Rontal 27: Dinamika Islam Di Jawa Dan Konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar
Minggu, 29 Juli 2012 | 22:18 WIB
Gerakan tubuhnya begitu pelan dan hati-hati. Dan ketika seluruh tubuhnya sudah masuk ke dalam, Jangkung lantas mengeluarkan tangan kanannya untuk meraih kantong ayaman rotan yang masih tertinggal di luar. Begitu sudah diraih, segera dia tarik ke dalam. Jangkung kemudian bangkit berdiri berdiri sembari membawa katong itu di samping tubuhnya.
Namun, di belakang Jangkung, sepasang mata tengah mengawasi gerak-geriknya…
“Hei!”
Jangkung sedikit terkejut mendengar seruan itu. Dicarinya asal suara, dan dilihatnya di sana, di bawah pohon, telah berdiri Bangkal, salah seorang santri senior.
Jangkung memberikan sembah sejenak sambil tersenyum..
“Kang Bangkal…,” ucapnya lembut.
Bangkal tak bereaksi, berdiri kaku dengan sorot mata tajam.
“Darimana kamu?”
Jangkung tersenyum.
“Mencari lauk untuk makan, kang…”
“Apakah lauk yang disediakan Panti ini tidak mencukupi?”
“Oh, sangat mencukupi, kang. Cuma kadang saya ingin menikmati ikan sungai…”
Sosok yang berdiri di depan Jangkung, lantas menyorongkan tangan kanannya..
“Coba aku lihat..!”
“Apa yang hendak dilihat, kang?”
“Ikan sungai hasil tangkapanmu!”
Jangkung mengangguk. Kemudian menyerahkan kantong yang terbuat dari anyaman rotan. Kantong itu diterima Bangkal. Sejenak Bangkal mengamati isi kantongan tersebut. Dilihatnya ada beberapa ikan sungai yang masih bergerak-gerak di dalam sana. Wajah Bangkal terlihat dingin.
Kemudian, tanpa mengembalikan kantong tersebut, Bangkal berkata dengan suara datar…
“Lebih penting mana sebagai santri Kudus. Mencari ikan atau mengikuti pengajaran?”
Jangkung tak menjawab.
“Jawab pertanyaanku!”
Sergah Bangkal dengan nada yang mendadak keras.
“Bagi saya, kedua-duanya penting, kakang…”
Memerah wajah Bangkal mendapat jawaban seperti itu.
“Kamu meremehkan Panti Kudus! Kamu mempersamakan kemuliaan mengkaji kitab para auliya' dengan keremeh-temehan pencari ikan!” Bentak Bangkal seketika.
Namun melihat wajah Jangkung yang tetap tenang, amarah Bangkal kini memuncak.
“Aku akan menghadap Kangjêng Pangeran Kudus! Aku akan melaporkan kelakuan kamu yang tak patut ini!”
Bangkal melemparkan kantong anyaman rotan ke tanah. Beberapa ikan yang ada di dalamnya nampak tercecer keluar. Setelah itu, dia membalikkan badan dan melangkah menuju dalêm pribadi kediaman Kangjêng Susuhunan Kudus.
Jangkung tetap tenang. Kini dia berjongkok meraih kantong yang dibuang oleh Bangkal tadi. Beberapa ikan yang tercecer dimasukkannya ke dalam.
Namun, di belakang Jangkung, sepasang mata tengah mengawasi gerak-geriknya…
“Hei!”
Jangkung sedikit terkejut mendengar seruan itu. Dicarinya asal suara, dan dilihatnya di sana, di bawah pohon, telah berdiri Bangkal, salah seorang santri senior.
Jangkung memberikan sembah sejenak sambil tersenyum..
“Kang Bangkal…,” ucapnya lembut.
Bangkal tak bereaksi, berdiri kaku dengan sorot mata tajam.
“Darimana kamu?”
Jangkung tersenyum.
“Mencari lauk untuk makan, kang…”
“Apakah lauk yang disediakan Panti ini tidak mencukupi?”
“Oh, sangat mencukupi, kang. Cuma kadang saya ingin menikmati ikan sungai…”
Sosok yang berdiri di depan Jangkung, lantas menyorongkan tangan kanannya..
“Coba aku lihat..!”
“Apa yang hendak dilihat, kang?”
“Ikan sungai hasil tangkapanmu!”
Jangkung mengangguk. Kemudian menyerahkan kantong yang terbuat dari anyaman rotan. Kantong itu diterima Bangkal. Sejenak Bangkal mengamati isi kantongan tersebut. Dilihatnya ada beberapa ikan sungai yang masih bergerak-gerak di dalam sana. Wajah Bangkal terlihat dingin.
Kemudian, tanpa mengembalikan kantong tersebut, Bangkal berkata dengan suara datar…
“Lebih penting mana sebagai santri Kudus. Mencari ikan atau mengikuti pengajaran?”
Jangkung tak menjawab.
“Jawab pertanyaanku!”
Sergah Bangkal dengan nada yang mendadak keras.
“Bagi saya, kedua-duanya penting, kakang…”
Memerah wajah Bangkal mendapat jawaban seperti itu.
“Kamu meremehkan Panti Kudus! Kamu mempersamakan kemuliaan mengkaji kitab para auliya' dengan keremeh-temehan pencari ikan!” Bentak Bangkal seketika.
Namun melihat wajah Jangkung yang tetap tenang, amarah Bangkal kini memuncak.
“Aku akan menghadap Kangjêng Pangeran Kudus! Aku akan melaporkan kelakuan kamu yang tak patut ini!”
Bangkal melemparkan kantong anyaman rotan ke tanah. Beberapa ikan yang ada di dalamnya nampak tercecer keluar. Setelah itu, dia membalikkan badan dan melangkah menuju dalêm pribadi kediaman Kangjêng Susuhunan Kudus.
Jangkung tetap tenang. Kini dia berjongkok meraih kantong yang dibuang oleh Bangkal tadi. Beberapa ikan yang tercecer dimasukkannya ke dalam.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
INTERNASIONAL
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




