Rontal 29: Dinamika Islam Di Jawa Dan Konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar
Minggu, 29 Juli 2012 | 22:27 WIB
Melihat teman-temannya kini bertengkar sendiri, Jangkung segera bergerak melangkahkan kaki keluar dari dapur. Begitu Jangkung berjalan keluar, dua santri yang tengah bertengkah seketika terdiam. Mata mereka mengawasi sosok pemuda yang kini, menurut mereka, tengah dalam posisi mengkhawatirkan.
Baru saja tubuh Jangkung keluar dari dapur, dari arah berlawanan, nampak sosok Bangkal tengah berjalan kearahnya. Wajah Bangkal terlihat keruh dan tak satupun senyum tergambar di bibirnya. Kehadiran Bangkal membuat seluruh santri yang ada di dapur tercekat. Mati kau Jangkung! Bisik hati mereka!
Dan disatu titik, keduanya, baik Jangkung maupun Bangkal, menghentikan langkah kakinya. Kini, para santri melihat, Jangkung telah berhadap-hadapan dengan Bangkal.
“Jangkung!” Seru Bangkal lantang.
Jangkung memberikan sembah dada.
“Kangjêng Pangeran Kudus memanggilmu!”
“Saya akan segera menghadap, kang!”
“Berdoalah kamu tidak mendapatkan hukuman berat!”
Jangkung tersenyum.
“Lillahi ta'ala. Beratpun akan saya jalani!”
Bangkal mendelik mendengar kata-kata Jangkung. Ucapan itu terdengar bagai kalimat tantangan!
“Bocah bajang tak tahu diri!”
Jangkung memberikan sembah.
“Cepat menuju pendhopo! Kangjêng Pangeran Kudus menantimu di sana!”
Bangkal sengaja menekan kata ‘pendhopo' saat mengucapkannya. Maksudnya jelas untuk membuat Jangkung terkejut. Namun ternyata, tak ada perubahan dari wajah pemuda tersebut. Bangkal benar-benar geram!
Segera dia membalikkan tubuhnya tanpa berkata-kata lagi.
Dan Jangkung, dengan tenang melangkahkan kakinya menuju pendhopo. Di belakangnya, teman-temannya mengikut, walau dengan menjaga jarak. Wajah-wajah mereka menampakkan ketegangan luar biasa. Masing-masing, menebak-nebak nasib yang sebentar lagi menimpa temannya itu.
Baru saja tubuh Jangkung keluar dari dapur, dari arah berlawanan, nampak sosok Bangkal tengah berjalan kearahnya. Wajah Bangkal terlihat keruh dan tak satupun senyum tergambar di bibirnya. Kehadiran Bangkal membuat seluruh santri yang ada di dapur tercekat. Mati kau Jangkung! Bisik hati mereka!
Dan disatu titik, keduanya, baik Jangkung maupun Bangkal, menghentikan langkah kakinya. Kini, para santri melihat, Jangkung telah berhadap-hadapan dengan Bangkal.
“Jangkung!” Seru Bangkal lantang.
Jangkung memberikan sembah dada.
“Kangjêng Pangeran Kudus memanggilmu!”
“Saya akan segera menghadap, kang!”
“Berdoalah kamu tidak mendapatkan hukuman berat!”
Jangkung tersenyum.
“Lillahi ta'ala. Beratpun akan saya jalani!”
Bangkal mendelik mendengar kata-kata Jangkung. Ucapan itu terdengar bagai kalimat tantangan!
“Bocah bajang tak tahu diri!”
Jangkung memberikan sembah.
“Cepat menuju pendhopo! Kangjêng Pangeran Kudus menantimu di sana!”
Bangkal sengaja menekan kata ‘pendhopo' saat mengucapkannya. Maksudnya jelas untuk membuat Jangkung terkejut. Namun ternyata, tak ada perubahan dari wajah pemuda tersebut. Bangkal benar-benar geram!
Segera dia membalikkan tubuhnya tanpa berkata-kata lagi.
Dan Jangkung, dengan tenang melangkahkan kakinya menuju pendhopo. Di belakangnya, teman-temannya mengikut, walau dengan menjaga jarak. Wajah-wajah mereka menampakkan ketegangan luar biasa. Masing-masing, menebak-nebak nasib yang sebentar lagi menimpa temannya itu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
INTERNASIONAL
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




