Rontal 72: Dinamika Islam Di Jawa Dan Konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar
Selasa, 14 Agustus 2012 | 15:51 WIB
Susuhunan Kalijaga tersenyum mendengarnya. Akan halnya Syek Lêmah Abang sendiri terlihat mengangguk pelan tanpa satupun ekspresi yang tergurat diwajahnya.
“Wahai santri Giri…”
“Hamba, Kangjêng Syekh.”
“Bukankah kamu yang dulu datang ke Krêndhasawa dan bertemu denganku?”
“Singgih, Kangjêng Syekh.”
“Masih ingatkan apa kata-kataku waktu itu?”
“Hamba. Masih ingat sekali, Kangjêng Syekh!”
“Kamu bohong.”
Santri yang tengah ditanya nampak kebingungan.
“Hamba, Kangjêng Syekh. Semoga hamba dijauhkan dari sifat dusta.”
Syekh Lêmah Abang tersenyum.
“Bukankah aku telah berpesan kepada Susuhunan Giri melalui kalian, bahwa Syekh Lêmah Abang tidak ada disini?”
Tercekat santri yang mendengar. Sejenak dia memutar otak. Lantas dengan bibir sedikit bergetar, dia mengangkat sembah.
“Hamba. Kangjêng Raden Paku mengharap kehadiran…kehadiran Gusti Allah ke Giri Kêdhaton..”
Syekh Lêmah Abang tersenyum.
“Bagaimana bisa? Apakah Gusti Allah hanya ada di sini?”
“Ha..hamba.”
Syekh Lêmah Abang mendadak berasa kasihan melihat santri yang ada di hadapannya.
“Baiklah. Aku akan segera bertandang ke Giri Kêdhaton.”
Santri yang mendengar jawaban mendadak dari Syekh Lêmah Abang diam-diam bernafas lega.
“Terima kasih, Kanjêng. Tapi mohon hamba mendapatkan maaf.”
“Ya.”
“Kangjêng Raden Paku mengamanatkan kepada hamba berdua agar mengiringkan Kangjêng Syekh dari Carbon Girang sampai ke Tandhês.”
“Begitukah?”
“Hamba.”
Syekh Lêmah Abang tersenyum.
“Jangan khawatir, berangkatlah kalian dahulu.”
“Hamba, Kangjêng. Bukan berarti hamba meragukan kejujuran Kangjêng. Sungguhlah itu tak patut terlintas dalam pikiran hamba. Tapi hamba berdua akan mendapatkan murka jika kembali ke Giri Kêdhaton tanpa beserta Kangjêng Syekh.”
“Jangan khawatir. Haturkan kepada Susuhunan Giri, bahwa aku bersama Susuhunan Kalijaga disini. Dan Susuhunan Kalijaga yang menjadi saksi atas janjiku.”
“Hamba, Kangjêng. Jika demikian, hamba mohon undur hari ini juga. Mohon doa restu dari Kangjêng Syekh dan Kangjêng Susuhunan Kali.”
Syekh Lêmah Abang dan Susuhunan Kalijaga mengangguk.
“Gusti Allah beserta kalian!” Ucap Syekh Lêmah Abang.
Kedua santri memberikan sembah. Lantas mengucapkan salam sebelum kemudian undur diri dari dalam tajug.
Tinggal kini Susuhunan Kalijaga dan Syekh Lêmah Abang diam terpaku di tempat masing-masing.
“Semoga dengan jalan ini akan terjadi ishlah.” Gumam Susuhunan Kali.
Syekh Lêmah Abang tersenyum.
“Malah sebaliknya, anakmas Susuhunan.”
“Wahai santri Giri…”
“Hamba, Kangjêng Syekh.”
“Bukankah kamu yang dulu datang ke Krêndhasawa dan bertemu denganku?”
“Singgih, Kangjêng Syekh.”
“Masih ingatkan apa kata-kataku waktu itu?”
“Hamba. Masih ingat sekali, Kangjêng Syekh!”
“Kamu bohong.”
Santri yang tengah ditanya nampak kebingungan.
“Hamba, Kangjêng Syekh. Semoga hamba dijauhkan dari sifat dusta.”
Syekh Lêmah Abang tersenyum.
“Bukankah aku telah berpesan kepada Susuhunan Giri melalui kalian, bahwa Syekh Lêmah Abang tidak ada disini?”
Tercekat santri yang mendengar. Sejenak dia memutar otak. Lantas dengan bibir sedikit bergetar, dia mengangkat sembah.
“Hamba. Kangjêng Raden Paku mengharap kehadiran…kehadiran Gusti Allah ke Giri Kêdhaton..”
Syekh Lêmah Abang tersenyum.
“Bagaimana bisa? Apakah Gusti Allah hanya ada di sini?”
“Ha..hamba.”
Syekh Lêmah Abang mendadak berasa kasihan melihat santri yang ada di hadapannya.
“Baiklah. Aku akan segera bertandang ke Giri Kêdhaton.”
Santri yang mendengar jawaban mendadak dari Syekh Lêmah Abang diam-diam bernafas lega.
“Terima kasih, Kanjêng. Tapi mohon hamba mendapatkan maaf.”
“Ya.”
“Kangjêng Raden Paku mengamanatkan kepada hamba berdua agar mengiringkan Kangjêng Syekh dari Carbon Girang sampai ke Tandhês.”
“Begitukah?”
“Hamba.”
Syekh Lêmah Abang tersenyum.
“Jangan khawatir, berangkatlah kalian dahulu.”
“Hamba, Kangjêng. Bukan berarti hamba meragukan kejujuran Kangjêng. Sungguhlah itu tak patut terlintas dalam pikiran hamba. Tapi hamba berdua akan mendapatkan murka jika kembali ke Giri Kêdhaton tanpa beserta Kangjêng Syekh.”
“Jangan khawatir. Haturkan kepada Susuhunan Giri, bahwa aku bersama Susuhunan Kalijaga disini. Dan Susuhunan Kalijaga yang menjadi saksi atas janjiku.”
“Hamba, Kangjêng. Jika demikian, hamba mohon undur hari ini juga. Mohon doa restu dari Kangjêng Syekh dan Kangjêng Susuhunan Kali.”
Syekh Lêmah Abang dan Susuhunan Kalijaga mengangguk.
“Gusti Allah beserta kalian!” Ucap Syekh Lêmah Abang.
Kedua santri memberikan sembah. Lantas mengucapkan salam sebelum kemudian undur diri dari dalam tajug.
Tinggal kini Susuhunan Kalijaga dan Syekh Lêmah Abang diam terpaku di tempat masing-masing.
“Semoga dengan jalan ini akan terjadi ishlah.” Gumam Susuhunan Kali.
Syekh Lêmah Abang tersenyum.
“Malah sebaliknya, anakmas Susuhunan.”
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




