan bumbungan itu kini dihaturkan dengan kedua tangan kehadapan Syeh Lêmah Abang.

Syeh Lêmah Abang menerima bumbungan itu. Kemudian membuka kain pembungkusnya. Dan penutup bumbungan di buka pula. Dikeluarkannya selembar rontal dari dalam bumbungan.

Rontal yang tertoreh aksara Arab di atasnya segera dibaca oleh Syeh Lêmah Abang.
Seusai membaca guratan di atas rontal, guratan berbahasa Jawa dengan aksara Arab, Syeh Lêmah Abang tersenyum. Di susul, terdengar helaan nafas lembut darinya.

“Aku telah memahami isi nawala dari Kangjêng Susuhunan Giri.”

Nampak, rontal dimasukkan kedalam bumbungan kembali.

“Dengankan jawabanku wahai kalian santri Giri. Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu. Man ‘arafa Rabbahu, faqad jahila nafsahu (Barangsiapa yang mengetahui pribadinya yang sejati, sungguh dia telah tahu Tuhannya. Barangsiapa yang tahu akan Tuhannya, sungguh telah jahil pribadinya).”

Keadaan seketika hening.

“Syeh Lêmah Abang tidak ada. Syeh Lêmah Abang tidak pernah mengada. Yang kalian lihat ini tak lain adalah Pangeran Sêjati (Tuhan yang sesungguhnya)!”

Terkejut ketiga santri Giri mendengarnya.

“Sampaikan kepada Kangjêng Susuhunan Giri. Jika beliau memanggil Syeh Lêmah Abang untuk menghadap ke Giri Kêdhaton, maka sungguh, ‘ainul yaqin (yakin yang sebenar-benar yakin), Syeh Lêmah Abang tidak ada! Yang ada adalah Ingsun. Ingsun Pangeran Sêjati ya Sêjatine Pangeran Mulya (Aku adalah Tuhan yang sesungguhnya, yaitu Sejati-jatinya Tuhan Yang Maha Mulia)!”

Tubuh ketiga santri Giri bagai disengat jutaan lebah. Mereka benar-benar terkejut luar biasa mendengar apa yang diucapankan oleh Syeh Lêmah Abang barusan. Di tengah keterkejutannya, salah seorang santri Giri memberikan sembah dan berkata dengan terbata-bata.

“Ampun Kangjêng Syeh, bagaimana bisa Kangjêng berpendapat demikian?”

Syeh Lêmah Abang tersenyum.

“Kalian hanya sekedar utusan. Sampaikan saja ucapanku kepada Kangjêng Susuhunan Giri Kêdhaton!”

Ketiga santri Giri kini dilanda kebingungan. Untuk sesaat mereka tertunduk dan tidak mampu berkata-kata. Pada detik selanjutnya, salah seorang dari mereka mengankat sembah kembali.

“Jika memang demikian, kami bertiga akan segera mohon undur, Kangjêng. Berkah dan restu Kangjêng Syeh kami harapkan.”

Syeh Lêmah Abang mengangguk.

“Semoga Allah melindungi kalian dan semoga Dia, Dzat Wajibul Wujud membimbing kalian!”
Tiga santri Giri mengangkat sembah untuk terakhir kali.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon