Menteri LHK:

Prodi Environmental Diplomacy Penting Atasi Hegemoni Ilmiah Ilmu Lingkungan dan Kehutanan

Minggu, 14 Juni 2020 | 20:08 WIB
JM
JM
Penulis: Jeis Montesori | Editor: JEM
Halalbihalal secara online yang diselenggarakan Himpunan Alumni Program Studi Lingkungan (HA PSL)  IPB dan Program Studi (PS) S2/S3 PSL IPB dan Ecologica untuk mahasisa S2-S3 PSL IPB, Sabtu, 13 Juni 2020. Menteri Lingkungan hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya memberikan sambutan pada halalbihalal tersebut.
Halalbihalal secara online yang diselenggarakan Himpunan Alumni Program Studi Lingkungan (HA PSL) IPB dan Program Studi (PS) S2/S3 PSL IPB dan Ecologica untuk mahasisa S2-S3 PSL IPB, Sabtu, 13 Juni 2020. Menteri Lingkungan hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya memberikan sambutan pada halalbihalal tersebut. (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menegaskan pentingnya pengembangan Program Studi (Prodi) Environmental Diplomacy seperti diutarakan rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) dan telah dibahas oleh IPB dan Universitas Indonesia (UI) untuk pengembangannya. Hal tersebut, kata Siti Nurbaya, sangat penting agar kita terhindar dari perilaku hegemonial atas sumber daya alam dan lingkungan yang dapat mengancam keilmuan.

"Karena ciri hegemoni itu juga seolah akan dibawa kepada perspektif ilmiah seperti terkait metodologi, definisi dan batasan ilmiah tentang hutan, hutan primer, deforestasi dan sebagainya. Tidak ada kebenaran yang mendua. Seharusnya pendidikan, teknologi dan lingkungan adalah subjek yang netral, bukan subjek yang mengandung polaritas politik," ujar Siti Nurbaya ketika memberikan sambutan pada acara halalbihalal online yang diselenggarakan Himpunan Alumni Program Studi Lingkungan (HA PSL) IPB dan Program Studi (PS) S2/S3 PSL IPB, dan Ecologica untuk mahasisa S2-S3 PSL IPB, Sabtu (13/6/2020)

Hadir dalam halalbihahal yakni Rektor Universitas Tirtayasa Fatah Sulaiman, Rektor IPB Arif Satria, Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah, para dosen, alumni se-Indonesia, dan mahasiswa S2/S3 PSL.

Siti Nurbaya menyambut baik, sangat mendukung serta akan turut memfasilitasi peminatan studi environmental diplomacy. Bidang ini perlu segera dibuka di PSL IPB dan bersama UI sesuai rencana rektor IPB karena kuatnya indikasi hegemonial untuk mengontrol Indonesia yang kaya akan sumber daya alam dan lingkungan yang harus dapat diatasi dengan baik.

Menteri Siti menyatakan, persoalan dan masalah kebakaran hutan (karhutla), metode ilmiah analisis iklim dan karhutla serta metode analisis deforestasi adalah yang utama saat ini sedang dalam "pertarungan" hegemonial ilmiah itu.

Isu lain yang penting untuk diantisipasi adalah persoalan carbon pricing dan natural kapital. Dengan gambaran itu Siti Nurbaya menyatakan dukungan penuh kepada IPB dan UI untuk penyiapan program-program studi yang relevan menjawab masalah yg sedang dihadapi Indonesia.

"Perjuangan kita menjaga lingkungan dan sumber daya alam dengan segala relevansinya itu, pada dasarnya adalah mandat mulia Pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap tumpah darah dan bangsa Indonesia," kata Siti Nurbaya.

Secara khusus Siti Nurbaya juga menyoroti soal pandemi Covid-19 yang dikelola dengan langkah-langkah pemerintah bersama masyarakat pada aspek lingkungan menegaskan pentingnya aktualisasi tata kelola atau governance aspek lingkungan atau environmental governance.

"Artinya keterbukaan dan ketertiban dalam praktek, aturan pokok (rule base) dan hal-hal yang harus secara luas diketahui, dipahami dan dilaksanakan oleh penyelenggara negara dan oleh masyarakat. Hal ini semakin diperlukan pada konteks misalnya RUU Cipta Kerja dengan orientasi kemudahan berusaha dan penyederhanaan izin lingkungan," ujar Siti Nurbaya.

Siti Nurbaya juga menyebutkan persoalan lingkungan kini telah semakin nyata masuk dalam perspektif politik ketimbang hanya soal teknis pencemaran, misalnya . Juga telah sama pentingnya dengan kepentingan ekonomi dan politik sebagaimana dulu di masa kuliah didiskusikan.

Disebutkan, sejak tahun 2017-2018, pengelolaan lingkungan hidup (penanganan bencana alam dan pengendalian perubahan iklim) sudah masuk atau menjadi mainstream pembangunan nasional sebagaimana di formalkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan.

"Hal ini sangat berarti, setara dengan mainstream gender dan penurunan angka kemiskinan," kata Siti Nurbaya.

Dari halalbihalal webinar ini selanjutnya akan dilaksanakan beberapa kegiatan yang mendukung seperti workshops dan FGD penyiapan program studi, juga tentang penguatan aktualisasi environmental governance, pemantapan daya dukung dan daya tampung untuk tujuan pembangunan tertentu serta persoalan metodis dalam hal deforestasi, karhutla dan karbon.
apresiasi kegiatan HA PSL IPB dan Ecologica.

Ketua Umum HA PSL IPB Soeryo Adiwibowo, Ketua Program Studi S2 PSL Hadi Susilo, dan Ketua Program Studi S3 PSL Widiatmaka menyampaikan apresiasi atas berbagai kegiatan HA PSL IPB dan Ecologica. Seperti kegiatan webinar series, halalbihalal online, dan pengumpulan donasi bagi mahasiswa PSL yang trdampak pandemi Covid-19.

Termasuk penyelenggaraan seminar internasional yang telah menghasilkan sekitar 130 publikasi internasional, sehingga dengan capaian tersebut PSL juga berkontribusi membantu IPB meningkatkan peringkat di kancah
internasional.

Pada kesempatan itu, Rektor IPB Arif Satria menegaskan bahwa pandemi Covid-19 membawa pelajaran penting. Pertama, pola adaptasi ekologi masyarakat atau peradaban dunia harus berubah. Kedua, manusia tidak dapat menyombongkan keilmuannya. Ilmu pengetahuan yang dimiliki ternyata belum mampu mengatasi virus yang sedemikian kecil dan tidak kasat mata.

"Pandemi Covid-19 yang berakar dari perubahan lingkungan secara tidak langsung menempatkan PSL semakin memiliki peran yang signifikan, baik pada tataran perilaku, komunitas, maupun hingga kebijakan internasional," kata Arief.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon