Rontal 30: Dinamika Islam Di Jawa Dan Konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar
Senin, 30 Juli 2012 | 12:01 WIB
Di pendhopo, nampak telah banyak hadir para santri sepuh. Mereka duduk bersila dengan wajah tertunduk. Semuanya menghadap ke arah yang sama. Menghadap kepada seorang lelaki yang masih muda, berusia sekitar duapuluh sembilan tahunan.
Namun karena tubuh tegapnya di tambah wajah yang keras dengan bulu janggut yang sengaja dibiarkan memanjang, menjadikan sosok muda ini kelihatan lebih tua daripada umurnya. Jubah putihnya tergerai di lantai pendhopo saat dia duduk bersila. Sorban putih yang melingkari kepalanya, membentuk sisa kain yang panjang dan kain itu jatuh di pundak kanannya.
Sosok muda ini adalah Senopati Agung Dêmak Bintara. Dialah pemilik Panti Kudus. Dialah yang telah menggantikan Senopati Agung Dêmak Bintara Susuhunan Ngudung, ayahnya sendiri, yang gugur saat penyerangan ke Majapahit pada usianya yang masih empat belas tahun!
Saat posisi pasukan Dêmak terpukul hebat oleh pasukan Majapahit. Saat seluruh pasukan kelimpungan kehilangan Senopatinya, para pendamping Senopati segera menunjuk Ja'far Shadiq untuk mengambil alih pimpinan. Ja'far Shadiq, yang ikut dalam peperangan dan belum genap lima belas tahun umurnya, dengan kenekadan luar biasa, menggantikan ayahnya yang gugur di medan laga!
Pasukan Dêmak yang semenjak keberangkatannya dari Dêmak Bintara memang sudah berniat mati syahid, begitu melihat putra Susuhunan Ngudung yang mengambil alih pimpinan, seketika bangkit kembali semangatnya! Dan tanpa berfikir panjang, mereka segera maju kembali merangsak ke medan laga! Diiringi gema takbir bersahut-sahutan, mereka seperti sudah kehilangan akal warasnya dan terus maju dengan kenekadan luar biasa! Rasa takut sudah tidak mereka kenal lagi!
Kenekadan mereka harus dibayar mahal! Banyak pasukan garis depan segera saja bergelimpangan bermandi darah karena pukulan pasukan Majapahit! Namun pasukan yang ada di belakang terus berdatangan menggantikannya! Begitu pasukan yang menggantikan bergelimpangan bermandi darah, pasukan yang ada di belakang lagi, kembali maju tanpa mengenal jera! Begitu susul menyusul!
Kalau saja, tidak datang pasukan bantuan dari Palembang, sepertinya Dêmak tidak akan bisa bertahan dengan menggunakan cara bertempur seperti itu. Beberapa ratus pasukan Palembang, mendarat di pelabuhan Ujung Galuh (Sekitar Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sekarang).
Mereka datang sembari membawa beberapa puluh bêdhil gêdhe (meriam China, Cet Bang). Kedatangan pasukan Palembang disambut dengan gembira oleh pasukan Majapahit. Pasukan besar itu segera menggabungkan diri dalam kesatuan-kesatuan pasukan Majapahit.
Namun ternyata, pasukan Palembang berlaku licik. Diam-diam, mereka membakari gudang-gudang beras cadangan makanan bagi pasukan Majapahit. Karuan saja, pasukan Majapahit kekurangan pasokan makanan! Pasukan Palembang ternyata berlaku seperti tikus. Diam-diam, secara sembunyi-sembunyi, menggerogoti kekuatan Majapahit dari dalam!
Namun karena tubuh tegapnya di tambah wajah yang keras dengan bulu janggut yang sengaja dibiarkan memanjang, menjadikan sosok muda ini kelihatan lebih tua daripada umurnya. Jubah putihnya tergerai di lantai pendhopo saat dia duduk bersila. Sorban putih yang melingkari kepalanya, membentuk sisa kain yang panjang dan kain itu jatuh di pundak kanannya.
Sosok muda ini adalah Senopati Agung Dêmak Bintara. Dialah pemilik Panti Kudus. Dialah yang telah menggantikan Senopati Agung Dêmak Bintara Susuhunan Ngudung, ayahnya sendiri, yang gugur saat penyerangan ke Majapahit pada usianya yang masih empat belas tahun!
Saat posisi pasukan Dêmak terpukul hebat oleh pasukan Majapahit. Saat seluruh pasukan kelimpungan kehilangan Senopatinya, para pendamping Senopati segera menunjuk Ja'far Shadiq untuk mengambil alih pimpinan. Ja'far Shadiq, yang ikut dalam peperangan dan belum genap lima belas tahun umurnya, dengan kenekadan luar biasa, menggantikan ayahnya yang gugur di medan laga!
Pasukan Dêmak yang semenjak keberangkatannya dari Dêmak Bintara memang sudah berniat mati syahid, begitu melihat putra Susuhunan Ngudung yang mengambil alih pimpinan, seketika bangkit kembali semangatnya! Dan tanpa berfikir panjang, mereka segera maju kembali merangsak ke medan laga! Diiringi gema takbir bersahut-sahutan, mereka seperti sudah kehilangan akal warasnya dan terus maju dengan kenekadan luar biasa! Rasa takut sudah tidak mereka kenal lagi!
Kenekadan mereka harus dibayar mahal! Banyak pasukan garis depan segera saja bergelimpangan bermandi darah karena pukulan pasukan Majapahit! Namun pasukan yang ada di belakang terus berdatangan menggantikannya! Begitu pasukan yang menggantikan bergelimpangan bermandi darah, pasukan yang ada di belakang lagi, kembali maju tanpa mengenal jera! Begitu susul menyusul!
Kalau saja, tidak datang pasukan bantuan dari Palembang, sepertinya Dêmak tidak akan bisa bertahan dengan menggunakan cara bertempur seperti itu. Beberapa ratus pasukan Palembang, mendarat di pelabuhan Ujung Galuh (Sekitar Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sekarang).
Mereka datang sembari membawa beberapa puluh bêdhil gêdhe (meriam China, Cet Bang). Kedatangan pasukan Palembang disambut dengan gembira oleh pasukan Majapahit. Pasukan besar itu segera menggabungkan diri dalam kesatuan-kesatuan pasukan Majapahit.
Namun ternyata, pasukan Palembang berlaku licik. Diam-diam, mereka membakari gudang-gudang beras cadangan makanan bagi pasukan Majapahit. Karuan saja, pasukan Majapahit kekurangan pasokan makanan! Pasukan Palembang ternyata berlaku seperti tikus. Diam-diam, secara sembunyi-sembunyi, menggerogoti kekuatan Majapahit dari dalam!
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




