Ikatan Gus Gus Sesalkan Kontroversi Organisasi Penggerak di Internal NU

Jumat, 7 Agustus 2020 | 22:39 WIB
MB
B
Penulis: Maria Fatima Bona | Editor: B1
Ketua Ikatan Gus Gus Indonesia (IGGI), KH Dr Ahmad Fahrur Rozi
Ketua Ikatan Gus Gus Indonesia (IGGI), KH Dr Ahmad Fahrur Rozi (istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Ikatan Gus Gus Indonesia (IGGI), KH Dr Ahmad Fahrur Rozi, menyayangkan kontroversi di dalam lingkungan Nadhlatul Ulama (NU) terkait Program Organisasi Penggerak (POP). Kemarin, Kamis (6/8/2020), Ketua LP Maarif Nahdlatul Ulama (NU), Arifin Junaidi, menanggapi secara terbuka pertemuan Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf dengan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim.

"Gus Yahya adalah Katib Aam Syuriyah yang merupakan bagian dari struktur tertinggi dalam organisasi NU yang harus dihormati. Saya kira ketua lembaga seharusnya merapat dan tidak perlu ada pernyataan di media, karena lembaga Syuriyah itu memang pengambil kebijakan strategis di dalam organisasi NU," ujar Gus Fahrur dalam rilis yang diterima Suara Pembaruan, Jumat (7/8/2020).

Pengasuh Pesantren An Nur 1 Bululawang, Malang Jawa Timur ini menuturkan, penting bagi semua pengurus NU sesuai hierarki dan tingkatan untuk menjaga muruah syuriyah sebagai institusi tertinggi di lingkungan NU, baik secara jam'iyah dan jama'ah.

"Kalau ada masalah harus dibicarakan internal dan harus dilakukan tabayun. Untuk itu NU sudah punya mekanismenya,"ujarnya.

Gus Fahrur juga menyayangkan seandainya NU tidak ikut ambil bagian dalam POP yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Menurutnya, dalam situasi seperti saat ini, sekolah-sekolah NU sangat membutuhkan kerja sama dan bantuan semua pihak yang berkompeten, terutama dari pemerintah.

"Fakta di daerah masih sangat banyak lembaga pendidikan yang membutuhkan bantuan perbaikan sarana prasarana dan kebijakan strategis yang peduli terhadap kemajuan pendidikan masyarakat, khususnya sekolah swasta yang mungkin pola pemikirannya berbeda dengan elit di Jakarta. Ini termasuk sekolah di pesantren-pesantren yang perlu dukungan pemerintah," ujarnya.

Wakil Ketua PWNU Jawa Timur ini mengatakan, POP Kemdikbud harus diapresiasi sebagai salah satu bentuk niat baik pemerintah dalam penyelenggaraan program pendidikan, dengan melibatkan sebanyak mungkin pihak, termasuk organisasi keagamaan seperti NU.

"Memang perlu revisi dan perlu perbaikan, juga perlu ada saran serta kritik membangun untuk perbaikan. Itu saya lihat sudah nampak dari pernyataan Gus Yahya. Menterinya juga sudah memiliki kemauan untuk berbenah," ujar Gus Fahrur.

Menurut dia, mundurnya LP Ma'arif NU dari POP bukanlah solusi yang ideal di tengah situasi saat ini. Pasalnya, banyak sekolah-sekolah NU yang membutuhkan bantuan.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon