Rontal 49: Dinamika Islam Di Jawa Dan Konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar

Senin, 6 Agustus 2012 | 18:07 WIB
DS
B
Penulis: Damar Shashangka | Editor: B1
Cerita bersambung konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar karya Damar Shashangka. Terbit setiap hari di Beritasatu.com selama Ramadan 1433
Cerita bersambung konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar karya Damar Shashangka. Terbit setiap hari di Beritasatu.com selama Ramadan 1433 (Beritasatu.com)
Tubuh yang masih berdiri itu, yang tak lain adalah Ki Agêng Pêngging nampak berpikir keras. Namun semakin keras otaknya berpikir, semakin kebuntuan yang didapat.
   
“Dengarkan!”
   
Dua orang yang bersila, yang tak lain adalah Ken Wrêgola dan Panji Tugaran, memasang telinga mereka baik-baik.
   
“Lautan kini telah berubah! Dulu armada Majapahit merajai lautan Nusantara. Di mana ada tempat untuk mengembangkan layar, jung-jung Majapahit dipastikan ada disana!”
   
Angin semilir berhembus menerpa pendhopo itu.
   
“Angin barat maupun timur, tak lelah bercengkerama dengan umbul-umbul merah putih! Tak ada jung yang lebih besar lagi kecuali jung dari Jawa! Gelondongan kayu pilihan dari Sumbawa dan Lombok, menabalkan kekokohan jung Majapahit! Ditambah dengan bêdhil gêdhe, cet bang buatan Palembang menambahi keperkasaan prajurid Majapahit! Tak ada lagi yang paling ditakuti kecuali kehadiran jung-jung berumbul-umbul merah putih, umbul-umbul gula kelapa kita!”
   
“Tapi kini, jagad telah berubah! Orang-orang atas angin itu, yang suka mengenakan pakaian kedodoran bagai walang kadung, telah merajai lautan. Di mana-mana! Tidak di Nusantara, bahkan sampai ke tanah Jambhudwipa sana, mereka ada!”
   
“Kebesaran Majapahit dulu, kini merosot jauh. Lautan yangmerupakan kunci utama kebesaran kita, telah dikuasai. Lihatlah di sana! Carbon(Cirebon sekarang), Dêrmayu (Indramayu sekarang), Pêrgota (Semarang sekarang),Dêmak, Japara, Lasêm, Tuban, Pamotan (Lamongan sekarang), Tandhês (Gresiksekarang), Ujung Galuh (Surabaya sekarang), semua, semua telah mereka kuasai.Hanya pelabuhan Kalapa (Jakarta sekarang), Panarukan dan Ulupampang (Banyuwangisekarang) yang masih belum berubah!”
   
“Yang lebih parah lagi, kini telah berkembang dengan pesat, sebuah bandar besar yang ada di Hujung Mêdini (Semenanjung Malaya sekarang)! Bandar yang disebut Mêlaka! Yang merupakan Bandar milik kesultanan Mêlaka, kesultanan yang serupa dengan Bintara Dêmak, kesultanan yang dipenuhi ajaran orang atas angin dan yang memegang kunci selat antara Swarnabhumi (Sumatera sekarang) dan Hujung Mêdini! Kita telah terlipat dan tertekuk! Orang-orang atas angin ada di mana-mana, menggagahi titik-titik penting, menggenggam urat nadi Nusantara!”
   
“Nah, di manakah lagi kita meletakkan diri kecuali di pedalaman?”
   
Dua orang semakin tertunduk.
   
“Lantas apa yang bisa kita andalkan di pedalaman? Dan akan sanggup berdiri berapa lama ketika urat nadi kita terpotong sedemikian rupa?”
   
Kesunyian yang menyergap.
   
Hati berdebaran, resah, gundah.
   
Ki Agêng Pêngging meliuk. Duduk kembali di kursi kebesaran trah Pêngging. Kursi yang makin lama terasa makin dingin, tanpa semangat.
   
Bau asap kemenyan terbawa hembusan angin lalu. Seolah mengabarkan untuk terakhir kali, dirinya hadir di bumi Jawa. Bau kesturi akan menggantikan. Melumuri tanah dengan buih-buih asingnya, buih-buih dari tanah gersang sana. Menyisihkan asap kemenyan yang beribu-ribu tahun menemani udara pagi, siang dan sore hari. Menemani dengan penuh kesetiaan. Mengikat kasih antara para Dewa, leluhur, makhluk halus dan manusia Jawa.
   
“Gusti.”
   
Sembah terhatur dari sosok Panji Tugaran.
   
Ki Agêng Pêngging mengangkat tangan, isyarat agar segera angkat bicara.
   
“Apakah cukup yang harus kami haturkan kepada Pukulun Bathara ring Daha, pukulun?”
   
Sosok yang duduk di atas kursi, mengangguk tanpa semangat.
   
“Sampaikan kata-kataku tadi!”
   
“Kasinggihan dhawuh!”
   
Sembah terangkat.
   
“Sekarang, beristirahatlah kalian! Ambil satu dua hari di Pêngging ini. Karena aku tahu, kalian tidak akan menempuh perjalanan laut. Perjalanan darat lebih melelahkan!”
   
Ken Tugaran maupun Panji Wrêgola hampir bersamaan menghaturkan sembah.
   
“Restu pukulun Gusti hamba berdua harapkan!”
   
“Restuku menyertai kalian! Hyang Jagad Pramudita, para Dewa dan leluhur tanah Jawa akan melindungi kalian!”
   
“Hamba ikat di atas ubun-ubun kami. Akan menjadi pusaka bagi kami.”
   
“Hong awighnamastu!”
   
Dan untuk terakhir kali, Panji Tugaran dan Ken Wrêgola mengangkat sembah. Kemudian mohon undur diri.


Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon