Ratusan Anak Perempuan dan Wanita Hilang di Peru

Sabtu, 8 Agustus 2020 | 08:48 WIB
UW
B
Penulis: Unggul Wirawan | Editor: B1
Seorang badut mengenakan masker wajah beratraksi di depan anak-anak di distrik Puente Piedra, di pinggiran utara Lima, Peru, Senin (3/8/2020), selama pandemi Covid-19.
Seorang badut mengenakan masker wajah beratraksi di depan anak-anak di distrik Puente Piedra, di pinggiran utara Lima, Peru, Senin (3/8/2020), selama pandemi Covid-19. (AFP/Ernesto BENAVIDES )

Peru, Beritasatu.com -  Lebih dari 900 perempuan dan anak perempuan hilang di Peru selama penguncian virus corona atau Covid-19. Pada Selasa (4/8/2020), pejabat setempat menyerukan pembentukan komisi orang yang terdaftar secara nasional.

Kasus ratusan anak perempuan dan wanita yang hilang di Peru dinilai cukup mengkhawatirkan.

Isabel Ortiz, seorang komisaris hak-hak perempuan di kantor Ombudsman Nasional,
mengatakan sebanyak 915 orang terdiri dari 606 anak perempuan dan 309 wanita, telah dilaporkan hilang sejak dimulainya penutupan pada 16 Maret hingga 30 Juni.

"Catatan harus disimpan untuk melacak mereka yang hilang, apakah mereka ditemukan hidup atau mati dan apakah mereka adalah korban perdagangan seks, kekerasan dalam rumah tangga atau feminisme," kata Ortiz di kantor Ombudsman Nasional, satu badan independen yang memantau hak asasi manusia Peru.

Lewat wawancara telepon, Ortiz mengatakan temuan angka-angka itu sangat mengkhawatirkan.

"Kami tahu jumlah perempuan dan anak perempuan yang hilang, tetapi kami tidak memiliki informasi terperinci tentang berapa banyak yang telah ditemukan. Kami tidak memiliki catatan yang tepat dan terbaru," katanya.

Tanpa jenis data yang dapat dikumpulkan oleh orang hilang nasional, sering kali tidak diketahui apa yang terjadi dari orang yang dilaporkan hilang dan apakah mereka ditemukan hidup atau mati.

"Sebagian perempuan itu bisa menjadi korban kejahatan dengan kekerasan seperti kekerasan dalam rumah tangga atau feminisme, pembunuhan yang berkaitan dengan gender seorang wanita oleh seorang pria. Dalam beberapa kasus, pelaku kejahatan justru yang melaporkan seorang wanita hilang," katanya.

Menurut Ortiz, pencatatan orang hilang nasional akan memungkinkan referensi silang informasi dengan kejahatan lain terhadap wanita untuk membantu menemukan orang hilang dan mengidentifikasi tersangka potensial.

"Kita perlu memiliki daftar yang tepat yang akan memungkinkan kita menghubungkan penghilangan perempuan dengan kejahatan lain seperti perdagangan manusia dan kekerasan seksual," kata Ortiz.

Pekan lalu, Kementerian Wanita Peru menyatakan 1.200 wanita dan gadis dilaporkan hilang selama pandemi dan merupakan angka yang lebih tinggi termasuk bulan Juli.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon